Adinda

Adinda
Chapter 9



DINDA POV


"Dinda, ayo kita berangkat," teriak Daniel dari luar kamarku membuat semua anganku tentang


malam kemarin hilang begitu saja.


"Ya sebentar aku sedang mencari sepatuku. Aku lupa taruh di mana," kataku mengacak seluruh


koperku. Beberapa menit mencari flat shoes yang kukira di dalam koper. Ternyata ada di bawah ranjang tidurku.


Setelah kutemukan benda itu, cepat aku keluar berlari ke arah pelataran rumah Daniel yang amat lega ini. Dia mendengus pelan namun tak lama tertawa lembut ke arahku.


"Kenapa?" Tanyaku saat dia tertawa mendadak melihat ke arahku yang sedang berusaha menarik seat belt.


"Apa kau selalu terburu-buru seperti ini?” tanyanya seraya merapikan dandananku.


“Berbaliklah!” perintahnya dan aku menurutinya. Daniel menarik ritsleting bajuku yang ternyata lupa aku tutup.


“Kau sengaja menggodaku, hemmm,” bisiknya di telingaku membuatku salah tingkah. Mungkin saat ini wajahku memerah, tapi aku senang karena dia begitu lembut dan sangat baik padaku. Aku sangat menyukainya dan berharap jika ada sesuatu yang terjadi padaku. Dia akan bertanggung jawab.


“Kau…, apakah kau lupa dengan kejadian-“


“Aku tidak mungkin melupakannya,” kata Daniel cepat dan aku tidak tahu harus mengatakan apapun lagi. Kalau dia tidak lupa, artinya bukan hanya aku saja yang menyadari bahwa semalam adalah hal terlarang yang tidak boleh kami ulangi lagi.


“Aku minta maaf, aku tahu itu salah dan tidak seharusnya aku membiarkanmu mabuk juga.” Normalnya, itu memang sebuah kesalahan, tapi bagiku, itu bukan kesalahan karena aku mencintainya.


Daniel melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah. Dengan sangat tenang dia membelah jalan raya yang


tampak sedikit macet.


“Kau akan ke mana?” tanyaku.


berhari-hari. Aku tidak tahu apapun tentangnya dan menunggunya sepanjang hari. Menyeramkan bukan?


“Kau akan pulang jam berapa? Apa kau ingin aku jemput?” tanyanya membuatku melirik ke arahnya. Apa dia sungguh akan menjemputku jika aku memintanya.


“Hahahaha, jangan pernah pasang wajah seperti itu, Sayang.”


Oh tidak! Take a deep breath please! What he said to me? “Sayang?” kataku dan dia tersenyum seraya menarik tengkukku dengan senyuman tak bersalah. Apa dia tidak tahu hatiku berdegup begitu kencang


karena dengar perkataannya.


“Kau ingin aku jemput jam berapa?” tanyanya lagi membuatku kembali pada dunia


nyataku.


“Mmmm mungkin jam 4 sore. Aku baru akan keluar jam segitu, karena akan mengerjakan


tugas di perpusatakaan.”


“Baiklah, aku akan segera menjemputmu,” katanya lalu menyalakan sebuah tip untuk membunuh


sebuah kesunyian yang nanti akan tercipta di antara kami.


Aku memperhatikannya dari samping kemudinya. Entah apa yang ada di dalam hatiku saat ini. Perasaan menyesal karena tak bisa menjaga diriku sendiri atau rasa menyesal karena memperbolehkannya untuk semakin membuatku jatuh cinta. Padahal aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya setelah malam itu terjadi. Jujur saja aku takut, tapi entah kenapa hatiku menguatkan rasa ketakutan. Seolah mengatakan kalau aku pasti akan mampu melewatinya.


Daniel, aku mencintaimu.


...................................................


Terima kasih sudah membaca ceritaku ^^