Adinda

Adinda
Chapter 5



DINDA POV


Aku memperhatikan rumah kosong milik Daniel. Sudah hampir pukul 10 malam dan Daniel belum juga pulang.


Kemana dia? Apa pekerjaannya sama sibuknya seperti Ayahnku lakukan, tapi bukankah semalam Daniel bilang dia seorang detektif. Oh ya seorang detektif akan kerja keras untuk clientnya dan Daniel bisa saja menyamar menjadi laki-laki bertopi hitam demi mengintai orang yang akan dia seret ke persidangan. Mengumpulkan bukti yang kuat untuk clientnya supaya terbebaskan dari tuduhan.


Aku mencoba mengerjapkan mataku. Rasanya sudah berat sekali setelah tadi sore aku membuat kue 2 loyang.


Yang satu untuk Fika bawa ke rumah dan 1 lagi untuk kami makan berdua, tapi sekarang aku sedang bergulat dengan tugasuku yang sudah hampir selesai.


Saat aku ingin menempelkan kepalaku ke atas meja tiba-tiba kudengar suara pintu terbanting. Itu pasti


Daniel. Dia pasti merasa kelelahan hingga pintu pun di banting. "Dinda!" teriak Daniel dari ruang depan membuatku yang setengah mengantuk berjalan ke ruang tamu.


"Dinda...," aku mengerjapkan mataku sejenak saat seseorang yang aku lihat seperti bukan Daniel.


Wajahnya lebam-lebam dan di pelipisnya ada darah segar yang mengalir ke bawah.


"Oh ya ampun Daniel! Kenapa bisa begini?!" aku mulai panik seraya membantu Daniel duduk ke atas sofa tamu. Wajahnya yang lebam menghilangkan efek ketampanan wajah Daniel yang tadi pagi aku lihat sebelum berangkat kuliah. Daniel mengerang saat aku berusaha melepas sepatunya dan nampaknya kakinya pun terkilir. Jadi dengan siapa tadi dia pulang.


"Di mana kotak P3K?"


"Ada di dalam laci meja di ruang TV," mendengar itu aku segera berlari ke arah ruang TV kemudian ke dapur untuk mengambil es batu berniat mengompres semua lebam lukanya.


Beberapa menit kemudian aku kembali. Aku mencoba menaikkan kaki Daniel ke atas meja tamu. Kemudian jas


yang membaluti tubuh bidang Daniel kucoba membukanya perlahan takut ada luka lain di tubuh Daniel dan benar saja Daniel meringis kesakitan. Aku pun membuka kemeja putihnya, memperlihatkan bagaimana otot-otot itu bersembunyi di balik kemeja putih Daniel.


Ku mulai membersihkan seluruh darah yang ada di wajah Daniel. Kemudian menempelkan sebuah potongan


"Kenapa bisa seperti ini?" tanyaku masih ada pertanyaan yang bermunculan di benakku meski Daniel tidak


sama sekali membahas apapun yang terjadi dengannya.


"Hanya sedikit kecelakaan," ungkapnya padaku seolah-olah aku ini anak kecil berumur 2 tahun.


Dengan kesalnya aku menekan bagian kaki yang terkilir membuat Daniel mengerang kesakitan. "Aku


mohon kau tidak perlu tanya mengapa aku begini," ungkapnya membuat aku merasa kecil di samping Daniel.


Ya, umur kami memang beda cukup jauh, tapi apa salahnya kalau aku tahu masalah orangtua sepertinya. Toh


aku sudah dewasa. Kenapa juga Daniel harus menutupinya. Meski kutahu, aku ini bukan siapa-siapa Daniel, tapi aku mempunyai rasa keingintahuan yang besar terhadap orang yang baru kukenal. Lagi pula Daniel tak memiliki siapa pun di dalam rumah ini. Dia membutuhkanku untuk membantunya, camkan!.


"Biar aku saja, kau harus istirahat. Terima kasih sudah membantuku," ungkapnya mengambil alih


perban yang sedang kupegang. Aku mengangguk pelan menyinggungkan senyumanku. Ada rasa kecewa di balik senyuman yang aku berikan pada Daniel. Entah kenapa perasaanku malam ini jadi campur aduk. Seperti memiliki perasaan kekecawaan yang mendalam tapi sulit untuk dikatakan.


"Aku masih ada tugas. Jika kau butuh apa-apa bisa panggil aku di ruang TV," ungkapku seraya berjalan meninggalkan Daniel yang mulai menyibukkan dirinya dengan perbannya.


Entah kenapa hatiku juga ikut sakit saat melihat keadaannya seperti ini. Apa akan sulit berbagi cerita


jika dia menganggapku orang lain meski kami baru bertemu.


.............................................