
DINDA POV
“Nikahi aku, atau aku akan katakan ini pada Ayah.” Begitu cepat bahkan aku sendiri tidak percaya kalau kata-kata itu akan meluncur begitu saja.
“A-apa?”
“Apa kau tuli! Aku ingin kau menikahiku!” kulihat Daniel mengerutkan alisnya. Dia mengepalkan tangannya seperti ingin marah, tapi di lain detiknya dia terlihat mulai menenangkan sendiri.
“Kenapa? Kenapa kau mengatakan itu?”
“Kau masih bertanya, huh? Apa semua pria akan berpura-pura tidak tahu setelah melakukannya. Apa hanya kau yang sedang menghilangkan ingatan malam kemarin?. Hahaha betapa mudahnya jadi seorang pria.”
“Aku tak pernah melakukannya dalam kesengajaan, Dinda. Kau tahu itu!”
“Lalu kau tidak mau menikahiku?” dia terdiam menatapku.
“Dinda,” dia menyentuh tanganku perlahan. Dia menatapku dengan lembut dan entah kenapa aku ingin sekali menangis. Menyuarakan hatiku dan ingin menenangkan diriku sendiri bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja. Semuanya pasti sesuai dengan bayanganku. Bayangan kebahagiaan di masa depan dengannya.
“Apa yang kau resahkan? Kemarilah,” dia memelukku dan menepuk pelan bahuku. Dia mengusapnya perlahan ingin menenangkanku, tapi itu tak membuahkan hasil. Aku malah semakin sesak dan ingin menangis sekeras mungkin.
“Aku takut hamil. Ayah pasti akan marah padaku, Daniel.” Kataku dan semakin membayangkan wajah Ayah yang mungkin akan sangat kecewa padaku. Aku sangat takut Ayah marah dan kecewa padaku. Padahal aku sudah bilang tidak akn mengecewakannya.
Daniel mulai melepas pelukannya dan menangkup wajahku. Dia megusap air mataku yang jatuh dan tersenyum lembut. “Aku yakin tidak akan ada apa-apa. Yakinlah. Jangan pernah takut Dinda. Aku ada di sini. Aku akan bertanggung jawab jika itu terjadi.”
“Sungguh, kau akan berjanji padaku bukan?”
Aku pun menarik tangannya dan menggenggamnya erat seolah ingin memohon .“Apa kau akan menikahiku jika aku hamil?”
Dia mengangguk pelan membuatku percaya bahwa dia pasti tidak akan melepaskan tanggung jawabnya.
“Bagaimana jika kau mulai mencoba mencintaiku, Daniel.” Aku lihat Daniel seakan memaku tak bergerak. Bahkan aku bisa merasakan tangannya yang tiba-tiba dngin digenggamanku. Dia menatapku tak pecaya seraya menelan salivanya sendiri. Apa itu begitu sulit? Apa mencintaiku adalah hal yang tersulit? Apakah dia tidak bisa melupakan mantannya itu? Kenapa dia begitu tak bisa meninggalkan masa lalunya.
“Ma-maksudmu?” tanyanya lagi masih dengan kekakuannya.
“Aku menyukaimu Daniel. Aku menyukaimu dan aku tidak mau perasaanku bertekuk sebelah tangan. Tolong bukalah hatimu untukku. Lupakanlah wanita itu. Berikan cintamu untukku,” dia melangkah mundur menatapku ngeri.
Dia melepas tanganku perlahan dan menggelengkan kepalanya seakan tak bisa menerima kata-kataku.
“Jika kau menikah denganku tanpa cinta, itu sama saja bohong Daniel! Kalau begitu lupakan saja! Lupakan tanggung jawabmu itu! Lupakan!” aku segera berlari meninggalkannya menuju kamar.
Apa dia tidak tahu betapa sakitnya aku saat dia menolakku. Hatiku terluka dan kenapa dia tidak bisa melupakan saja masa lalunya. Apa dia begitu mencintai wanita itu hingga tak mau mencoba mencintaiku.
***
Aku keluar dari kamar saat perutku sangat terasa sakit sekali. Semalaman aku menangis dan tidak bisa tidur. Kepalaku sangat pening saat tadi pagi aku bangun. Padahal aku baru bisaa memejamkan mata jam 2 dini hari, tapi apa daya karena perutku lapar. Aku pun keluar kamar menuju dapur.
Ada banyak sekali makanan di lemari pendingin , tapi tak ada yang membuatku tertarik. Aku malah ingin makan sandwich saja. Mungkin itu cukup untukku. Aku juga tidak ingin repot-repot menyiapkan makanan yang berat untuk Daniel. Ya..., meski semalam kami bertengkar, tapi aku masih menghormatinya. Dia sudah memberiku tumpangan dan memberiku makan. Jadi, aku juga harus tetap menyiapkan makanan untuknya.
Setelah menyiapkan semuanya. Aku pun mengambil posisiku. Kakiku mulai bergoyang di bawah meja makan dengan mata yang mengarah pada taman.