Adinda

Adinda
EPILOG



Aku menghentikan langkahku kembali saat melihat danau buatan ini. Danau yang Ayahku jadikan khusus untuk tempat aku bermain dulu saat ke tempat ini. Tak pernah sekalipun aku melupakan tempat ini. Meski ini sudah terlihat sangat kotor, tapi untuk tiga hari ini. Aku merasa kalau hatiku bisa merasa tenang dua kali lipat dibanding aku harus pulang. Setidaknya pikiran di otakku ini sudah tak  sepenuh saat awal aku datang ke tempat ini.


Aku melempar jauh batu yang kugenggam. Beberapa ikan berloncatan ke atas membuatku tak lupa membawa makanan untuk mereka. Aku pun mulai mengeluarkan bungkusan makanan ikan yang entah jenis apa karena air yang terlalu keruh sampai-sampai tak dapat kutebak, ikan apakah itu.


Bagiku tempat ini bukan saja kenangan saat aku mengingat Ayah dan juga saudaraku Veronica---Ibu Gilang. Di tempat ini juga, tempat di mana aku melamar Dinda, istriku. Aku melamarnya yang sedang mengandung Matt 3 bulan. Perutnya yang belum terlalu terlihat buncit waktu itu membuatku ingin segera menggelar pernikahan kami.


Dia tidak boleh terlalu terlihat gemuk dengan baju pengantinnya. Karena aku pikir, kami akan menemui banyak kolega dari kenalan rekan kerjaku dan juga rekan Ayahnya, karena itulah keputusanku saat itu sangat di luar pemikiran. Aku melamarnya dan setelahnya aku segera menyuruhnya untuk masuk ke dalam villa Bibi Hanna. Bibiku yang sudah terlihat renta tapi selalu memiliki kemampuan untuk mendesain itu sudah jauh hari aku minta untuk menyiapkan baju pernikahan kami.


......................................


Dinda memukuli tubuhku yang sedang khidmat dengan setiranku. Aku pun memintanya untuk tenang tapi dia tak kunjung tenang.


"Aku harus menyelesaikan skripsiku bodoh!" bentak Dinda padaku dan aku pun menghela nafasku kasar.


"Hanya sebentar saja, Sayang. Ini akan jadi hari yang terindah untuk kita berdua."


Dinda terlihat mengerucutkan bibirnya. "Hari terindah," dengusnya dan memberhentikan pukulannya terhadapku. Aku pun melirik ke arahnya dan tertawa pelan melihat ibu hamil yang sedang ngambek.


"Untuk seharian ini saja. Aku minta waktu luangmu. Aku tak akan menyia-nyiakan waktu ini, karena ini adalah hari yang kita tunggu-tunggu selama ini."


Ya selama baby yang dia kandung itu membutuhkan orangtua yang lengkap. Aku akan tanggung jawab dengan perlakuanku. Demi apapun itu, aku akan segera bertanggung jawab dan ini adalah hari yang tepat bagi kami.


Aku membuka pintu untuknya. Perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit dia pegangi pelan.


"Tempat apa ini?" tanyanya saat melihat hamparan tanaman yang indah dan ada sebuah danau buatan yang berukuran kecil hanya cukup di nikmati untuk siang hari.


"Ini rumah masa kecilku,”


"Rumah?" dia mengernyitkan alisnya dan memperhatikan ke sekelilingnya.


"Itu rumahmu?" dia menunjuk sebuah bilik yang nyaris seperti Villa. Rumah yang masih Bibiku tempati. Aku pun menganggukkan kepalaku.


"Iya dan ini adalah tempat favoritku," aku menuntunnya berjalan hati-hati mendekati kolam. Matanya terlihat berbinar saat melihat berbagai banyak ikan yang kami pelihara di sini. Dia tersenyum ke arahku dan mengelus perutnya.


"Papimu mengajak kita ke tempat yang indah, Nak. Suatu saat nanti kita akan datang kesini bersama," katanya seraya mengelus perutnya dan dengan senang hati aku menggenggam tangannya erat sekali.


"Ya Papi pasti akan ajak kamu dan Mami kesini lagi, atau mungkin saat kita sudah mempunyai kesebelasan. Papi akan buat danau sendiri untuk keluarga kita," aku dengar Dinda terkekeh dan memukul lenganku dengan keras. Wahhh ibu hamil memang menakutkan bukan?


"Kau ini memang aku ini kucing bisa lahir 11 anak. Yang ini saja belum kau tanggung jawabi bagaimana jika nanti aku-" kubungkam bibir Dinda dengan jariku. Dia nampak berhenti untuk berbicara.


"Aku membawamu ketempat ini karena memiliki alasan, Sayang." Ungkapku lantas mengajaknya duduk di pinggir danau buatan Ayahku. Danau yang masih terlihat indah sekali saat terakhir Ayah meninggalkan kami.


Dinda terlihat  melirikku. Dengan tatapan yang kebingungan dia duduk perlahan ke atas bangku besi yang sudah orang suruhanku cat dengan warna putih.


"Ada apa?" dia menyipitkan matanya saat aku berlutut di depannya.


"Aku mencintaimu Dinda. Aku mencintaimu." Aku lihat Dinda bergeming. Tak ada suara yang keluar dari bibirnya tapi pancaran di matanya membuatku bahagia. Matanya berlinang dan dia berusaha tak mengeluarkannya di depanku. Dia menengadah ke atas dan menghela nafasnya.


"Apa kau sungguh-sungguh? Apa kau sungguh akan menikahiku?" tanyanya dan aku menyodorkan sebuah cincin berlian yang sudah kupilihkan untuknya. Di jari manisnya ini pasti akan indah sekali.


"Untuk hari yang tak akan kau lupakan hingga akhir hayat. Aku selalu membuat hari ini menjadi hari yang paling bahagia untuk kita ber dua. Saat aku mengucapkan ini pada seorang wanita. Aku selalu berharap ini adalah yang pertama dan terakhir untukku, karena itu...,"


Aku tersenyum kearahnya. "Menikahlah denganku. Aku mohon!" tak kusangka dia terlalu cepat terharu. Bahkan untuk saat ini dia menangis terisak dengan rasa bahagianya yang tiba-tiba menarik tengkukku. Dia ******* bibirku lembut dan melepasnya. Menempelkan keningnya ke keningku dan terus menangis dengan sendu.


"Aku mau menikah denganmu Daniel", aku pun memeluknya. Memeluknya lekat-lekat dan mencium keningnya.


"Kita akan bahagia Dinda. Kau akan jadi ibu dari anak-anakku. Mari kita buat istana kecil yang indah sepajang hidup kita," aku rasakan dia yang mengangguk dan kini dia melepas pelukanku..


Aku tertawa sendiri mengingat kenangan terindah itu. Dinda yang membuncit dan aku selalu mengelus perutnya setiap aku berada di sisinya. Aku hanya ingin memberi interaksi yang baik untuk anak-anakku. Aku bahkan berharap anakku bisa lebih baik dari orantuanya. Aku harap mereka tak mengikuti jalan orangtuanya yang bejat ini.


Sudahlah! Sebaiknya aku menenangkan pikiranku dulu. Aku harus berhiatus sejenak untuk duniaku. Aku hanya manusia biasa yang ada saatnya merasa tertekan dan mencari-cari waktu yang tepat untuk duniaku sendiri saat aku merasa lelah. Mengesampingkan bebanku dan menyelam ke dalam larutan yang membuatku melupakan segalanya.


Aku pun melemparkan kembali makanan ikan tadi. Aku bahkan masih tertawa sendiri saat proses pemotretan pra-wedding itu dengan posesifnya Dinda memeluk tubuhku dari belakang. Membayangkan semua itu saja sudah membuatku terus berkhayal kalau dia sedang benar-benar memelukku. Dasar! Aku pasti merindukan Dinda yang dulu. Dinda yang masih mengingat semua kenangan kami.


"Maafkan aku."


"Maaafkan aku Daniel," tapi kali ini suaranya benar-benar nyata. Itu bukan ilusiku. Itu bukan khayalanku dan tangannya yang memeluk pinggangku erat dari belakang benar-benar sungguhan terjadi saat ini.


"Dinda!" pekikku membalikkan tubuhku dan menemukannya dengan mata sembap. Ada apa dengannya? Apa aku melakukan kesalahan fatal lagi terhadapnya.


"Maafkan aku,"suara Dinda tercekat dengan tangisannya.


Aku pun merengkuhnya ke dalam pelukanku. "Ada apa sayang?" kataku mengelus rambutnya perlahan dengan sangat lembut. Memberikan sebuah kehangatan yang aku ciptakan sendiri untuknya. "Kenapa kau bisa di sini?" tanyaku heran.


"Aku minta maaf karena pertengkaran kemarin kau pergi dari rumah," isaknya membuatku semakin merapatkan tubuh kami dan meciumi puncak kepalanya.


"Tidak, ini bukan karenamu. Aku hanya ingin menghilangkan penatku saja. Jangan membuat dirimu bersalah lagi, Sayang. Aku tak menyukai itu," dia meremas punggungku dari belakang. Menekan dadaku dan menangis sekuat yang dia mau.


Untuk beberpa saat aku membiarkannya dan membuatnya duduk ke tempat yang pernah aku jadikan tempat melamar dirinya. "Sudah. Apa yang ingin kau katakan padaku?" kataku menghentikan tangisannya dan menepuk pelan punggungnya agar tenag. Dia menjauhkan dirinya dari rengkuhanku. Matanya yang berair itu aku usap dengan sayang.


"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu", aku tersenyum mendengar pernyataannya yang indah keluar dari bibir tipisnya.


"Aku tak bisa hidup tanpamu, Daniel. Aku bisa gila kalau kau meninggalkanku," katanya lagi membuatku mengangguk lantas tersenyum simpul. Mungkin satu kata yang aku ingin katakan saat ini hanya "Bahagia".


Aku bahagia. Aku bahagia memilikinya.


"Jangan pernah meninggalkanku. Aku mohon!" pintanya dan tentu saja aku tak akan meninggalkannya. Dia sudah memberiku dua malaikat yang lucu. Aku mungkin saja tak bisa menjalani hidupku tanpa mereka.


"Daniel kenapa kau diam saja?" dia memukul dadaku dan kembali menumpukan kepalanya ke dadaku. Aku pun tersenyum kembali. Mengingat hari-hari yang sangat sulit bagi kami adalah rintangan yang paling besar untuk cerita kami. Cobaan yang terus menerjang mengatakan bahwa hidup tak semudah yang kita bayangkan. Saat kita memiliki planning yang amat sangat indah. Tuhan bisa saja berkata lain dan ini sudah saatnya aku merasakan kebahagiaan itu.


Aku memegang ke dua bahu Dinda dengan erat. Kutatap matanya sedalam yang aku bisa. Menyelam ketempat yang paling nyaman di dalam sangkar indah matanya yang kecoklatan.


"Aku hanya ingin kita bahagia. Hanya kita dan keluarga kecil kita. Tak bisakah kau hanya percaya padaku. Percayakan padaku apapun yang terjadi ke depannya, karena aku akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk keluargaku."


Dinda bergeming dan mengangguk pelan. "Aku akan percaya padamu asalkan kau tak berbohong padaku."


Siapapun tahu menjadi orang yang jujur itu sangat sulit. Berbicara kebohongan yang justru mudah di lakukan, tapi aku selalu berusaha berbohong untuk kebaikan kami semua.


"Baiklah aku akan berusaha jujur padamu seperi aku jujur pada diriku sendiri," kataku dan senyum itu mereka layakya bunga di pagi hari di tetesi embun yang menyejukkan hati siapa aja yang melihatnya.


"Dinda, aku mencintaimu," aku mencium bibirnya yang tipis itu. Menyecapnya, mengeksplor setiap inci di dalam sana dan menuntut balasan hingga kami tak peduli saat nafas kami saling bertaut menghilang entah kemana.


Surgaku adalah istriku, hanya istriku dan tetap istriku selamanya. Dinda melepas tautan kami dan aku menumpukan keningku ke keningnya. Nafas kami saling berburu satu sama lain. Senyuman kami beradu dan ada kebahagiaan yang terselip diantara kami ber dua. Selamanya, akan terus begitu.


Kuangkat tubuh Dinda. Dia memekik seraya melingkarkan tangannya ke leherku. “Kita mau kemana?” tanya Dinda.


Aku tersenyum ke arahnya. Dia nampak memicingkan matanya dan terkekeh sejenak.


“Aku sangat merindukanmu sayang. Kau sudah membuatku ingin mati rasanya.”


“Maaf,” ucap Dinda merasa bersalah, tapi aku langsung mengecup pipinya hingga Dinda menatap ke arahku dan tersenyum. Rasanya aku benar-benar merindukan istriku ini.


Aku pun berjalan menuju rumah Bibi Hana. Cepat, aku menuju ke arah kamar dan membaringkan Dinda di sana. Tanpa menunggu detik lainnya. Aku segera menautkan bibir kami dan perlahan aku kembali merasakan rasa manis lainnya dari senyuman Dinda yang bisa membunuhku. Sejenak kami saling menatap, saling tersenyum dan saling melepaskan kerinduan kami di dalam kamar ini.


.........................................


END


Thank u so much for all^^ Jujur aja cerita ini sempat give up mau aku publish, tapi karena udah terlanjur, jadi aku pikir yaudahlah aku publish semuanya. Toh, cerita ini memang udah selesai di dokumenku. Karya ini udah aku tulis dari 2017. Well, meskipun banyak kekurangannya, tapi inilah karyaku. Akan terus aku jadikan pembelajaran ke depannya. Terima kasih dukungan kalian^^ 


 


 


JANGAN LUPA BACA KARYAKU YANG LAINNYA YA^^ DITUNGGU LIKE DAN KOMENNYA^^