
PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Dinda POV
Aku merapikan rumahku dari atas hingga ke bawah. Merasa tak nyaman kalau rumah ini ditinggali oleh dua orang pria yang sangat malas. Aku pikir mereka bisa jaga rumah mewah ini tanpaku, tapi nyatanya mereka memang sangat malas. Mungkin karena itu anak-anakku dititipkan pada orang lain. Ya termasuk Cleo yang katanya sejak lahir sudah diurus dengan Clara.
Bicara tentang Clara. Sudah 3 hari ini Daniel tidak pulang. Entah apa yang aku pikirkan hanya saja aku takut kalau dia berpaling dariku. Aku takut dan rasa ketakutan itu membuatku tiada hentinya memikirkan dirinya yang entah di mana.
Apa mungkin dia bersama Clara. Apa mungkin dia...,
"Mami...," aku dengar suara anakku sudah pulang sekolah. Aku pun keluar dari kamar menutup kamarku yang sudah tertata rapi.
Matt lari kearahku dan mencium pipiku lembut. "Bagaimana hari ini?" tanyaku. Seketika itupula wajahnya berubah. Seperti ada raut wajah kesedihan yang tercetak di wajah lucunya.
"Aku bertengkar dengan anak-anak yang menyudutkan Seoul." Seoul? Anak yang kata Fika sudah tidak memiliki Ayah dan Ibu itu.
Hmmm maksudku Ayahnya mungkin masih hidup, tapi aku tidak tahu entah di mana. Tiba-tiba saja tubuhku menegang jika mengingat hal-hal yang mengerikan itu. Ditinggalkan seorang pria yang menghamili kita dan akhirnya anaklah yang menjadi korban. Aku menggidik pelan. Berharap hidupku tak seburuk itu. Aku yakin Daniel akan bersama denganku sampai tua nanti.
"Memang dia kenapa?" aku mengelus rambut Matt dengan lebut saat itu lah aku menemukan wajah sumringah Fika yang tengah menggendong seorang perempuan dengan kerudung rendanya tengah menangis.
"Hanya masalah anak-anak. Mereka mengatai Seoul tak punya Ibu, tak punya Ayah," ya meskipun aku pikir itu adalah benar, tapi mereka tak berhak menyudutkan anak sekecil Seoul. Seoul tak tahu menahu tentang kesalahan orangtuanya.
"Ouhhh sudah-sudah,"kataku beralih menepuk punggung anak kecil itu. Dia terlihat masih sesenggukan dan beberapa kali terlihat sedang mengucek matanya.
"Apa kalian mau minum susu? Ayo kita ke dapur. Tadi juga Mami sudah buatkan kalian makan siang," kataku pada mereka dan Fika terlihat sedang menurunkan Seoul dari gendongannya. Matt menyambut sahabat kecilnya itu dan seperti orang yang amat sangat dewasa. Dia mengelus pelan punggung Seoul seraya mengajaknya turun dengan cara menggenggam tangan anak itu denga erat.
"Apa dia terihat masih muda?" tanyaku dan Fika mengangguk pelan.
"Ya lumayan. Sepertinya mereka memang mempunyai tradisi menikah muda hahahaha.
"Itu lebih baik kan daripada hamil di luar nikah sepertiku. Setidaknya mereka sudah mempunyai hubungan yang pasti saat ingin melakukan layaknya suami istri," Fika berdecak pelan seraya memberikan susu yang dia buat pada Seoul dan Matt yang sudah menggoyangkan kakinya yang bergelantung di atas kursi meja makan. Aku merapikan makanan yang kubuat tadi untuk mereka. Tak lama bel rumah berbunyi dari luar.
Ting..., nong..., suara bel rumah terdengar. Aku pun mencuci tanganku ke wastafel.
"Biar aku yang buka," kata Fika membuatku mengangguk dan meneruskan pekerjaanku kembai.
Aku menaruh piring ke hadapan mereka masing-masing. Lalu meletakkan nasi dan juga pepes ikan yang sudah membuat Matt memperhatikanku sedari tadi.
"Mam nanti tulangnya nusuk tenggorokkan gak?"
Aku tertawa pelan dan mengacak rambutnya. "Tidak sayang, Mami udah presto dulu sebelumnya. Kalian bisa makan durinya," kataku dan dia tersenyum senang.
"Ehhh cuci tangan dulu," kataku pada mereka dan Matt turun lebih dulu dan setelahnya membantu Seoul yang bersusah payah menggapai kakinya untuk turun dari kursi meja makan rumah kami. Aku pun tersenyum melihatnya.
Oh ya tadi siapakah yang bertamu. "Mami tinggal ke depan ya. Kalian bisa kan makan sendiri," kulihat Matt mengangguk dan aku pun segera ke ruang tamu.
Melihat rumah megah ini aku tersadar baha ternyata Daniel banyak memajang foto wedding kami. Aku pun menemukan beberapa foto yang menunjukkan dirinya yang sedang menciumm bibirku. Ada pula saat kami menggendong Matt yang aku kira-kira berumur dua tahun. Kami terlihat senang di dalam sana dan rasanya hatiku mulai tertusuk-tusuk bahwa kenyataannya yang bertamu itu orang yang paling tidak ingin aku temui.
"Clara?"