Adinda

Adinda
Chapter 7



Dinda POV


 


Berpikir tentang Mika yang menggilaiku. Aku tak pernah mau memujanya kembali. Dia sudah kuberi kesempatan saat pertama kali kami pernah mengalami masalah yang sama, tapi sekarang dia mengulanginya lagi dan tidak akan pernah aku mau kembali lagi padanya. Memang dia pikir aku ini wanita seperti apa, hah?. Wanita murahan?


Bukankah cinta yang memiliki banyak penawaran adalah termurah. Jika seseorang meminta kesempatannya lagi, itu sih namanya sedang ada penawaran. Memang cinta itu akan diobral seberapa murah hingga mengadakan penawaran. Apa tidak bisa sekali mencintai cukup setia dengan satu. Maaf!, tapi aku bukan tipe orang yang


suka ditawar.


“Sudahlah! Dia memang tidak tahu malu!” Dengusku.


“Oh ya bagaimana dengan teman Ayahmu itu? Apa aku boleh main ke rumahnya lagi? Apa


kau sudah izin?”


Ya Tuhan, aku melupakan itu. Aku benar-benar lupa tentang itu. Lagi pula, aku juga terlalu fokus dengan masalah semalam yang menimpanya. Bagaimana mungkin aku bisa memikirkan hal lainnya, apalagi untuk mengizinkan main ke rumah Daniel.


“Aku lupa mengatakannya,” kataku.


“Apa?”


“Hei..., rumahmu juga cukup besar. Kenapa kau sangat ingin main ke rumahku---oh maksudku


rumah Daniel.”


“Sebenarnya aku ingin melihat koleksi apa saja yang dia punya. Apa kau pernah masuk ke dalam kamarnya? Bagaimana kamarnya? Mencari tahu apa dia memiliki istri atau anak? Ya..., jujur saja aku ingin tahu siapa teman Ayahmu itu. Kau tahu, dia sangat misterius bukan? Memiliki rumah sebesar itu, tapi tidak memiliki pelayan.


Pekerjaannya juga tidak kau ketahui.”


“Aku tahu,” potongku.


“Kau tahu?” Tanya Fika entah kenapa menjadi membahas Daniel. Itu membuatku tidak suka. Padahal Fika sudah memiliki kasih yang jauh lebih tampan dan mereka sudah..., ya seperti kebanyakan anak remaja yang di luar sana. Mengalami hal yang bahkan aku sendiri belum siap membayangkan bagaimana melakukannya jika aku sudah menikah sekali pun.


“Bagaimana? Apa dia memiliki seorang istri? Aku lihat dari foto yang dia pasang di ruang tamu. Oh maaf..., maksudku memang tidak ada foto apapun yang dia pamerkan padaku saat aku berkunjung ke sana.” Aku mulai memutarkan bola mataku dengan lelah mendengarkan ocehan Fika.


Lagi pula sejak kapan dia menjadi tamu yang istimewa bagi rumah Daniel. Lalu untuk apa Daniel menampilkan foto-foto pribadinya di ruangan terbuka. Siapa peduli tentangnya, kalau saja Daniel memang tak memiliki siapa pun yang dapat kuketahui bahwa dia memang tidak hidup sendiri. Toh kenyataannya, dia memang hidup sendiri. Dalam kesendirian di dalam rumah yang hanya memiliki satu tuan diagungkan.


“Bagaimana?” tanya Fika lagi membuatku sangat geram mendengarnya.


  “Lalu?”


  “Lalu apa? Memang apa yang ingin kau dengar?”


   “Seorang wanita yang dia puja atau mungkin seorang istri yang sudah dia ceraikan karenaketahuan berselingkuh,”


“Hei..., aku tahu kau sedang menyinggungku,”


Fika tertawa mendengar aku berkata seperti itu. Lalu dia mengibaskan tangannya di depan wajah dengan tubuh yang dia tegakkan ke depan. “Kau memang sangat sensitif jika sudah bicara tentang selingkuh,” ungkap Fika semakin ingin kutarik saja wajah serta rambutnya agar dia berhenti meledekku.


.........................................


Beberapa kali aku bolak-balik di depan ruang tamu. Ini sudah pukul 2 pagi dan Daniel belum juga


menunjukkan keberadaannya. Dia membuatku khawatir, sangattt khawatir. Ingin rasanya aku menangis saat jam terus saja berjalan menunjukkan kalau hari lain sudah menyambut diriku yang sedang menunggu kedatangan laki-laki berumur 35 tahun itu.


Bodohhh sekali aku tidak memiliki nomernya. Seharusnya aku menyimpannya agar aku tahu kemana dia. Agar


aku bisa mengechek kepergiannya dengan GPS. Bodoh!. Bodoh!. Mataku mulai memanas dan hatiku sedikit tidak keruan. Ada ritme yang tidak teratur karena aku memikirkan laki-laki yang hidup denganku.


Aku dengar suara mobil yang memasuki halaman. Cepat aku beranjak dari sofa dan membuka pintu rumah ini


selebar mungkin. Kulihat dia yang sedang keluar dari mobilnya dengan pakaian tuksedo berwarna biru dongker. Kakiku bergetar sulit menahan tubuhku agar tetap berdiri tegak. Aku terjatuh dan tiba-tiba saja air mataku berjatuhan saat dia menunjukkan wajah tenangnya ketika keluar dari mobil.


Aku di sini menunggunya dengan sejuta kekhawatiran dan dia malah bersiul kecil dengan santainya.


"Dinda ada apa?" dia berlutut di depanku. Aku yang akhirnya lemah dengan tangisanku hanya bisa menyeka air mata yang keluar.


Kulihat dia membawa sebuah bir di tangannya. Dia meminumnya dengan setengah kesadarannya. Kemudian


tangannya meraih kepalaku seraya mengusapnya lembut. Dia sadar kalau aku sedang


menangis dan masih bicara dengan kesadarannya.


"Ada apa? kenapa kau menangis?" tanyanya membuatku ingin memukulinya. Apa dia tidak tahu kalau aku sangat mengkhawatirkannya.


"Aku menunggumu," suaraku lirih sekali. Dia hanya menatapku sejenak dan mengalihkan pandangannya ke air mataku.