
"Bahwa kau menjadi wanita yang paling bahagia mendapati laki-laki yang kau pilih. Hanya itu." lirihnya nyaris tak terdengar membuatku sedikit bergetar kalau saja aku tak sadar bahwa rumah mewah ini menyambut penglihatanku.
Gilang turun dari mobil berlari kecil ke arah pintuku. Dari pintu rumah aku bisa lihat Fika sedang tersenyum ke arahku. Rindu. Aku merindukan rumah ini.
Fika menggapaiku. Mengambil alih pekerjaan Gilang yang membantuku berjalan layaknya orang yang masih hamil. "Aku sangat merindukanmu," bisik Fika padaku, entah berapa kali dia mengatakan itu lau dia memeluk erat tubuhku seraya membantuku berjalan ke arah ruang TV.
Aku duduk di atas sofa seraya memberikan Cleo yang tengah tidur ke arah Fika yang sudah meminta ingin menggendongnya. "Dimana Matt?" tanyaku pada Fika dan saat itulah aku lihat Matt yang sedang di piggy back dengan Gilang muncul dari belakang.
"Mom?" suara Matt saat melihatku. Pertama kalinya aku sadar bahwa lupa ingatan itu menyiksa segalanya. Aku bahkan tak ingat wajah Matt yang amat sangat mirip dengan Daniel. Hidungnya yang mancung dan wajah tegas milik Daniel berhasil dia miliki. Bibirnya yang terlihat kecil menyiratkan bahwa dia anak biologisku.
"Kemari sayang," Matt berhambur ke arahku. Dia memeluk sekuat tenaga yang dia miliki. Terasa seperti tak menemuinya bertahun-tahun lamanya. Bahkan aku dan Matt tak segan-segan menumpahkan segala kesedihan yang kami punya. Di pelukannya aku menangis dan menciumi kepalanya yang tengah membenamkan di atas bahuku.
"I Love you, Mom. Aku gak mau Mami tinggalkan lagi. Aku janji akan jagain Mami" katanya membuatku mengangguk di dalam pelukannya.
"Hmmmmm sudah..., sudah..., kalian bisa saja sesak nafas karena tak kunjung mengehentikan tangisan kalian," kudengar Fika berguarau. Aku pun sedikit tertawa begitu pun dengan Matt yang akhirnya melepas pelukannya dari leherku dan mencium lembut pipi adiknya yang sedang tidur.
"Matt di mana Seoul?" tanya Fika.
"Ahh iya Seoul aku ajak ke sini tidak apa kan."
"Seoul," panggil Matt, tak lama dia berlari ke arah anak perempuan yang menggunakan kerudung. Dia sedang asik melihat koleksi boneka milikku di etalase.
"Siapa dia?" tanyaku saat melihat anak itu tampak tertarik dengan boneka-boneka milikku di etalase. Boneka-boneka yang selalu aku kumpulkan sejak aku duduk di bangku SMP hingga kuliah. Aku masih ingat bagaimana boneka bear berwarna biru itu menjadi kejutan dari Ayah di umur 12 tahunku. Aku masih menyimpannya meski Ayah bilang dia akan membelikannya yang baru kalau bear berwarna biru itu dibuang.
"Dia anak tetanggaku. Kau tahu aku sekarang jadi cukup banyak ketitipan anak tetangga," mendengar itu aku terkekeh. Saat aku ingat bahwa Fika mempunyai pekerjaan sampingan yaitu menjaga anak tetangga untuk sekolah di TK. Padahal dia sudah menjadi seorang desainer, tapi Fika terlihat seperti orang yang sangat menyayangi anak kecil.
"Memang ibunya kerja apa. Oh ya kenapa namanya Seoul. Itu Ibu Kota Korea kan?" tanyaku. Aku lihat Fika menganggukkan kepalanya. Kini mataku beralih pada Gilang yang berlari mengejar Seoul dan Matt.
"Ibunya sudah meninggal saat melahirkan dia. Sekarang dia hanya tinggal dengan neneknya yang bekerja di tokoku."
Aku mengangguk mengerti. "Ayahnya?"
"Ayahnya...," ada jeda dan raut kesedihan di wajah Fika. Aku tak cukup mengerti mengapa perubahan wajahnya sangatlah cepat. "Ayahnya tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya," seperti ada petir yang menyambarku di siang hari bolong. Rasanya aku ingin menangis karena pada kenyataannya ada banyak orang yang jauh lebih bisa bertahan untuk hidupnya meski dia merasa terbebani dengan takdir hidupnya. Aku jauh lebih beruntung.