
PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Gilang POV
Aku tak bisa melihat Dinda seperti ini. Setiap aku memperhatikannya yang berbaring di rumah sakit. Entah kenapa aku juga merasa sakit. Hatiku ikut sedih saat melihat wajahnya yang pucat.
Apa dia baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkannya. Aku sangat ingin merawatnya hingga dia sembuh, tapi sepertinya orang di sana yang telah memilikinya tak akan menghendaki. Dia lebih berhak dari segalanya meski aku menyalahkan segalanya pada Daniel.
Ya tentu saja Daniel yang salah. Ini semua gara-gara Daniel. Andai saja Daniel bisa menjaga Dinda. Menjaga raganya, menjaga jiwanya, bahkan menjaga hatinya. Mungkin Dinda tidak akan di sini. Dinda tidak akan seperti ini. Berbaring di rumah sakit dalam keadaan lupa ingatan.
“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku.
Dinda tersenyum kemudian mengangguk pelan ke arahku. “Aku jauh lebih baik dengan kedatangan kalian di sini. Kau tahu, aku tidak bisa melihat wajah pria itu lagi di sini. Aku tidak mau melihat dia,” ungkapnya seolah-olah tengah mengadu padaku seperti waktu yang telah berlalu.
“Dinda dia juga begit seidh dengan keadaanmu. Jangan seperti itu,” ungkap Fika memberi pengertian pada Fika, tapi aku tahu kalau Dinda sebenarnya belum siap bertemu dengan Daniel.
Aku tahu tentang ini dari James---Ayah Dinda. Dia bilang anaknya pasti hanya mengingat perlakuan jahat Daniel padanya. Mungkin karena itu, Dinda pun tak mengingat sudah sampai manakah jalan hidupnya. Dindanya hanya stuck pada ingatannya di umur 22 tahun, begitu kata James.
“Jika kau membutuhkan sesuatu, katakanlah padaku.” Ungkapku pada Dinda. Kugenggam tanganny erat dan Dinda mengangguk pelan.
“Sebenarnya banyak yang ingin aku tahu dari apa yang aku lupakan dan mungkin untuk pertanyaan awal dariku...,” dia terdiam sejenak seraya melirik ke arahku dan Fika.
Aku dan Fika saling melirik. Fika menyusuri pipi Dinda dengan lembut sangat perlahan sekali. Aku juga ikut tersenyum ke arahnya. Kembali menciumi jarinya jika karena Daniel tidak ada di sini. Aku ingin tetap mencintainya, tapi aku tidak bisa. Aku harus bahagia juga denga orang lain, karena itu aku sedang mencoba membukakan hatiku pada seorang wanita yang menyukaiku.
Fika mencium kening Dinda lalu menoleh ke arahku seakan memperbolehkanku untuk memberitahunya. “Sekarang umurmu, 27 tahun Dinda.”
5 tahun sudah kau melewati rasa sedih dan bahagia yang kau alami bersama Daniel beserta...,
......................................
Aku melirik ke arah spion untuk melihat Dinda yang tertidur. Dia menyandarkan kepalanya di punggung belakangku. Tangannya yang lembut itu melingkar indah di pinggangku. Aku mengeratkan pegangannya. Dengan adanya kesempatan dalam kesempitan, aku merasa kalau Dinda tengah memelukku dari belakang. Rasanya senang bukan main. Wajahnya yang menggemaskan saat tidur membuatku ingin memilikinya lebih. Sayang sekali, Dinda menyukai si pak Tua, Omku itu.
"Gilang...," kudengar suara Dinda yang terbangun dari tidurnya itu. Dia menjauhkan wajahnya dari punggungku.
"Ouhhh udah sampai ya. Kenapa tidak kau bangunkan aku," katanya.
Oh ya aku tidak bicara ya kalau ini sudah ada di depan rumah. Kami sudah sampai. Beberapa menit yang lalu aku hanya diam di atas motor. Menarik tangan Dinda agar memelukku lebih erat dan memperhatikan wajahnya yang dia tempelkan di bahuku dari kaca spion. Dia indah, dari wanita manapun yang aku kenal. Tidurnya pun terlihat sangat cantik. Dia seperti bidadari di mataku. Pak tua itu bodoh sekali jika dia menyia-nyiakan wanita seperti Dinda.