
Clara mengangguk dan keluar dari ruanganku hingga wajah Gilang yang tergantikan masuk ke dalam ruanganku. Dia memberiku sebuah map yang harus aku tanda tangani. Sebuah kerja sama hotel di London yang akan dia pimpin beberapa bulan lagi. Aku sudah menyerahkannya padanya dan itu sudah hakku untuk membagi harta keluarga kami.
"Apa kau sudah menjelaskan pada Dinda," suaranya menyakan masalah rumah tanggaku dengan DInda. Aku tahu dia menyukai istriku. Sampai kapan pun dia menyembunyikannya. Aku tak pernah mau menjadi orang yang bodoh pura-pura tidak tahu bahwa dia sering menggantikan posisiku saat aku keluar kota meski Dinda dengan polosnya hanya menganggap bahwa dia sebatas ponakanku saja.
"Hmmmm pasti akan ada saatnya," kataku padanya dan dia menggelengkan kepalanya. Menarik bangku yang ada di hadapanku untuk dia duduki.
Dia mengangkat kakinya kanannya ke atas kaki kiri untuk dia pangku. "Jadi kau menyembunyikan masa lalu kalian dari Dinda. Ayolah, Bro. Kau jangan-"
"Kau jangan campuri urusan rumah tanggaku," selaku mengangkat penaku dari kertas yang sedang aku tanda tangani. Aku menatapnya tajam penuh amarah.
"Kau tahu Dinda akan hancur jika kau menyembunyikan ingatannya. Kau tahu itu!" suaranya naik beberapa oktaf.
"Aku kepala rumah tangga dan aku suaminya! Aku lebih tahu apa yang terbaik untuk hubungan kami."
"Tapi tidak untuk menyembunyikan mengapa Clara masih berada di sampingmu! Dia pasti akan bertanya-tanya," dia membentak dan secara refleks aku mengangkat kerahnya dari sebrang mejaku.
Dia menatapku tajam. Enggan membalas dan menahan tanganku dia hanya memperhatikanku yang mulai terbakar amarah. "Aku menjenguknya tadi pagi. Kau tahu bagaimana dia tersenyum padaku. Dia merasa tak punya beban lagi setelah suaminya menyembunyikan apa yang harus dia tahu! Kau brengsek Daniel!"
"Iya aku brengsek lalu kenapa?"
Bug! Aku berhasil mendaratkan sebuah pukulan di ujung bibirnya. Cepat aku melangkah meninggalkan tempat dudukku. Aku menghampirinya yang terjatuh di lantai dan mengangkat kerahnya kembali.
"Sekali lagi kau mencampuri urusanku. Akan kubuat kau hancur dengan hidupmu," entah apa yang merasukiku. Hanya saja aku merasa seperti terjebak pada ruangan yang penuh debu dengan sarang laba-laba. Aku bisa saja mati kalau saja tidak keluar dari ruangan itu. Tak seharusnya aku melakukan itu pada keponakanku, tapi otakku mulai mendidih dengan segala apa yang berputar di pikiranku.
Pada kenyataannya aku belum berani mengungkapkan bahwa ada sebuah kesalah pahaman yang besar saat tahun pertama kami menikah. Sudahku bilang!. Aku hanya takut dia tidak mau percaya. Aku hanya takut bahwa dia tak mengingat apapun yang sudah pernah terungkap di masa lalu. Aku hanya takut, dia tidak bisa mengingat apa yang sudah terjadi pada Clara dan dirinya.
.....................................................
Gilang benar kalau Dinda terlihat seperti tengah mengumbar senyumnya. Dia terlihat memuja anaknya, karena tiada hentinya Cleo dia susui meski aku yakin ASInya tidak keluar dengan sangat lancar. Dinda tertawa pelan seraya menimang Cleo. Beberapa kali dia menusuk-nusuk pipi Cleo dan menciuminya. Dia kembali tersenyum, kemudian tak sengaja melihatku yang ada di luar ruangannya tengah memperhatikannya. Dinda menggerakkan tangan Cleo seraya melirik ke arahku. Aku pun tersenyum padanya.
“Hai Papi,” ungkap Dinda menggerakkan tangan Cleo padaku saat aku menutup pintu ruangannya.
“Selamat malam, Sayang.” Ungkapku pada Cleo yang asyik menyusu dengan Dinda dan tak lupa mendaratkan ciuman pada Dinda.