
Aku melihat jam di dinding kamarku. Pukul 3 sore Daniel belum juga kembali dari kantornya. Perutku terasa seperti sakit sekali. Melilit atau mungkin seperti ada sesuatu yang membuatku meronta-ronta ingin teriak, menangis dan perasaan lainnya. Apa mungkin ini sudah saatnya aku melahirkan.
Aku mengambil air minum di atas nakasku. Mencoba meminumnya sebanyak mungkin kemudian menarik napasku dalam-dalam dan mengeluarkannya. Semoga rasa ini cepat mereda dan Daniel segera datang ke rumah.
"Mami," kudengar suara seseorang. Matt terlihat tengah mengucek matanya dan menghampiriku.
"Kau sudah bangun, Sayang?" tanyaku padanya.
Matt menganggukkan kepalanya dan merangkak naik ke atas ranjang. Dia memelukku dan mencium perutku yang membuncit.
"Mah, adikku perempuan ya Ma?" tanyanya dengan kepala yang dia tenggakkan ke arahku. Aku mengelus pipinya sejenak dan mencium keningnya.
"Kita lihat saja ya nanti. Dokter kan hanya bisa menebak lewat pemeriksaan USG, tapi Tuhan yang memberikan, mungkin bisa berkehendak lain," kataku memberinya pengertian.
Matt terlihat tersenyum ke arahku hingga kemudian air di wajahku berubah menjadi sebuah kecemasan. Perutku terasa sakit sekali. "Mah, kenapa?" tanyanya dan aku sudah yakin sekali kalau ini kontraksi dari bayiku.
"Sayang tolong hubungi Papamu, Nak. Bilang pada Papa kalau Mama akan melahirkan," ungkapku dan aku lihat Matt sudah beranjak pergi dari ranjang. Dia berjalan ke luar dan lari ke arah lantai bawah.
Daniel janji akan menemani persalinan anak ke 2 kami, tapi kenapa dia jam segini pun belum datang. Aku seharusnya sudah pembukaan pertama 'mungkin'.
Aku pun keluar kamar mencoba memapah jalanku satu persatu meski aku rasa sakit sekali perutku ini. "Matt...," lirihku saat di ambang pintu. Aku lihat Matt sedang berbicara. Kakinya seperti bergetar dan ikut khawatir dengan keadaanku yang seperti ini.
"Matt...," panggilku lagi. Matt segera lari ke atas tangga dan menghampiriku.
"Mah, Papa lagi ada di perjalanan," lapornya dan aku mengangguk mengerti. Untuk sesekali aku mencoba melangkahkan kakiku untuk menuju lantai bawah. Tangga yang lumayan panjang ini membuat Matt memegang tanganku erat sekali.
"Ma!" dia melirik ke arahku. Mempercayai pada dirinya sendiri bahwa dia akan menjaga Mama yang paling dia sayangi. Dia memang terlihat tampan seperti Papanya dan aku percaya bahwa Matt tak akan pernah meniru sifat buruk Papanya. Semoga!
"Tin..., Tin...," kudengar suara klakson mobil di luar rumah.
"Sayang kau di mana?" itu suara suamiku.
"Pa!" Matt berlari melepas tanganku dari pegangannya untuk meneriaki Daniel dan saat itulah aku melihat Daniel yang muncul dengan Clara.
Clara bersama Daniel?
"Aaaaaaaa," pandanganku tak berfokus pada pijakanku. Yang ada aku memperhatikan Daniel dan Clara yang datang bersama.
Aku kehilangan kendali hingga hanya ada suara teriakan dari Daniel yang bisa kudengar untuk terakhir kalinya.
"Dinda!"
"Mami!"
Aku terjatuh dari tangga lantai dua rumahku dan aku mulai merasa bahwa tubuhku melayang.
.............................................
"Maaf aku mengganggu kalian," aku menolehkan kepalaku dan mendapatkan Daniel bersama Clara. Clara? Wanita itu tengah menimang anakku. Ohh tidak bisa. Dia yang menyebabkanku seperti ini. Seharusnya dia tahu kenapa aku bisa kehilangan ingatanku.
Gilang terlihat tersenyum ke arah mereka. "Kau apakan istriku, huh?" tanya Daniel pada Gilang yang hanya ditanggapi sebuah tawaan dari keduanya.
Aku membenarkan dudukku di bantu Fika. Saat tepat Daniel akan menyentuhku. Cepat aku menjauhkan tangannya. "Kemarikan anakku!" suaraku tajam melirik ke arah Clara yang tengah tersenyum ke arah bayiku dan pudar begitu saja saat mendengar suaraku.
Dia diam bergeming. "Kemarikan!" kataku lebih keras seperti paksaan sampai Daniel melirik ke arahku.
Clara masih diam saja hingga rasanya aku ingin menangis karena milikku tak kunjung dia berikan. "Kemarikan!"
"Dinda!" kudengar suara Daniel yang membentakku hingga aku rasa nafasku tak beraturan.
Fika berjalan ke arah Clara. Dia mengambil anakku dan membawanya keluar.
"Biarkan kami ber dua saja sebentar," kata Daniel yang langsung kutolak.
"Tidak!" Gilang ingin menghampiriku tapi tangan besar Daniel mencegahnya.
"Tinggalkan kami, aku mohon!" ungkap Daniel tak sama sekali melihat Gilang. Dia malah menatapku dengan tatapan yang aku benci sekali. Aku menangis dan Gilang hilang dari pandanganku.
"Lalu untuk apa dia di sini?" aku berteriak ke arah Daniel saat Gilang dan Fika keluar tapi Clara tak keluar.
Aku memukul dada Daniel dengan suara tangisan yang menyeruak. "Aku keluar," ungkap Clara dan aku sahuti dengan ganasnya.
"Yaa kau harusnya keluar dari awal!" teriakku dan Daniel menarik tanganku agar berada di dekapannya. Aku meronta memaksa Daniel melepaskanku, tapi Daniel semakin memeluk erat diriku.
"Kenapa?" bodohnya dia bertanya kenapa?
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa?" kataku masih dengan oktaf yang sama bahkan mungkin suaraku bergetar saat tangisanku semakin menyesakkan dadaku. Apa aku menjalani hidup seperti ini. Merasa tersingkirkan hanya karena wanita ****** seperti Clara. Bahkan Daniel lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Clara dibanding aku. Begitukah? Apa masa laluku begitu menyedihkan, hingga tak ada kisah bahagia yang patut harus kukenang.
Aku pikir nama NILDA di setiap anakku itu adalah singkatan "Daniel Dinda" dan kemungkinan besar lainnya saat aku tak sadar bahwa akan ada nama DARA di tengah-tengah nama anak "Daniel dan Clara". Jika memang itu ada, kenapa Clara tak menimang anaknya saja, kenapa yang dia timang harus anakku?
"Lepaskan aku!" teriakku saat Daniel masih memelukku. Aku menangis layaknya anak kecil tapi tak dia pedulikan.
"Lepaskan aku..., aku mohon," kataku lagi dan aku mulai merasa kalau ada seorang dokter yang datang untuk menyuntikku. Aku mulai melemah dan pandanganku pun kabur. Aku tak sadarkan diri.
......................................