Adinda

Adinda
Chapter 19



DINDA POV


Dua menit terlewat, Fika nampak terkejut dan dia mulai menarik tanganku. “Kau gila! Mana mungkin bisa terjadi!”


“Aku juga tidak tahu! Semuanya terjadi begitu saja.” Kataku karena memang baik aku dan Daniel, kami seperti merasa tidak ada yang menyangka akan hal ini, tapi meski begitu aku tahu kalau Daniel juga merasa bersalah padaku. Lalu, aku juga harus apa? Aku juga tidak tahu harus bagaimana.


“Kau harus minta pertanggung jawabannya, Dinda.”


“Aku..., aku takut dia tidak mau.”


“Harus..., aku tidak peduli tentang itu. Kau tahu itu sangat membahayakanmu. Ayahmu akan sangat marah.”


“Aku tahu, tapi aku tidak harus bagaimana. Apa yang harus kukatakan padanya!”


“Kau ancam dia! Dia harus mau menikahimu atau jika tidak kau akan melaporkannya pada Ayahmu, kalau ini salahnya.”


Aku menggelengkan kepalaku cepat tak setuju, karena kejadian itu memang tidak ada yang bersalah. Aku tak bisa menyudutkan Daniel seorang diri, karena Ayah bisa saja membunuhnya jika tahu temannya melakukan hal itu.


“Kenapa? Memangnya salah? Lagi pula dia sudah dewasa, oh tidak dia jauh lebihhh dewasa,” ungkap Fika lagi membuatku berpikir lagi. Mungkin Fika benar, aku harus segera membicirakan ini pada Daniel sebelum semuanya terlambat. Setidaknya dia tahu dalam senyuman yang aku palsukan ada sebuah kekhawatiran yang mendalam.


“Baiklah, aku akan memintanya untuk bertanggung jaawab jika itu terjadi, tapi...” Fika menatapku dengan geram, tapi tatapan matanya bisa terlihat bahwa dia sangat mengkhawatirkanku.


“Entah kenapa aku takut kalau pernikahan itu nantinya tidak berjalan lancar jika tanpa cinta. Aku ingin kata sakral itu sekali dalam hidupku, Fika.”


“Kalau begitu cintailah dia. Semuanya pasti akan bisa tumbuh seiring waktu berjalan. Cinta bisa tumbuh karena sering bersama Dinda. Aku juga  merasa begitu dengan Vicko.”


“Bagaimana kalau aku sudah mencintainya,”


“Aku juga tidak tahu kenapa denganku, tapi sejak awal aku bertemu dengannya. Aku sudah jatuh cinta padanya. Rasanya aku tidak bisa berpaling melihat siapa pun jika sudah melihat Daniel.”


Fika nampak mengerutkan alisnya, tapi untuk menit lainnya dia memelukku. Dia mengelus punggungku dan semakin memperdalam pelukannya. Dia mencium kepalaku dan berbisik sesuatu. “Aku selalu berdo’a yang terbaik untuk kehidupan kita ke depan. Aku juga selalu menyesalinya setelah melakukan apa yang tak seharusnya ku lakukan.” Ungkap Fika dan aku menitihkan air mataku di pelukannya.


Aku takut, yang aku takutkan jika dia tidak ingin menjadi orang satu-satunya yang bisa mengikuti jalannya umurku hingga tua nanti.


.........................................


Aku masih resah karena itu aku mencoba utuk masak sesuatu di dapur. Aku tidak menunggu Daniel datang menjemputku karena sedang memikirkan kata-kata apakah yang cocok kusampaikan pada Daniel. Aku harus bicara apa nantinya pada Daniel. Apa Daniel akan bilang, ya aku akan bertanggung jawab. Aku akan mencoba mencintaimu dan melukapan mantanku. Lalu semuanya berjalan sesuai keinginanku.


“I got you,” aku langsung kaget saat Daniel menangkap tubuhku dan mengangkatnya.


“Daniel apa yang kau lakukan. Turunkan aku,” kataku dan aku pun mendengar tawanya yang terkekeh seraya menurunkanku.


Aku pun kembali membelakanginya dan fokus pada masakanku. “Kau masak apa?. Padahal tadi aku ingin mengajakmu makan di luar. Kau tahu? Pengintaianku selesai Dinda. Wanita itu sudah masuk penjara dan aku kembali memiliki perusahaan mantan kekasihku. Oh ya ada banyak makanan di jok belakang mobilku. Tunggu sebentar biar aku ambilkan,” ungkapnya lalu kulihat dia berjalan meninggalkanku di dapur dan beberapa menit kemudian dia kembali dengan barang-barang yang dia bilang tadi.


 “Haii, ada apa?” Tanyanya seakan dia tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini. Aku pun enggan berbicara dengannya lebih banyak. Sepertinya aku belum siap bicara dengannya sekarang. Mungkin lebih baik besok atau lusa saja membicarakannya, karena aku lihat dia sedang begitu senang dengan hasil pekerjaannya.


Aku pun mematikan kompor listrik dan berusaha meninggalkan Daniel yang masih memperhatikanku. Namun, Daniel mengejarku dan menarik anganku hingga aku berbalik ke arahnya.


 “Apa kau sedang mencoba menunjukkan protesmu dengan kebisuanmu? Bicaralah! Apa yang ingin kau katakan padaku,”


“Nikahi aku, atau aku akan katakan ini pada Ayah.” Begitu cepat bahkan aku sendiri tidak percaya kalau kata-kata itu akan meluncur begitu saja.