
“Apa kau menyukainya?” tanya Gilang dari belakang ikut menyambut kedatangan Daniel.
“Sangat, sangat menyukainya,” ungkapku seakan tak sadar karena terhipnotis dengan wajahnya yang masih tampan meski ini sudah malam.
Daniel turun dari mobilnya dan tangannya melebar. Aku pun segera berlari ke arahnya, tapi Daniel melewatiku. Oh sial!.
“Wahai pria nakalku, akhirnya kau kembali juga,” katanya lalu memeluk keponakannya itu. Dia bahkan tak sama sekali ingin memelukku. Ahh mungkin karena benda-benda lengket ini.
“Hahahaha apa kau sangat merindukanku Daniel.”
“Oh tentu saja. Bagaimana bisa dua tahun berpisah tak rindu.” Katanya lalu aku lihat mereka masuk ke dalam tanpa mempedulikanku. Sial!
...................................
Semalam Daniel tampak menghampiriku ke kamar mandi. Dia tertawa saat melihat wajahku yang penuh dengan benda lengket itu. Kemudian dia meminta maaf karena Gilang juga melakukannya tidak sengaja. Aku pun sudah memaafkannya lagi pula itu tak terlalu maslaah untukku.
“Dinda,” bisiknya di telingaku saat aku tengah sibuk membersihkan benda-benda lengket ini.
“Hmmm,” aku menatapnya di cermin dan Daniel tersenyum ke arahku. Dia memelukku dari belakang dan menumpukan kepalanya di bahuku.
“Apa kau menyukaiku?” tanyanya mendadak membuat tubuhku langsung tegang dan segalanya menjadi campur aduk waktu aku tak bisa menjawab dan dia malah terkekeh dengan wajah patungku.
“Aku anggap itu sudah menjadi jawaban.” Bisiknya lagi cukup menggodaku dan tak bisa kusangkal bahwa detak jantungku berdegup keras.
Oh ya Tuhan ada apa denganku? Kenapa aku mudah sekali jatuh cinta pada pria seperti Daniel.
“Biar aku bantu,” lanjut Daniel lagi membuatku terperangah waktu dia dengan santainya emmbuka bajuku. Dia menarikku ke dalam bath up dan mengguyur tubuhku.
“Daniel dingin!” pekikku meringku memeluk tubuhku yang hanya memakai dalaman saja. Daniel pun terkekeh dan membuka kemeja kerja yang masih dia pakai.
“Biar aku hangatkan,” katanya langsung memelukku. Aku pun tersenyum dan memeluknya. Ohhh hangat sekali dipeluk dengan Daniel. Tak hanya hangat, tapi aku juga merasa nyaman sekaligus bahagia bisa bersamanya seperti ini.
"Aku sudah mentransfer nilaiku tuan Daniel," ungkap Gilang gregetan setelah dia bicara pada Daniel. Daniel ingin Gilang bekerja dengannya secepatnya, tapi Gilang malah menolaknya. Dia bilang akan menuntaskan kuliahnya dulu dan setelahnya akan bekerja di kantor Daniel.
"Oke baiklah. Kalau begitu kau bisa kan antar jemput wanitaku," Daniel mengelus lembut rambutku. Di sampingnya aku hanya bisa tersenyum mengarah pada Gilang. Sepagi ini di meja makan, kami sudah menyantap nasi goreng buatanku dan hanya milikku yang menyisa. Aku tak nafsu makan. Entahlah.
"Hmmm memang di mana kampusmu?" tanya Gilang.
"Aku bisa berangkat sendiri," terangku. Walau sebenarnya aku ingin sekali Daniel yang mengantarku. Bukan malah Gilang yang tak tahu apa-apa dan Daniel biarkan untuk mengantarku.
"Kenapa?" tanya Daniel mengernyitkan alisnya. "Gilang kan naik motor. Kau tidak perlu naik angkutan umum atau taxi kan, lebih enak," katanya dan aku sahuti seadanya.
"Aku akan berangkat sekarang, Gilang pasti akan mengurus semua nilainya untuk ditransfer ke kampus barunya," kataku lalu beranjak dari meja makan. Mengangkat semua piring kotor di atas meja makan kemudian mencuci semuanya dengan sisa moodku di pagi ini.
Moodku kenapa sangat buruk sekali.
"Ada apa dengannya?" bisik Gilang pada Daniel. Meski aku membelakangi mereka. Aku masih bisa mendengar mereka tengah membicarakanku.
"Dia sepertinya sedang ngambek denganku," kata Daniel dan klik banget kalau dia tahu kenapa aku bisa seperti ini.
"Kenapa? apa kalian akan putus. Kalau begitu berikan dia padaku," kata Gilang membuatku menggidik pelan. Keponakan dan Omnya sama-sama mengerikan.
"Bodoh!, dia tidak akan mau dengan bocah ingusan seperti kau," kata Daniel lalu aku dengar seseorang menyeret bangkunya meninggalkan meja makan. Hingga aku rasa ada tangan besar yang memeluk pinggangku.
Aku menengok untuk memastikan apa itu Gilang yang melakukannya. Ternyata salah..., ya karena jika Gilang yang melakukannya akan langsung aku tendang dia sampai menghilang ke ujung langit.