
PERHATIAN! Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Dinda POV
Aku tidak lagi melihat Ayah. Apa Ayah pulang ke rumah?
“Apa kau melihat Ayahku?” tanyaku pada Fika yang habis menelepon seseorang. Fika melirik ke arahku dan menggelengkan kepalanya. Dia pun duduk kembali ke atas kursi di samping bangkarku.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Fika seakan-akan ingin memastikan bahwa aku sehat-sehat saja.
“Hanya sesekali merasa nyeri di kepala dan perut. Aku lihat ada bekas jahitan di bawah perutku. Memang ini bekas apa?” tanyaku saat ingin mengangkat bajuku untuk menunjukkan pada Fika seseorang masuk mengurunkan niatku.
Aku tahu wajahnya. Dia tidak mungkin menghilang daari ingatanku karena kutahu dia sangat baik padaku.
“Dinda aku merindukanmu,” ungkapnya langsung berhambur padaku. Kutepuk punggung Gilang. Dia langsung menghujaniku sebuah ciuman di pipi, kening dan hampir ke bibir jika saja Fika tidak menariknya.
“Kau gila!” ungkap Fika hingga menimbulkan kekehan di bibir Gilang. Gilang pun menarik sebuah bangku lain untuk bisa duduk di sampingku. Dia menciumi punggung tanganku dan tersenyum.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Gilang.
....................................
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Daniel belum pulang. Selalu saja begitu saat aku menunggunya. Padahal aku sudah sangat rindu ingin melihat wajahnya.
Ting nong..., ting nong...,
Mendengar bel rumah berbunyi saja sudah membuat hatiku berdegup begitu kencang. Aku menghela nafasku dengan susah payah dan merapikan rambutku sebelum keluar.
Ting nong..., ting nong...,
“Sebentar Daniel, aku datang.” Kataku seraya berjalan ke ruang depan dan tersenyum senang.
Ting nong..., ting nong...,
“Tunggu sebentar,” kataku lagi seraya membuka pintu dan...,
“Surprise,” seseorang menyemprotku dengan sesuatu yang tidak aku tahu apa tapi itu sangat lengket sekali.
“Oh ya Tuhan, aku salah seorang.” Kata orang itu dan kurasakan dia mulai menyingkirkan sesuatu lengket itu dari wajahku. Dia mengusap-usapnya dan aku hanya mampu menghela nafasku sendiri.
“Maaf, maaf aku tidak tahu kalau ada orang lain juga yang tinggal di sini. Sungguh, aku tidak tahu,” katanya lagi dan aku mulai bsa melihat siapa orang yang melakukan ini padaku.
Laki-laki dengan earphone yang ada di lehernya mulai menyengir, unjuk gigi ke arahku. Kuhela nafasku sekali lagi dan mempersilakannya masuk. “Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau tahu Daniel tinggal sendiran?” tanyaku dan dlihat-lihat laki-laki ini menarik juga. Umurnya mungkin sama denganku, tapi kenapa dia membawa koper dan tas ransel yang terlihat penuh sekali.
“Oh ya,” dia mengelap tangannya sendiri ke sisi celana dan mengusung tangannya ke arahku seraya tersenyum. “Kenalkan, aku Gilang, keponakan Daniel dan kau?”
Aku pun menyalaminya. “Aku Dinda, anak temannya Daniel. Aku sedang tinggal di sini dan kau?”
“Aku juga akan kembali tinggal di sini.”
“Kembali?”
“Iya, dulu aku pernah tinggal di sini. Ya..., sebelum Daniel keluar dari kantornya.” Aku pun muai mengangguk mengerti. Pasti itu ada sangkut pautnya dengan cerita Daniel yang kemarin.
Sedang asyik berkenalan. Aku pun melihat mobil Daniel yang masuk ke dalam pelataran. Cepat aku berlari ke arah teras dan tersenyum ke arahnya yang tersenyum padaku.
“Apa kau menyukainya?” tanya Gilang dari belakang ikut menyambut kedatangan Daniel.
“Sangat, sangat menyukainya,” ungkapku seakan tak sadar karena terhipnotis dengan wajahnya yang masih tampan meski ini sudah malam.
***
Hayohh like dan komennya :(