
"Saat dia melahirkan Seoul. Ibunya sedang bekerja menjadi assisten rumah tangga di Seoul, karena itu dengan Neneknya diberi nama Seoul," aku mengangguk pelan memperhatikan gadis cantik dengan kerudungnya sedang tertawa bersama Matt dan Gilang.
"Matthew akan kutangkap kau," kudengar Gilang berteriak ke arah anakku dan mengangkat Seoul ke punggung belakangnya untuk mengejar Matt yang berlari ke arah belakang.
"Jadi apa yang kau ingin kuingatkan dari ingatanmu?" tanya Fika saat aku sudah melihat bayangan Gilang yang menghilang begitu saja ke belakang.
"Mmmmm apa ya?" kataku. "Bagaimana hubungan kau dengan Gilang?" tanyaku tiba-tiba yang entah kenapa saat memperhatikan Gilang ada yang terasa janggal di dalam dirinya. Gilang belum menikah kah? Fika belum juga menikah? Bagaimana dengan teman sewaktu kami kuliah. Apa hubungan mereka juga usai begitu saja?
"Kami tak memiliki hubungan khusus meski aku menyukainya," aku mengernyitkan alisku. Bukankah Fika cantik. Kenapa pula Gilang tak memberi hubungan yang khusus untuk mereka.
"Kenapa?"
"Dia menyukai orang lain."
Dia menyukai orang lain? Siapa?
"Hmmmm sudahlah, bagaimana kalau tentang Matt" katanya dan aku menganggukkan kepalaku untuk menghapus rasa sedihnya.
"Matt dia anak yang aktif. Dia memang tidak terlalu banyak memahami pelajaran, tapi Seoul selalu membantu Matt untuk belajar membaca dan lainnya. Seoul sahabat Matt sejak Matt tinggal denganku. Mereka mempunyai jalinan persahabatan yang baik, karena setahuku Matt cukup angkuh sepertimu. Dia anak yang pemilih. Tak mudah bergaul---introvert tapi dia sangat tampan," bisiknya ke arahku membuatku tertawa cekikikan, tentu saja kalau dia termasuk dikategorikan laki-laki yang tampan. Siapa dulu Ayahnya---Daniell.
"Oh ya bagaimana dengan Daniel. Aku tak terlalu ingat banyak tentang Daniel dan..." eouhhh aku harus bertanya.
"..., dan Clara. Apa dia pernah menjadi wanita simpanan Daniel?"
Aku lihat Fika seperti sedang memikirkan sesuatu, perlahan dia menimang Cleo yang sedikit merasa tak nyaman dengan posisi gendongan Fika.
Daniel dengan posesifnya menciumi pipiku setelah keluar dari ruangan USG. Dokter Ana bilang kalau anakku laki-laki. Betapa bahagianya Daniel saat mengetahui itu. Dia bilang akan membentuk pertahanan untukku saat anaknya sudah lahir. Daniel bilang anaknya akan menjadi jagoan Mami dan Papinya. Senang. Tentu saja aku senang, apalagi Daniel semakin posesif sekali denganku.
Melakukan ini dan itu selalu dia larang. Memakan ini dan itu selalu dia jaga. Dia bilang aku harus menjaga anaknya hingga nanti keluar. Yang pasti saat ini kami sedang dilingkari sebuah kebahagiaan.
Daniel memundurkan tubuhnya saat melihat sleting bajuku terbuka. Dia menaikkan baju bumilku dan setelahnya selalu berujung dengan ciuman ringan di pipi dan mengelus perutku berkali-kali saat keluar dari rumah sakit menuju parkiran.
"Kau sudah menyiapkan namanya?" tanyaku.
Daniel mengangguk seraya mengacak pelan rambutku. "Matthew," katanya. Namanya agak kebarat-baratan dan membuatku menahan tawa.
"Lalu?? hanya Matthew," kataku lagi. Dia membuka pintu mobil agarku masuk. Menahan kepalaku agar tidak terbentur mobil. Aku lihat dia berjalan memutar mobil dan menyambar pintu kemudi.
"Mmmmm Matthew Nilda Rafadinata."
"Nilda?"
"Ya Daniel Dinda," katanya dan aku mendaratkan kecupanku ke pipinya yang mulai tumbuh jenggot-jenggot tipis yang tak dia urus, tapi itu karena aku yang memintanya atau mungkin juga permintaan si jabang bayi.
"Nama yang indah," pujiku. Dia tersenyum ke arahku sebelum menginjak pedalnya.
"Stop!" Daniel hampir saja menginjak pedalnya meninggalkan parkiran jika saja wanita gila yang berdiri di depan mobil kami tak ada di sana.
Aku lihat Daniel keluar dengan raut wajah marahnya. Dia menarik wanita itu hingga aku ikut keluar dari mobil. "Kau gila ya!" kudengar Daniel memarahi wanita ****** itu. Bukankah dia sudah tak bekerja dengan Daniel lagi. Kenapa dia masih mengganggu rumah tangga orang. Rasanya aku ingin sekali menampar wajahnya itu.