Adinda

Adinda
Chapter 47



Butuh beberapa menit Dinda mengumpulkan keberaniannya. Saat dia sudah menemukan semua keberaniannya. Dia pun membuka pintu ruangan di mana Clara di rawat. Dinda memperhatikan Clara yang tengah menyama ratakan sebuah cahaya yang masuk ke dalam matanya. Clara mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali dan menormalkan hembusan napasnya yang memakai selang oksigen.


Dia tak sadar Dinda ada di ruangannya hingga Dinda datang menyentuh tangan Clara. "Maafkan aku," suara pertama yang keluar dari bibir Dinda. Air matanya yang tergenang sudah berjatuhan seiring dengan Clara yang berusaha menarik tangannya dari genggaman Dinda.


Clara menarik oksigennya. Dia menarik napasnya sejenak dan menitihka air matanya seraya mengelus pelan perutnya yang mungkin terasa kosong.


"aku tahu, tak seharusnya aku melakukan itu," ungkap Dinda membuat Clara yang mendengarya hanya mendecih di dekatnya.


"Kau pembunuh Dinda!! Kau membunuh anak kami," suara Clara menggelegar di ruangan. Meski dia baru saja siuman, tapi semua emosi yang terpendam tiba-tiba saja meluap dengan mudahnya.


"Aku minta maaf. Aku menyesal" Dinda sengsenggukan dengan tangisannya. Dia tahu semua yang dia lakukan sangat di luar sifatnya selama ini. Meski Dinda berpikir keras itu bukan kesalahannya, tapi semua tidak akan merubah apapun karena pada akhirnya Dina memang yang melakukannya. Dia sudah membuat anak Clara gugur.


"Kau tak pantas menjadi seorang ibu, Dinda. Kau pembunuh!"


Aku tak tegaa melihat Dinda diperlakukan seperti itu. Aku pun segera masuk ke dalam ruangan.


"Clara!!" bentakku. Aku menarik tubuh Dinda untuk menyingkir dari ranjang Clara. "Berhenti membentak istriku!"


"Dia pembunuh!"


"Bukan-"


"Aku akan melakukan apapun yang kau mau asal kau mau memaafkanku," sela Dinda saat aku mau menyangkal perkataan Clara.


"Aku hanya ingin hidup bahagia," Dinda bungkam mendengarnya. Tangisannya terhenti dan memerhatikan Clara yang tengah melemparkan pandangannya ke segala arah kecuali ke arahku dan Dinda.


"Aku hanya ingin bahagia, melupakan semua beban di hidupku, hanya itu!" tak lama bendungan tangis Clara keluar deras. Semuanya terasa mengheningkan suasana. Dinda yang kupeluk dan Clara yang menangis hanya memperkeruh ruangan yang awalnya terlihat baik-baik saja mendadak seperti ruangan syuting yang harus di liput semua adengannya dengan baik.


"Aku merasa kesepian kau tahu! Aku ingin bahagia sepertimu. Hanya itu!!." Clara berteriak layaknya orang yang terkena pedang di bagian tulang rusuknya.


"Tapi setelah kau merenggut anakku, hidupku terasa semakin kosong. Kau tahu itu!"


"Dinda!!" Bentakku saat Dinda melepas pelukanku.


"Kau bisa merawat anakku seperti anakmu sendiri. Asal jangan kau renggut kebahagiaanku juga untuk tetap bersama suamiku dan juga anakku. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau tanpa mengkhawatirkan apapun, asalkan suamiku jangan kau ambil. Aku juga berhak bahagia Clara!. Aku juga ingin bahagia!" tangisan yang tak terasa menumpah ruah ruangan perasaan 2 insan dan 2 orang ibu yang menginginkan sebuah kebahagiaan.


Tentu bukan hanya mereka, tapi semuanya butuh sebuah kebahagiaan. Namun apa sebuah kebahagiaan yang sebenarnya harus dia dapatkan dengan sesakit mungkin. Menggores dinding yang ada dan merobohkan segala harapan yang sudah mereka bayangkan.


"Kau bisa menimang anakku kapanpun yang kau mau,"


"Tidak-"


"Kau boleh menjenguk anakku di rumah kapanpun yang kau mau."


"Tidak-"


"Kau bisa berbagi cerita padaku jika kau kesepian,"


"Tidak-"


"Kau bisa-"


"Tidak!!!, apa kau tidak bisa pergi saja dari ruangan ini. Keluarlah!"


"Tidak sebelum kau mau memaafkanku,"


"Tidak!!, cepat keluar!!" Clara berteriak-teriak membuat Dinda kembali menitihkan air matanya.


"Ayo Sayang, kita harus keluar. Biarkan dia istirahat sendiri."


Hiksss...., Hiksss..., hanya suara itulah yang bergema di ruangan Clara yang terakhir kudengar.