Adinda

Adinda
Chapter 32



Saat aku terbangun dari tidurku pagi ini. Semampu mungkin aku berusaha mengingat apapun yang pernah aku lupakan selama 5 tahun ini. Dokter bilang aku akan segera mengingatnya saat otakku meminta mengingatnya, jadi tak perlu untukku memaksakan diri untuk mengingat semua memoriku. Mungkin hanya ada satu atau dua memori yang akan terlewatkan di otakku, tapi yang paling penting di dalam hidupku. Aku hanya ingin bisa mengingat bagaimana aku bisa melahirkan 2 orang anak dalam waktu 5 tahun belakangan ini.


Tentang kapan aku bisa menikah dengan Daniel? Mungkin lebih baik aku tidak mengingatnya, tapi tak bisa aku pungkiri lagi. Aku tak boleh egois karena anak-anakku sangat menyayangi sesosok Ayah yang brengsek di masa lalu. Laki-laki itu bilang kalau dia sudah menjadi suamiku sejak  5 tahun lamanya.


Seseorang masuk ke dalam ruanganku. Senyumnya merekah dan aku tampak mengenalinya, karena kemarin mereka sudah menjengukku. Fika dan Gilang sepertinya sudah menjadi pasangan yang serasi, tapi kenapa aku tak menemukan kemesraan mereka.


“Kenapa kalian datang ke sini lagi? Memang kalian tidak bekerja?” tanyaku pada mereka ber dua yang membawa buah-buahan untukku lalu Fika duduk di pinggir ranjangku.


"Ini...," Fika mengeluarkan sebuah kartu untukku. Aku lihat tulisan yang berantakan dan ada gambar dengan orang yang berbaring di atas ranjang. Di samping seseorang yang berbaring itu ada seorang baby yang dipeluknya lalu kulihat di ujung kartu itu ada sebuah tulisan yang bertuliskan. "I LOVE YOU MOM, I NEDD YOU SO MUCH," aku hampir saja menitihkan air mataku kalau saja Fika tak mengelus bahuku.


"That's your hero," ungkap Fika padaku.


Sebuah tanda pengenal di bawah kartu itu, Matthew Nilda Rafadinata. Itu berarti putraku.


"Setelah kau sembuh nanti aku akan membawanya. Dia tinggal denganku untuk sementara, karena kau masih berbaring seperti ini. Jangan khawatir dia tumbuh seperti anak-anak cerdas lainnya."


"Terima Kasih," ungkapku serak. Menahan tangisku yang tak boleh tumpah di depan mereka.


"Hmmmm jadi bagaimana kabarmu?" Gilang menarik bangku agar dia bisa di samping ranjangku. Dia menarik tanganku dan mengusap-usap punggung tanganku. Tak lama dia menciumnya dan tersenyum ke arahku, lagi. Sama seperti yang dia lakukan kemarin padaku.


"Aku baik-baik saja, Gilang! Kenapa kau sangat mengkhawatirkanku?" kataku padanya dan dia lagi mengelus pelan punggung tanganku.


"Entahlah, cukup banyak yang harus kuingat," kataku dan membuat Fika menganggukkan kepalanya.


Dia berdeham sejenak dan ikut menarik bangku agar bisa duduk di samping ranjangku di sisi lainnya. "Aku pasti akan membantunya, tapi di mana Cleo?"


Kali ini aku benar-benar tidak tahu. Aku lihat ruangan ini sudah kosong. Tak ada Ayah bahkan Daniel. Semalam Ayah sudah kembali ke London dan entah Daniel pergi kemana, tapi pagi tadi Daniel sempat mengantar buket bunga untukku. Dia tak membawa Cleo dan izin padaku akan pergi bekerja.


"Mungkin sedang diasuh dengan Clara," kata Gilang membuatku melotot ke arahnya.


"Kenapa?" kataku berusaha bangun dari tidurku tapi tiba-tiba saja sesuatu di perutku membuatku meringis kesakitan.


"Aduhhhh pelan-pelan dong Dinda. Bekas jahitannya pasti masih terasa sakit bukan?" ungkap Gilang membantuku tidur kembali .


Aku tak lagi mengingat apapun termasuk saat Daniel bisa menikahiku. Aku tak ingat apa Daniel menikahiku dan Clara secara bersamaan. Rasanya otakku semakin ingin pecah saja. Aku tak mengingat apapun bahkan Cleo..., mereka bilang bahwa aku sudah dua bulan koma setelah melahirkan Cleo. Ya aku melahirkan Cleo melalui sesar, begitu kata Daniel. Mungkin itulah jawaban mengapa selama ini perutku terasa sakit.


Seharusnya, aku percaya kalau aku ini sudah beranjak  umur 27 tahun, tapi aku menepis semua kata hatiku sendiri bahwa aku baru berumur 22 tahun. Jadi, kenapa aku malah kehilangan ingatanku. Aku kehilangan ingatanku dan hanya mengingat sebatas pada umurku 22 tahun. Lebih buruknya lagi ingatanku hanya tehambat pada masa-masa aku mengerti bagaimana rasanya dicampakkan oleh seseorang yang sudah mengumbar janjinya padaku untuk bertanggung jawab dan akan mencoba mencintaiku.


“Gilang...,” Gilang menolehkan kepalanya ke arahku. “Apakah Daniel mencintaiku? Apakah Daniel menikahiku karena dia mencintaiku?”


.......................................