Adinda

Adinda
Chapter 14



PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur


Daniel POV


Saat aku tak menemukan istriku di atas ranjang rumah sakitnya. Aku langsung keluar dari ruangan. Mencari di mana dia. Kenapa sepagi ini tidak ada? Kemana dia?


“Dinda!” aku mulai meneriaki namanya. Mengelilingi rumah sakit dan memperhatikan orang-orang yang sedang berjalan dengan kursi rodanya. 


“Dinda!” teriakku lagi mengingat ulang nama Dinda pasti sangat banyak di rumah sakit ini. Mungkin percuma saja aku memanggilnya seperti ini. Aku harus kembali ke ruangan.


Saat aku ingin ke ruangan Dinda tiba-tiba aku lihat seseorang yang sedang mendorong kursi roda yang aku kenali siapa pasiennya. Dinda dan juga sahabatnya Fika sedang saling senyum dan sesekali tertawa menutup bibirnya. Aku pun menghela nafasku dan segera menghampiri mereka.


Fika menampakkan senyumnya saat aku hampir sampai ke arahnya sementara Dinda menatapku tak suka. Aku sudah biasa melihat tatapannya seperti itu untuk beberapa hari ini, karena itu aku abaikan saja tatapan dari Dinda dan membalas senyuman dari Fika.


“Haii Daniel, maaf aku tidak izin padamu kalau ingin mengajak Dinda keluar. Habis dia memaksaku sih,” kata Fika seraya mengelus rambut Dinda dan juga merapikannya perlahan.


“Untuk apa izin dengannya! Dia laki-laki-“


Kutatap matanya dengan tidak suka setiap dia mengatakan itu. Kali ini diam dan mengalihkan pandangannya dariku. “Ayo antar ke kamarku,” rajuk Dinda pada Fika. Fika pun tersenyum pada Dinda seraya mengusapnya perlahan, tapi kemudian Fika seperti menatapku bertanya-tanya karena memang belum ada yang tahu tentang ini. Tentang Dinda lupa ingatan. 


..........................................


“I got you,” aku langsung menangkap tubuh Dinda dan mengangkatnya hingga Dinda berteriak nyaring di dapur.


“Daniel apa yang kau lakukan. Turunkan aku,” katanya dan aku pun segera menurunkannya karena terlihat dari wajahnya yang terlihat tidak sedang dalam mood yang bagus.


Dinda kembali berkutat dengan masakannya yang entah apa. “Kau masak apa? Padahal tadi aku ingin mengajakmu makan di luar. Kau tahu? Pengintaianku selesai Dinda. Wanita itu sudah masuk penjara dan aku kembali memiliki perusahaan mantan kekasihku. Oh ya ada banyak makanan di jok belakang mobilku. Tunggu sebentar biar aku ambilkan,” kataku lalu berjalan meninggalkannya. Aku segera keluar untuk mengambil semuanya dan kembali masuk.


Kulihat Dinda begitu fokus dengan masakannya. Dia tak sama sekali berniat membantuku membuatku sendiri bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Bukankah tadi pagi dia baik-baik saja. Lalu kenapa sekarang seperti sedang mencuekkanku?


“Haii, ada apa?” tanyaku. Dinda nampak diam dan ingin meninggalkanku setelah dia mematikan kompornya.


Kukejar Dinda dan menarik tangannya. Setelah tadi dia pulang lebih dulu dengan seenaknya dia mendiamkanku seperti ini? Memang apa salahku? Apa dia sedang protes tentang kecelakan malam kemarin? Kenapa baru sekarang? Lalu ada apa dengan tadi pagi?


“Nikahi aku atau aku akan katakan ini pada Ayah.”


“A-apa?”


“Apa kau tuli! Aku ingin kau menikahiku!” Apa mungkin dia gila! Dia mengatakan itu seakan  mudah sekali dilakukan.


“Kenapa? Kenapa kau mengatakan itu?”


“Kau masih bertanya, huh? Apa semua pria akan berpura-pura tidak tahu setelah melakukannya. Apa hanya kau yang sedang menghilangkan ingatan malam kemarin? Ha ha ha betapa mudahnya jadi seorang pria.”


Aneh sekali kenapa Dinda seperti ini? Bukankah dia juga tahu kalau aku maupun dia sedang dalam keadaan mabuk.


“Aku tak pernah melakukanya dalam kesengajaan, Dinda. Kau tahu itu!”


“Lalu kau tidak mau menikahiku?” aku terpaku mendengarnya. Kenapa terkesan Dinda sedang menuntutku. Apa dia sedang memikirkan sesuatu yang membebankan pikirannya?


“Dinda,” aku menyentuh tangannya perlahan. Dia menatapku dengan amarah dan aku bisa lihat kalau amarah itu memudar dengan embun air mata yang mulai berkaca di bola matanya. Bahkan aku bisa melihat pantulan di matanya.


“Apa yang kau resahkan? Kemarilah,” aku mendekapnya erat. Dia menangis dalam pelukanku dan aku bisa merasakan air matanya yang menembus kemejaku. Dinda menangis dengan segala penggalan sisa tangisannya yang menyesakkan dadanya. Aku pun hanya mampu menepuk-nepuk punggungnya untuk membuat dia tenang.


“Aku takut hamil. Ayah pasti akan marah padaku, Daniel.”


.


.


JENG JENG JENG!! 


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA ^^