A Story Of LIA

A Story Of LIA
SEMBILAN



..."Saat kita sudah berusaha melakukan terbaik, namun ternyata dunia mengkhianatimu apa yang bisa kau lakukan ?, TERTAWA."...


14 Agustus 1989.


Tertulis "Inikah yang disebut kasmaran itu?, sungguh aku tak bisa menahan ini."


"Untuk Lembar keempat ini, sepertinya mba akan cerita dulu dari 12 Agustus yaaaa, karena mba ingat betul, ini moment apa" ucap mba Retno setelah membalik Lembar Keempat.


"Baikkk mbaa","Iya Tante" ucap Adam dan Intan Bersamaan.


******


Ruang kelas 6x6 itu telah penuh ramai dengan murid kelas X-6. Ada dua orang yang berhalangan hadir hari ini, Ari dan Deni.


Ibu gurupun sudah selesai menjelaskan pelajaran kimia dan kali ini duduk dikursinya sembari meminum teh yang dibuatkan oleh Retno ditemani dengan Lia tadi.


Bu Liza namanya. Salah satu guru killer yang ada di SMA Angkasa, sama hal nya dengan Bu Rita, mereka berdua merupakan komibinasi Guru Sains terbaik di SMA Angkasa.


Yang satu lulusan Universitas terbaik di Indonesia di ibu kota. Dan buk Liza lulusan terbaik di Angkatannya disalah satu universitas terbaik di Sumatera Utara. Dan buk Liza merupakan wali kelas kelas Sepuluh Enam, kelas Lia, Retno dkk, dan buk Rita wali kelas kelas Sepuluh Lima.


“17 Agustus akan ada lomba cerdas cermat” ucapnya menghentikan keheningan yang terjadi kelas


“Iya bu” balas Bayu, sang ketua kelas.


“Baik, mungkin akan sama dengan tahun-tahun sebelumnya, kelas yang ibu pimpin tidak pernah kalah di lomba cerdas cermat” ucapnya bu Liza meyakinkan.


“Ibu akan pilih perwakilan kelas yang akan maju sebagai perwakilan di cerdas cermat.”


“Ibu akan lihat semua nilai kalian, dan akan memberitahu kalian melalui ketua kelas.”ucapnya.


“Baik buk” balas murid serentak. Yang kemudian tak lama dari itu bunyi bel tanda jam istirahat berbunyi.


****


Harry , Lia, Agung dan Retno seperti biasa sudah ada di bawah pohon homebase mereka. Sebenarnya ada juga murid lain yang duduk disekitar pohon ini, namun tidak ada yang membuat kelompok seperti mereka ini.


Kebanyakan hanya duduk dikursi taman yang terbuat dari batu. Dan beberapa lainya hanya berjalan atau sekedar berteduh diri dari panas.


“Teman-teman, Aku ingin ikut lomba itu.” Ucap Lia.


“Yaudah ikutlah,”balas Harry sambil meminum Es yang ada ditangannya. Sontak Lia sedikit cemberut melihat Harry.


“Lomba apa Lia ?” tanya Agung.


“Itu.....?” sambil menunjukkan orang orang yang sedang bermain permainan tradisional Gerobak sodor atau sering dikenal Galasin.


“Memang lomba itu ada Iakkk ?”tanya Retno. Heran dan merasa sepertinya lomba itu tidak ada.


“Harry, ayo kita jumpai OSIS, saatnya pembalasan” ucap Lia, yang membuat Agung dan Retno pun terheran.


“Ha ?????, Ngaaapainn ?” Balas Harry.


“Aku mau minta lomba ini diadakan, sebagai balasan udah membantu mereka selama ini,” jawab Lia. Namun Harry diam saja.


“Harry, Ayooooooo” Teriak Lia kali ini dan bangkit dari duduknya menarik Harry.


“Iya-iya sabar” balasnya.


“kalian tunggu disini ya, “ucap Lia. Dan dibalas dengan kode jempol oleh mereka berdua.


*****


Bel istirahat telah berakhir menandakan semua siswa dan murid kembali melanjutkan proses belajar dan mengajar, beberapa siswa sibuk menghabiskan makanannya di kantin, para murid cewekpun sedang berjalan menuju kelasnya bersama temannya.


Agung dan Retnopun kini tiba didepan kelas namun tak melihat Lia dan Harry didalamnya.


“mereka belom balik juga ya “ ucap Retno sambil terus berjalan menuju kursinya.


“ya.... iyaaa.., lihat tuh kursinya aja masih kosong” balas Agung.


“Apa kita ke ruang osis aja ya ?” sebut Retno kembali


“tuhhhhhh, merekaa nongol,” balas Agung tak lama kemudian setelah Retno mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tasnya.


“Reeeeeeeeeeeeeeee” teriak Lia, kemudian memeluknya


“Kenapa ???” Retno terkejut.


“Masih belum disetujui sama wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, dan untuk keputusannya nanti akan ada di mading kita” ujar Lia sedikit kecewa, yang kemudian duduk dikursinya.


“Percuma Aku bawa kamu Ri,” ucap Lia dengan ekspresi sedikit kesal.


“dieeeeeeeeeeeeemmmmmm seribu bahasa” ucapnya. yang membuat Harry sedikit menahan tawanya. Melihat ekspresi Lia yang tak terduga olehnya.


“Lah, kamu kan gak bilang untuk bantu kamu ngomong, ya aku diam saja menemanimu” ucap Harry duduk dikursinya dan mengambil buku pelajaran berikutnya.


“Yaaa, maunya dibantu gitu kek, entah bilang apa gitu....,” Lia menoleh kebelakang.


“yaaaaa, lihat tuh pak insap sudah masuk” ucap Harry yang membuat Lia terpaksa membalikkan kembali badannya.


‘Aku merasa kita seperti pohon disini yak, tak dianggap, atau hanya aku yang merasa ini seperti keributan dua sejoli’ baca Retno disebuah kertas pemberian dari Agung, yang membuatnya sedikit menahan tawanya dengan senyum.


“Eeeeee, eeeeee, eeeeeehhhhhh, jadi gini tante waktu sekolah dulu, cieee- cieeeee” ucap Intan menggoda mba Retno yang membuat Ia menghentikan cerita dan membuatnya tersipu.


“Tannnn,,, biarkan dulu mba Retno selesai cerita, liat diaa tuh jadi tersipu mengingat kenangannya dengan Agung,, cieeeeeeeeee, hahahahhahaha” Adam yang awalnya menegur Intan malah ternyata satu komplotan dengannya.


“Tapi nama paman, sepertinya gak Agunglah”ucap Intan sambil mengingat nama suami mba Retno.


“Kami cuma teman waktu itu kok, teman dekat banget” balasnya singkat. Tanpa mengeluarkan ekspresi apapun.


“lanjut lagi Tan,” ucap Intan kepada Tante nya ini.


******


14 Agustus 1989


Pagi itu semua murid SMA Angkasa menggunakan pakaian coklat muda khas sebuah organisasi bernama 'PRAMUKA', begitu juga Lia dkk.


Semua pakaian anak kelas Sepuluh Enam tampak biasa saja, dengan atribut hasduk dan tali peluitnya dengan baret coklat ada bulunya.


Tapi ada Dua siswa yang sedikit mencolok disitu, yang pertama Agung dengan baju pramukanya yg sedikit ketat membentuk tubuhnya, dilengkapi dengan lencana tanda penghargaan ikut kegiatan dan keahlian, beserta tanda jabatan di saku kiri dan tingkatan di pundaknya, serta baret polisi yang terbentuk rapi dikepalanya, menarik perhatian satu sekolah mengapa Anak kelas satu ini terlihat luarbiasya.


"wawwwwww, ini Agung yang ku kenal kan ?" Tanya Lia, dan anggukkan oleh Retno setuju


"Iyalah, mana ada lagi orang sekeren Aku ini, " balas Agung


"Bahkan Harry pun tak begini bajunyaa liat tuhhh, hahahaha" sambil menunjuk Harry yang telah didekat mereka dan mendengar percakapan ini.


"Dia gila pramuka sejak usianya 10 Tahun jadi wajar saja" ucap Harry


"Sebenarnya kakekku yang bakal jadi pembina hari ini, sekalian pemberian tanda jasa kepadanya, jadi mau tak mau aku harus gunakan pakaian ini untuknya" balas Agung.


"Keren Gung," Ucap Lia


"Iyaa, Keren banget malah" ucap Retno.


" Terima kasih, aku baris disana ya sebagai petugas pembawa tanda penghargaan" balasnya sambil tersenyum.


" Oke Broo" Ucap Lia dan Retno kompak.


Upacara Hari Peringatan Hari Pramuka di sekolah Angkasa berlangsung dengan Khidmat, dan setelah upacara, semua siswa bebas melakukan aktivitasnya, Ada yang menuju kantin, ada yang coba mengabadikan kenangan dengan berfoto menggunakan kamera milik seorang guru. semuanya tampak gembira dan senang dengan upacara yang berlangsung hampir dua jam lebih itu.


"Namun, Ada satu hal yang membuat Aku heran, terdiam, terpelongoh dan tak menyangka di hari itu, Harry yang tengah berdiri sambil menunduk, terjatuh air matanya, tersedu-sedu dihadapan seorang pria paruh baya yang tak lain dan tak bukan kakeknya Agung, untungnya ada Agung disampingnya berusaha menenangkannya." ucap mba Retno menandakan suasana kembali ke masa kini


"Aku berusaha mencari Lia yang tak sengaja terpisah denganku saat swa foto bersama teman-teman kelas, untuk memberi tahu orang yang selama ini menolongnya sedang menangis tersedu-sedu."


"Dan akhirnya kutemukan Ia setelah berlari kelorong sekolah dan mencari kesana kemari, namun sedikit menyakitkan, kulihat Ia bersama seorang Pria yang tak lain dan tak bukan Andy, kakak kelas Dua belas, Mantan ketua osis, yang ketampanan dan kebaikannya membuat wanita manapun terpana olehnya."


"Namun melihat raut wajah Lia saat itu, Aku tak bisa Apa-apa. Raut wajah seorang wanita yang sedang kasmaran." Ujar Mba Retno yang membuat Adam dan Intan Terdiam hening.