A Story Of LIA

A Story Of LIA
EMPAT LIMA



...“Ada ribuan pertanyaan yang muncul dikepalaku saat ini, tapi itu mungkin, tak sebanding dengan pertanyaan yang muncul di kepalamu bukan ?”...


Langit sudah menggelap ketika para siswa telah duduk nyaman pada kursinya di dalam bus, kecuali Lia dan Harry. Terkhusus Harry, dengan sepucuk surat sakti yang diberikan pada salah seorang kenalannya untuk disampaikan kepada Randy, isinya meminta Randy untuk mengganti posisinya di dalam bus menemani Retno.


Tapi hingga saat ini, keberadaannya masih tdak diketahui.


Lia pun yang saat ini duduk di mobil bagian tengah sendirian dikarenakan guru yang menemaninya berada didepan tepat disamping pak supir.


Lia hanya tertunduk lesu, memikirkan apa yang terjadi. Ada rasa kekhawatiran yang muncul didalam dirinya terlebih lagi hanya dia yang ada didalam mobil ini.


Tapi dia berusaha untuk membuang pikiran negatif ini, dan berusaha tetap tegar nantinya di hadapan keluarganya.


Dia mengambil buku diary yang selalu dibawanya menulis beberapa huruf dan kata yang menjadi beberapa kumpulan kalimat dan paragraf.


Matanya berlinang, namun tidak ada airmata yang jatuh karena sebelum jatuh kepipinya airmata itu langsung diusap dengan kedua tangannya.


Tiba tiba sebuah kertas mengenai tangannya jatuh ntah dari mana, dia menoleh ke kanan dan kiri tidak ada siapa-siapa, heran, darimana kertas ini datangnya.


Kemudian mengambil kertas itu dan merapikan remukan kertas tadi. tertulis :


'Lia, aku Harry, ada di bagasi, bagaimana keadaanmu ?, tenang, aku bersamamu kok, ya walau di dalam bagasi ini, jangan kasih tahu guru ya, diam diam saja, bisa berabe ntar kalau ketahuan' LIa tersenyum,


Hal gila apa yang akan dilakukannya ? tapi wait, bagasi ? bagai mana caranya masuk kesana ?, Lia menulis kembali di kertas itu dan melipatnya rapi dan kemudian mengopernnya dan menyelipkannya kebelakang, kursi Harry yang sedang berbaring, meringkuk agar muat dan tidak ketahuan dapat meraihnnya dan kemudian membacanya.


'Kau gila Harry, padahal sudah ku minta untuk menemani Retno, malah menyelinap kesini, jadi bagaimana Retno disana ?, dan kau pun, bagaimana menjelaskan ini kepada guru pendamping nanti ?, terus, tulisanmu jelek banget disini gak ada yang lebih rapi lagi ?' balas Lia.


Membacanya tentu saja Harry tersenyum, untunglah Ia tidak mempersalahkan aku menyelinap disini dan hanya mengatakan aku Gila, tapi ya begitulah Lia, terlepas dari itu aku haus dan lapar.


beberapa menit kemudian, Ia mengambil kertas itu kembali dan menulisnya, lalu menyerahkannya kembali.


Lia mengambil surat itu, dan kemudian membacanya,


'LIA, AKU HAUS & LAPAR' Tentu saja hal itu membuat Lia tersenyum membacanya,


“Rasakan, siapa suruh mengikutiku” ucap Lia dalam hati dan tidak membalas pesan itu.


Harry menunggu dengan sabar balasan surat itu , namun mungkin mata nya sudah tidak bersahabat, beberapa menit kemudian Ia langsung tertidur didalam bagasi.


Lia sendiri lupa bahwa Harry mengikutinya dan berada di dalam bagasi, pikirannya terfokus pada situasi rumah duka. Ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa, yang dia tahu Ia harus terlihat kuat.


Kembali ke masa sekarang,


“Jadi ?, seriusan ?, Harry menyelinap ke dalam bagasi ?” tanya Intan sambil terus mengemudikan mobilnya di jalan tol yang memang saat ini lenggang.


“Iya, akupun begitu mendengarnya tidak menyangka. Tapi itulah Harry, aku tak menyangka pria paruh baya itu senekat ini semasa mudanya.” Balas Adam.


“ Tapi Tan, pecinta novel romantis bukan ?” tanya Adam padanya sambil melihat foto lama itu kembali.


“Tentu saja, kenapa ?” tanya Intan,


“Entahlah ini terdengar romantis atau tidak, tapi jika aku merasakannya. Tindakan yang dilakukan Harry cukup untuk meyakinkan bahwa dia memang mencintai sahabatnya itu.” Ucap Adam.


“Maksudmu ?” tanya Intan kembali.


“Yaaa, lihat saja perlakuannya selama ini kan ?, mana ada lelaki yang rela sepertinya, oke-oke mungkin ada, tapi satu dua kan ?” ucap Adam.


“Apasih Dam, aku makin tidak mengerti maksudmu” balas Intan.


“Makanya, orang bercerita soal sejarah, di dengar, bukan tidur” ucap Adam sambil mengambil permen kopi yang berada di dekat tangan kanannya.


“Ya kalau aku tidak tidur, kita gak akan bisa balik dan akan semakin mengganggu tante” balas Intan.


“Alah, alasanmu Tann” ucap Adam kembali.


“Tapi seriusan, apa yang terjadi berikutnya, aku penasaran” pinta Intan kembali.


“Okee, aku lanjuti.” balasnya.


Kembali ke masa lalu,


Harry terbangun dalam kondisi mobil yang sudah tidak berjalan. Ia bisa merasakan tidak ada getaran yang muncul sehingga mobil pun terasa diam.


Pelan iya buka bagasi mobil itu, dan ternyata sudah ada Lia didepannya dengan sebuah minuman dan Roti.


“Sudah bangun ?” Tanya Lia begitu Harry keluar dari bagasi dan meluruskan punggung dan melakukan sedikit gerakan senam untuk meregangkan otot-ototnya yang mulai kaku.


“Terima kasih ya, aku benar benar kering di dalam sana, pengap” ucap Harry.


“Pengap tapi masih bisa tidur ya?” ucap Lia sinis pada sahabatnya itu. Harry hanya bisa tertawa sedikit.


“Kau berhasil membuat sekolah geger,” ucap Lia.


“Kenapa ?, ada masalah apa ?” tanya Harry kembali, yang padahal Ia sendiri tahu masalah apa yang telah ditimbulkannya.


“Seriusan bertanya, atau pura pura tidak tahu ?” tanya Lia kembali.


“Yaa, Maaf, tahu kok, tapi yang penting aku sudah ada disini dan kau tak perlu khawatir ataupun murung lagi.” Balas Harry dengan senyumannya.


“Dasar bodoh,” balas Lia kembali.


Dua orang pria datang mendekati mereka, itu sudah jelas guru pendamping dan juga supir yang akan mengantarkan Lia, sebenarnya tadi begitu tiba di parkiran ini, mereka sedikit terkejut melihat seseorang ada di dalam bagasi, Lia pun dan terkejut mendengarnya lalu teringat bahwa itu adalah Harry dan berusaha menjelaskan ke guru pendamping tersebut.


Walau sedikit kesal dan agak kecewa, berkat penjelasan Lia yang cukup meyakinkan dan logis, membuatnya mengizinkan Harry untuk ikut, dan segera pergi ke tempat telepon umum untuk menghubungi pihak sekolah disana.


Dan ya, seperti yang dikatakan Lia sebelumnya, keadaan di penginapan sedikit ricuh dengan rombongan bus Harry yang sadar tidak adanya dia begitu tiba di penginapan.


Beberapa mencari, bahkan ada yang mengira Ia mungkin tertinggal di pantai selatan, menghilang di telan penghuni nya.


Untunglah dengan menelponnya guru pendamping yang bersama dengan Lia dan Harry saat ini membuat mereka lega dan bersiap untuk mengatur hukuman yang tepat untuk Harry.


“Sudah dekat, tinggal sejam lagi, kamu bisa duduk dibelakang bersama Lia” ucap guru pendamping pada mereka dan membuat mereka semua masuk kedalam mobil.


Sebagaimana acara duka kebanyakan, Harry terlibat di proses pemakaman secara langsung, mulai dari membantu mengambilkan air untuk memandikan jenazah, mengkafani, menyolati bahkan ikut mengantarkan dan membopong hingga ke tempat peristirahatan terakhir.


Tak ada airmata yang jatuh dari wajah Lia, namun wajahnya begitu linglung dan kosong. Beberapa kali Ia tersenyum, berusaha untuk kuat menerima kenyataan yang ada.


Ia mendengarkan para pelayat yang menasehatinya, isak tangis adik, dan abang ayahnya sudah cukup untuk membuat seisi ruangan itu terdengar keluar. Hingga membuat Ia tak mampu mengeluarkan ekspresinya dan hanya bisa berusaha untuk kuat.


Guru pendampingpun sudah kembali sejak hari pertama, dan praktis meninggalkan Harry.


Sebenarnya Harry bisa saja ikut dengannya, tapi kali ini kembali kekerasan hatinya membuatnya tetap tinggal dan akan kembali bersama Lia setelah malam ketiga.


Kembali ke masa sekarang,


“Dimana romantisnya Adam ?” tanya Intan.


“Sabar, ini aku mulai ceritakan” balas Harry.


Kembali ke masa lalu,


Tiga hari berlalu begitu cepat, Harry seolah menjadi bagian dari keluarga Lia dengan membantu dan mengerjakan apa yang bisa Ia kerjakan. Cukup sederhana, dan Ia bisa membuat keluarga Lia menerimanya.


Mereka berdua sudah berada di stasiun saat ini. Tujuan mereka jelas kembali ke kota dan kembali melanjutkan aktivitas sekolah seperti biasanya. Terkhusus Harry akan ada hukuman yang akan menantinya.


Kereta api sudah berjalan meninggalkan stasiun itu dan tak lama setelahnya mereka tiba di kota tempat dimana mereka belajar.


Harry tentu khawatir pada Lia dan tentu mengantarnya hingga rumahnya. Rumah itu, tapi diperjalanan mereka menuju rumah Lia. Lia berhenti.


“Kenapa kau diam saja bodoh ?” tanya Lia,


“hmmm, entahlah, aku hanya berusaha untuk memahami dan mengerti yang sedang kau rasakan,” balas Harry.


“Ada ribuan pertanyaan yang muncul dikepalaku saat ini, tapi itu mungkin, tak sebanding dengan pertanyaan yang muncul di kepalamu bukan ?” Jelas Harry.


Lia menatap wajah sahabatnya itu, perlahan padangannya mulai terhalangi air.


“ehhh” ucapnya refleks kemudian mengusap matanya,


“Kenapa aku menangis ?” tanya nya refleks,


“Harus kuat Lia, tak ada yang bisa menghentikan maut” ucapnya, tapi airmatanya semakin deras jatuh.


Harry melihat itu, memegang kedua bahu Lia, dan mengarahkannya untuk duduk kebangku yang ntah kenapa itu bisa berada di situ.


“Menangislah, takkan ada yang mendengar atau melihatmu saat ini” ucap Harry pelan. Membuat Airmata dan tangis yang berusaha Ia tahan akhirnya pecah.


“Tak, apa menangislah, tak ada yang melihatmu, kau juga seorang gadis biasa yang berhak menangis karena kehilangan seseorang” ucapan Harry membuat tangis itu semakin kencang.