A Story Of LIA

A Story Of LIA
DUA SEMBILAN



..."Jika memang aku salah, aku akan menerima hukumannya. Tapi jujur, aku tak bisa meminta maaf pada mereka karena hati dan logikaku merasa tak salah”...


Lia yang kini berjalan cepat yang jika dilihat dari arahnya Retno tahu Ia menuju ruang guru.


“Liaaa, sabar, tunggu aku” ucap Retno. sambil mempercepat langkah kakinya juga.


Air matanya tak berhenti keluar, dua orang terdekatnya berkelahi hanya karena hal sepele yang mungkin bisa diselesaikan dengan mudah dan tidak diperpanjang seperti ini.


Suasana raung guru begitu hening bahkan mungkin suara jarum yang jatuhpun akan terdengar oleh siapapun.


Andy, Harry dan beberapa kakak kelas yang lain tertunduk salah didepan hadapan bu Rita.


Namun terlihat wajah menahan sakit yang dialami oleh kakak kelas, mulai dari Andy yang mengalami luka di bibir dan lebam diwajahnya, beberapa kakak kelas lain memegang bagian lengan dan bahunya yang mungkin terkilir akibat gerakan yang mereka terima.


Lia masuk keruang guru, namun dihadang oleh pak Insap dan memintanya untuk menunggu diluar.


hingga Ia dan Retno hanya bisa melihat dari balik jendela ruang Guru.


Bu Rita masih memegang penggaris kayu yang panjangnya 100 cm itu dan berdiri setelah mungkin emosinya agak mereda. Namun, bu Liza yang langsung masuk dan berdiri dihadapan Harry menamparnya keras hingga terlihat darah disela giginya.


“Beladiri yang kau pelajari, bukan untuk melukai teman atau kakak kelasmu!” sentak bu Liza.


Tapi Harry yang tahu watak dan karakter bu Liza, hanya perlu diam tanpa ada banyak alasan, karena yang dibilang oleh bu Liza memang ada benarnya.


Sebuah tinju mendarat ke perut Harry tanpa Ia persiapkan nafas agar tidak terlalu sakit, yang membuatnya sedikit meringis dan memegang perutnya.


"Pushup" Perintah bu Liza menghukum Harry.


"Jangan berhenti sampai saya bilang berhenti" bentak bu Liza.


Andy dan kakak kelas yang lain tersenyum sinis, melihat hanya Harry yang dihukum dan merasa mereka benar.


"Bocah baru gede ini belum paham sistem yang ada di Indonesia ini bahwa dia yang ber-uang yang menjadi Raja" bisik salah satu siswa.


Melihat sikap kakak kelas yang begitu bu Rita naik darah dan memukul kaki kakak kelas tersebut satu persatu hingga pada Andy penggaris itu patah.


Tak lama setelah itu beberapa orang tua yang berkelahi mulai datang termasuk orangtua Andy yang memang merupakan salah satu anggota legislatif dikota ini.


Harry dan Andy dibawa keruang kepala sekolah untuk dilakukan tindak lanjut, namun tidak ada yang orangtua yang mendampingi Harry.


Sudah lima menit Harry berdiri dengan kepala tunduk mendengar ucapan penuh gimik dan argumentatif dari orangtua Andy hingga membuat Harry tak heran mengapa Ia bisa menjadi anggota legislatif. Tangannya pegal, pipinya kebas dan perutnya terasa masih sakit akibat pukulan bu Liza tadi, Istri dari orang yang mengajarnya beladiri.


Terdengar ketukan pintu dari arah kanan Harry.


“Permisi, saya wali dari Harry” ucap suara yang memang sudah tak asing bagi Harry. Kepala sekolah menerimanya, dan memintanya duduk diantara mereka.


Praktis siswa yang tertinggal cuma Harry dan Andy.


“Kakek” ucapnya dengan tatapan penuh iba.


Namun dibalas dengan senyuman oleh kakeknya, dan sedetik kemudian tatapan kesal yang membuat Harry refleks tersenyum layaknya seorang cucu yang meminta perlindungan ke kakeknya.


Terlihat aura ketegangan diantara masing masing wali murid.


Sekali lagi, dengan diplomatisnya Orangtua Andy meyakinkan kepala sekolah bahwa tindakan yang dilakukan Harry harus diberi hukuman yang berat.


Dan Andy hanya tersenyum seolah telah memenangkan pertemuan ini dengan dibela habis habisan termasuk mengunkit prestasinya yang telah diberikan untuk sekolah.


Harry semakin panas namun tetap menjaga marwah kakeknya dan tetap berdiam dengan tunduk.


“Apa alasanmu sampai mengeluarkan tinjumu ?” tanya sang kakek pelan, penuh wibawa.


“Aku melihat seorang gadis yang juga sahabat dekatku, terpaksa mengikuti circle yang tak diinginkannya” wajah kakeknya heran seolah meminta alasan lebih.


“ Dan aku tak suka itu, jadi ku ajak wanita itu untuk berbicara sebentar, namun dia seolah tidak senang dan mulai mendorongku.” Jelasnya kejadian tadi.


“Aku coba menahan emosiku, namun Ia malah malah terus mendorongku hingga tiga kali lalu meninjuku” sambung Harry.


“Hal itu membuatku tak bisa menahan emosiku lagi, jadi aku membalasnya, lalu kakak kelas lain malah mencoba mengeroyokku, tapi aku mengelak dan berusaha membela diriku.” Ucap Harry dengan ekspresi serius mengingat kejadian tadi.


“Tak seharusnya Ia memperlakukan seseorang seperti tadi" ucapnya mulai tenang,


"jika memang aku salah, aku akan menerima hukumannya, tapi jujur, aku tak bisa meminta maaf pada mereka karena hati dan logikaku merasa tak salah” jelas Harry mengeluarkan semua isi pikirannya.


“Benar itu nak ?” tanya kakek pada Andy.


“Tidak kek, dia yang memukul diluan” ujar Andy, berbohong meyakinkan, menjelaskan panjang lebar kejadian tadi se-nyata dan se-logis mungkin, sehingga membuat sang kakek hanya tersenyum melihatnya.


“Tak heran, ada yang mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya” ucap kakek tersenyum licik.


Kepala sekolah dan ayah Andy yang mendengar dan melihat ekspresi kakek langsung merubah posisi duduknya.


“Aku mengenal bocah yang kau tuduh ini sejak usianya 5 tahun, dia tinggal bersamaku dan aku tahu karakternya luar dan dalam” ucap kakek.


“Aku rasa tidak adil hanya Ia yang diberi hukuman karena ini” jawab kakek dengan penuh wibawa. Kepala sekolah tertegun, dan Ayahnya Andy kembali berdalih membela anaknya dan meyakinkan kepala sekolah lagi.


Tak lama setelah itu, Lia dipanggil menjelaskan apa yang terjadi. Namun, Lia hanya menangis dan banyak mengatakan tak tahu berusaha mengamankan dirinya.


Harry hanya tersenyum sedikit tak menyangka, namun Ia bersyukur, dengan begitu Lia tidak akan kena getah atas kejadian ini.


Pada akhirnya hari sudah mulai sore dan kakek pulang bersamanya.


Dengan raut wajah yang tidak menyangka dan sedikit kecewa, namun tetap berusaha tersenyum pada Harry.


Harry mendapat hukuman berupa skorsing 1 minggu.


Namun yang mendapatkan skorsing ini hanya Harry. Andy dan temannya yang lain, hanya menulis permintaan maaf dan mendapat hukuman ringan lainnya.


Harry juga diminta untuk membuat perjanjian jika sekali lagi membuat masalah akan dikeluarkan dari sekolah.


Hukuman ini yang membuat kakek merasa tidak puas dan sedikit kesal. Diperjalanan hingga sampai di rumah kakek hanya diam.


Tak lama setelah itu, dengan tasnya yang terlihat cukup panjang, Harry tau, itu tas pancingnya.


“Ayo ikut kakek” pintanyaa, Harry tak mampu berkata banyak dan ikut dengannya dibelakang.


Ia ambil motornya dibagasi belakang rumah, dia ajak Harry naik motor itu dan pergi menuju sebuah sungai dan memberikan pancingan kepada Harry dan memancing dengannya.


Disitu kakek cerita banyak masa mudanya bersama kakek kandung Harry, dan menjelaskan alasan mengapa Ia sejak kecil dikirim dan diminta untuk tinggal bersamanya.


"Kakekmu merasa Ia gagal mendidik ayahmu, sehingga Ia memintaku untuk mendidikmu agar tidak seperti Ayahmu."


"Tapi syukurlah, kejadian tadi meyakinkan aku bahwa kau tak seperti Ayahmu"ucap kakek Agung dan tersenyum tulus pada Harry.


Sekali lagi. Harry tak kuasa menahan airmatanya dan menangis didepan kakek tersebut.


*****