
..."Seseorang akan benar-benar menjadi kuat ketika ingin melindungi seseorang yang berharga."...
...~ Haku...
Hari ini adalah hari pertama sekolah pada semester kedua. Retno yang datang seperti biasa menggunakan angkot kini telah berjalan setelah turun di simpang tiga tadi.
Sebenarnya setelah mendengar sedikit curahan hati Harry, entah mengapa Ia merasa seperti tidak enak untuk menanyakan hal hal berbaur tentang Lia pada Harry.
Praktis setelah kepulangan mereka, Retno tidak pernah bertemu atau setidaknya diskusi bersama mereka lagi. Hanya Lia yang kemarin datang itupun memulangkan selimut yang dipakainya selama kegiatan kemah bakti.
“Reeee, kok bengong” ucap Dilla yang kini merangkul tangannya layaknya seorang adik.
“Mana ada aku bengong Dil” balas Retno,
“Dari tadi aku sudah panggil kamu tau, tapi kamu terus berjalan seolah tidak mendengarkan, apa namanya coba kalo gak melamun.” Ujar Dilla.
Pernyataan Dilla ada benarnya juga, karena memang dia tak mendengar sama sekali ada yang memanggil, mungkin pun kalau tidak disentuh dan dirangkul begini, mungkin Ia takkan sadar.
“Sebenarnya mikir apa sih ?” tanya Dilla.
“Ohhh enggakkk, enggak ada kok” balas Retno.
“Aku kangen bangetttt sama kamu nih” ucap Dilla.
“Aku juga mah, gimana tahun baru kamu ?” tanya Retno.
“Ya seperti biasa bersama keluarga, bakar ikan dan bakar ayam” balas Dilla.
“Ohhhhhh” jawab Retno.
“Kamu gimana Re ?” Tanya Dilla kembali.
“Membosankan banget, malah aku ndak bisa menghubungi kalian” ucap Retno.
“Seriusan, Agung mengajakku untuk main kerumahmu loh Re, “ ucap Dilla.
“Tapi ya karena kami berdua gak tahu, yaaa akhirnya ngak jadi.” Sambung Dilla.
“Eh, seriusan ?, “ tanya Retno balik sedikit terkejut mendengarnya.
“Iya. dan ada yang mau aku kasih tahu ke kamu nihh” ucap Dilla begitu riang. Sambil memberi isyarat untuk berbisik yang membuat Retno mendekatkan telinganya.
“Aku dan Agung resmi jadian semalam” bisiknyaa.
“Seriusaaaaaaannnn wehhhh ?” tanya Retno balik.
“iyaaaaaa, hehehehehe” balas Dilla.
“Dillaa, Retnooo” teriak Lia yang langsung menyuruh Andy untuk meminggikan motornya dan pamit untuk jalan bersama sahabatnya.
Terlihat dari jauh bagaimana Andy mencium pipi Lia yang jujur bagi Retno khususnya terlihat sangat menjijikkan. Tapi tak mungkin Ia berkata seperti itu pada sahabanya.
“Nanti kita cerita ya, jangan kasih tau siapa-siapa dulu ya Re” pinta Dilla sesaat sebelum Lia sampai.
“Oke,”balas Retno.
“Ada apa ini bisik bisik ?” tanya Lia,
“Gak ada Lia, ayooo” ucap Retno yang kemudian merangkul sahabatnya itu diikuti Dilla disisi lainnya.
“Okeee” ucap Lia melangkah bersama sahabatnya.
****
Kini pohon yang menjadi markas mereka sudah tak berantakan lagi, baru saja Harry dan Agung menyapu dan membersihkan dedaunan dan sampah yang entah oknum mana yang menyerakannya disini.
"Sorry baru dateng, tadi ke kantin dulu" ucap Lia bersama dengan Retno dan Dilla.
Semenjak PKS (Pekan Kreatifitas Siswa) Dilla menjadi anggota tambahan dan membuat mereka yang duduk di Markas DPR (Dibawah Pohon Rindang) menjadi 5 orang.
"Liaa" ucap Agung
"Apa ?" balasnya sambil meletakkan makanan yang dibeli ke bawah..
"Tuh, pangeranmu datang" ucap Agung sedikit sinis.
Terlihat wajahnya yang tidak senang melihat Lia seperti dibatasi ketika bersama mereka.
"Ohh, waitt yaa" ucap Lia dan bergegas pergi menjumpai Andy. dan kemudian pergi bersamanya dengan senyuman yang dipaksakan.
Entah mungkin kebetulan atau memang sudah disengaja, Dilla duduk tepat disamping Agung. Ngobrol asik seolah Retno sedang menonton drama percintaan klasik anak SMA.
" Ri.. lu mau kemana ?"ucap Retno begitu melihat Harry berdiri dari tempat dimana dia duduk tadi.
"Kamar mandi bentar" balasnya.
"Ikut" Pinta Retno
"Ogah jadi nyamuk liatin pasangan yang sedang kasmarannya" balas Retno sambil berdiri.
"Wait, wait...., Bagaimana bisa ?" ucap Harry terkejut mendengar kabar ini. Dan melihat ekspresi Agung dan Dilla yang seperti tertangkap basah.
"Kau harus menjelaskan ini nanti Gung" sambungnya sambil menatap serius ke Agung.
"Reee, kan sudah kubilang"ucap Dilla terlihat pipinya memerah.
"Hehehe maaaf, keceplosan, tenang, tanpa kubilang pun si Harry bakalan tau karena si Agung yang bakal kasih tau, ya gak ?" ucap Retno melihat ke arah Agung
Retno dan Harry kini berjalan dilorong kelas menuju kamar mandi sekolah yang berada tak jauh dari kantin.
"Aku nunggu dikantin ya" ucap Retno.
"Okee" balas Harry.
Terlihat diujung saja Lia bersama pacarnya dan kakak kelas lain sedang duduk dan tertawa.
Namun hanya mereka yang tertawa, sedangkan Lia terlihat seperti memaksakan tawanya. Retno paham sahabatnha ini, namun mendatangi dan menganggu mereka terasa seperti tidak sopan.
"Toh Lia juga pacarnya Andy kan, "gumamnya Dalam Hati.
"Ngeliat apa Re ?"Tanya Harry yang kini udah berada disampingnya,
"Aduh jangan sampai Harry lihat ini" ucapnya dalam hati lagi.
"Gak ada Ri.. yokk balik"ucapnya sambil menarik Harry.
"Ehhh tunggu, itu Lia kan ?"tanyanya..
"Bukan, Bukan"jawab Retno sambil menarik Harry.
"Iyaaa itu dia, tunggu Re" ucap Harry sambil menghalangi tangan Retno yang coba menariknya.
"Kenapa dia berekspresi seperi itu ?" tanyanya pada Retno.
"Aihh kubilang juga apa"gumamnya dalam Hati lagi.
"Anuu, mungkin sedang tidak enak badan" balas Retno tanpa pikir panjang.
"Ooh gitu,"Balas Harry sambil senyum.
"Alhamdulillah, sepertinya bakal Aman" bisik Retno pelan.
"Tunggu sini yaa" Ucap Harry,
"Ehhh Rii, tunggu, kamu ngapain ?, Rii" panggil Retno namun tak dihiraukan oleh Harry dan hanya tersenyum padanya.
"Permisi Abg jago, bisa Aku bicara sebentar dengan sahabatku ini," ucap Harry begitu sampai tepat didepan kakak-kakak kelas XII Ipa 3.
Lantas Lia yang melihatnya begitu terkejut dan heran ini anak kesambet apa. Tapi Andy langsung berdiri didepannya.
"Kalau aku jawab enggak lu mau apa ?" ucap Andy dengan wajah sombongnya.
Jika kalian lihat ini, image mantan Ketua Osis dan wibawanya seorang Andy menghilang, yang ada Raut wajah berandalan yang risih melihat berandalan lain mengganggu mainannya.
"Ohhh yakin gak boleh nih ?" tanya Harry tersenyum lalu melihat Lia
"Yakin lah" ucapnya sambil mendorong Harry.
Harry yang terdorong badannya melihat Lia yang menggelengkan kepalanya tanda jangan.
Namun Harry tersenyum ikhlas, lempang, tanpa beban dan memberikan isyarat mereganggkan 5 jari tangannya, yang dapat dipahami Lia sebagai ucapan 'Tunggu' atau 'sabar'
Harry mendekati Lia, dan tidak menggubris larangan dari Andy. Melihat sikap Harry seperti itu, Andy menjadi kesal dan menarik lengan baju Harry dengan sentakan hingga koyak.
Harry tersenyum sinis.
"Harry please tahan" ucapan itu terlihat dari mata Lia yang sangat dipahami Harry.
"Tidak papa Li... tenang, sabar ya" kini teman teman Andy pun berdiri melihat sikap Harry yang menyebalkan.
Retno pun sadar kalau Harry takkan terhalangi dan langsung lari menuju DPR untuk memanggil Agung.
benar saja prediksi Retno.
Harry yang didorong kesekian kalinya, langsung menarik tangan Andy dan mengarahkan Sikunya ke pelipis Andy.
Mereka berdua terjatuh, Namun pelipis Andy berdarah yang membuat teman-temannya pun bereaksi.
Gawatt aku harus cepat. Perkelahian tak bisa di hindari.
"Andy jangannnn" teriak Lia menghentikan pacarnya yang sedang jatuh memegang pelipisnya. Dan berusaha menghadang Harry dengan tubuhnya agar tidak bertindak lebih jauh. Namun Lia malah ditolak oleh Andy hinga terjatuh. membuat emosi Harry sampai pada puncaknya.
Dua orang kakak kelas datang berusaha mengeroyoknya. Dengan gerakan khas bela dirinya. Kakak kelas tersebut pun kini telah jatuh namun ada satu pukulan yang mengenai pipi Harry yang membuat gusinya kini berdarah.
Lia yang terjatuh kini dibantu oleh Retno yang baru saja tiba untuk berdiri, terdengar nafasnya Retno yang tidak beraturan tanda iya baru saja berlari.
"Rii, cukup, Rii" teriak Agung yg kini didepannya.
Terlihat Lia yang menangis, membuat Dirinya semakin beringas, Namun Agung yang sudah datang memegangnya erat.
"Sadarr brooo, sadar.. kita tolongi Lia dulu" Ucap Agung yang memang melihat siku Lia berdarah akibat jatuh.
Sontak kantin menjadi Heboh akibat perkelahian ini, dan guru-guru pun akhirnya datang karenanya.
Untung saja beberapa menit sebelum perkelahian terjadi, siswa sudah masuk ke kelas jadi hanya beberapa siswa kelas Tiga saja yang ada dikantin.
Dengan guru yang kini telah hadir, mereka pun akhirnya tak bisa mengelak.
Lia dibawa ke UKS dibopong oleh Retno dan Dilla. Terlihat memang jalannya sedikit pincang, mungkin pergelangan kaki kirinya terkilir.
Andy dan kawan-kawan beserta Harry dan Agung dibawa keruang guru.
*******