
..."Aku meyakini jika dengan terus menjadi sahabatnya, aku tidak akan merasakan patah hati. Karena akan selalu ada yang namanya Mantan Pacar, tapi tidak dengan Mantan Sahabat."...
Seperti apa yang sudah direncanakan, begitu ayam berkokok dan asan subuh berkumandang, Agung dkk sudah rapi dan bersiap siap kemesjid.
"Liaaaaa, Anggun" Panggil Retno yang kebetulan baru saja bangun mendengar Azan yang sudah berkumandang
"Dilla, Dill.. bangunn aayoo subuh" ucap Retno yang memang bertindak seperti ibu 3 orang anak dikegiatan ini.
"Terlihat tiga gadis ini yang berada dihadapannya ini mulai bangun dari tidurnyaa, terlihat Dilla sigap mengikat rambutnya yang panjang, dan bergegas ke kamar mandi."
Lia dan Anggun yang juga sudah bangun segera merapikan alas tidur mereka dan bersiap juga ke kamar mandi.
Retno yang memang tahu kalau kamar mandi telah mengamankan satu kamar mandi sesaat setelag membangunkan mereka bertiga.
Tak perlu lama karena mereka tahu kalau mereka sudah telat untuk subuh, Dilla dan Retno keluar dari kamar mandi dalam selang waktu yang hampir bersamaan.
Dengan membawa perlengkapan mandinya, mereka berdua mengambil mukenah dan bergegas ke mesjid.
"Reeeeeee" Teriak Lia dari dalam kamar mandi yang membuat Retno mendekat ke kamar mandi itu .
"Apaaasihh yaak ?" Tanya Retno, Yak sendiri merupakan panggilan khas Retno pada Lia yang berasal dari nama Lia, ia, yakk.
"Tungguuu" ucapnya memelas manja
"Aku sikit lagi nih..." sambungnya
"Hitungan 10 aku pergi" teriak Retno dari luar.
"Satu" ucap Retno mulai menghitung, yang membuat Lia bergegas mencuci mukanya, mengambil wudu.
"Delapan" menandakan hitungan yang hampir selesai membuat Lia semakin cepat menyikat giginyaa lalu berkumur kumur.
"Sepuluh" ucap Retno yang kemudian mulai melangkah, namun pintu kamar mandi sudah terbuka
"Ayoo" Ucap Lia, yang tak lama setelah itu Anggun pun keluar.
" Weee ayooo weee, udah telat ini"teriak Dilla dari depan pintu.
"Iya ini mau gerakk"balas Lia memimpin berjalan didepan Retno dan Anggun.
Sesuai dugaan, mereka tiba dimesjid dimana imam telah mengadahkan tangannya yang artinya para warga dan Agung dkk telah selesai sholat berjamaah.
****
"Entah hanya perasaanku saja, selama diperkemahan ini Harry dan Lia semakin dekat saja" gumam Retno dalam hati, ketika melihat kedua sahabatnya kini berada didepannya setelah pulang dari mesjid.
"Ayo kita tempat bunda" Ajak Harry sambil menoleh kebelakang.
"Dimana itu Gung ?" tanya Dilla yang berada dibelakang bersama Retno.
"hmmmm" Harry tersenyum.
"Kasih tau Li" pinta Harry sambil melirik ke Lia.
"Li ?, Ali maksudnya ?" sambung Agung sedikit tertawa ketika mendengar ucapan Harry.
"Aku manggil dia Lili sekarang" balas Harry cepat.
"Itu rumah yang dekat pertigaan gang menuju mess" jawab Lia menghiraukan dua Pria itu.
"Naah bunda buat gorengan, mulai dari risol, bakwan, sampai tahu isi, lumayan murah dan enak" jelas Lia.
"Darimana kamu tau rumah itu yaa ?" Tanya Dilla.
"Ingat gak waktu kami berdua (menunjuk Harry) saat membantu dibalai desa" ucap Lia
"Yang mana ?, yang buat pojok baca itu ya ?" tanya Agung.
Lia menggangguk,
"Nah jadi, setelah selesai kami berdua disuruh kerumahnya, yaudahhhh makan gorengan gratis dan bunda cerita banyak hal tentang desa ini termasuk soal menjual gorengan" Sambung Lia.
"Ooohhh" Balas Retno.
"Nah ini udah sampai" ucap Lia seperti pemandu studi tour.
"Assalamualaikum bun." ucap Harry.
"Walaikumsalam, siapa ????" tanya nya sambil terdengar langkah kaki menuju pintu.
"Oohhh kalian, Ayoo masukk" ucap bunda mengajak mereka bertujuh masuk.
"Lu mau apa Beng" panggilan khas Bambang.
Mereka menikmati gorengan dan sambil cerita tentang kegiatan setelah ini.
"Gimana Progress ?, pojok baca ?" tanya Bambang,
"Hampir 80%, tinggal sosialisasi aja" balas Lia sambil mengambil bakwan, seolah tau apa yang diminta Lia, Harry yang disampingnya langsung meletakkan saus pada bakwan, dan Lia memakannya.
Teman teman lain melihat itu, dengan iseng Agung coba mengikuti gaya Lia tadi, tapi sama sekali tak digubris oleh Harry membuat Dilla tersenyum dan menahan tawanya, lalu mengambil cabe rawit dan meletakkan ke bakwan Agung.
Langsung saja tatapan Agung berubah, terlihat kesal sama Harry, tapi apalah daya, mau kesal sama Dilla.. toh cuma dia yang peka, walau yang diletakkannya membunuh pedasnya, tapi tetap tersenyum pada Dilla sambil terus memakan cabe rawit plus bakwan tersebut.
Hampir satu jam mereka dirumah bunda, seorang wanita paruh baya anggota ibu PKK, yang namanya mereka bertujuh lupa dan segan bertanya.
Terlihat juga gorengan yang mulai sedikit, dan teh yang disediakan oleh bunda pun sudah pada habis.
"Berapa bun semua" tanya Lia yang memang bertindak sebagai bendahara kali ini.
"Ohh gorengannya saja Lia, teh nya ndak usah" balasnya
"Seriusan bun ?, waahh makasih bun."balas Lia dan kemudian memberikan Uang sesuai gorengan yang dimakan.
"Bun kami pamit kebalai desa ya, mau bantu buat Tugu" Pamit Harry dkk.
Namun para wanita masih terdiam dirumah bunda,
"Woi, ayoo" ucap Agung.
"Hehehehehehe" balas Retno tersenyum.
" Lia dan Dilla mau numpang mandi disini, Air habis di Mess" sambung Retno.
"Ooohh yaudahh kalau gitu" Balas Agung.
****
Malam diperdesaan memang memiliki ciri khasnya sendiri, ditemani dengan suara gitar dan beberapa persembahan pada acara perpisahan, kini sudah tampak sepi karena sudah menunjukkan pukul 12 malam.
Didepan api unggun yang memang sudah tidak terlalu besar lagi, namun hangatnya api ini sangat nyaman dinikmati.
Berbekal segelas kopi yang baru saja diantar oleh Retno, Harry dan teman teman yang lain sedang menikmati malam terakhir mereka didesa ini sebelum esok pagi kembali ke kantor bupati.
"Ri.." ucap Retno yang duduk disebelahnya. dan Harry menoleh kearahnya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang ?" sambil melihat Lia yang sedang bermain dengan Agung, Dilla, Anggun dan Bambang.
"Hmmm, Sehat, senang, dan sedikit sedih" balasnya.
"Bukan, maksudku dengan Lia" Retno menjelaskan maksud pertanyaannya.
"Hmmm, baik baik aja, gak marah, gak benci, gak kesal juga" balas Harry senyum
"Maksudku gak ituloh," balas Retno yang mulai kesal.
"Selama dikegiatan ini, aku lihat kamu begitu dekat dengannya, termasuk tadi pagi, apa kamu tidak tahu kamu selalu memperhatikan kami dari jauh" jelas Retno.
"Terlihat banget ya ?" ucapnya tersenyum sinis.
"Jelaslah, cuma yang aku tahu Lia mah bodo amat, mungkin pun tak sadar dilihati olehmu" ucap Retno.
"Aku suka melihatnya mengajarkan anak-anak tadi" ucap Harry setelah muncul hening beberapa detik.
"Aku juga suka melihatnya mendengarkan cerita warga"
"Aku juga suka ketika Ia mengikat Rambutnya sebelum bermain voli dengan pemuda setempat."
"Tapi" ucapan Harry terhenti. Yang membuat Retno mengeluarkan wajah penasarannya.
"Apa pantas aku menyatakaan perasaan ini, sedangkan aku tahu Lia sedang bersama dengan Andy sekarang ?" balasnya kali ini melihat Retno Serius.
"Aku benci penolakan Re" ucapnya lirih kali ini,
"Aku pun tak tahu perasaan dia padaku bagaimana, dari sorot matanya, hingga saat ini aku hanya terlihat sebatas sahabat untuknya" sambung Harry.
"Sangat berbeda ketika Ia melihat Andy. Aku terlambat Re. Sudah ada Andy dihatinya" ucap Harry.
"Tapi ya walaupun begitu, selama terus bersamanya, itu sudah cukup bagiku"
"Aku meyakini jika dengan terus menjadi sahabatnya, aku tidak akan merasakan patah hati akibat penolakan, atau tenggang rasa setelah putus" jawab Harry yang kemudian meminum kopinya pelan.
*****