A Story Of LIA

A Story Of LIA
TIGA PULUH



...“Udah Ayok, Aku yang tanggung jawab kalau dia marah”...


Tiga hari pasca kejadian berdarah dikantin, kegiatan belajat dan mengajar di sekolah berjalan seperti biasanya.


Praktis tak ada satu kejadian anehpun yang terjadi setelah itu. Namun tetap, kejadian itu berdampak perilaku Andy kepada Lia, bahkan bukan hanya Andy, tapi seluruh wanita disekolah mulai membencinya.


Dilihat dari sikap dan apa yang dialami Lia, Andy sepertinya menghilang dan menjauh darinya menandakan semakin dekatnya akhir dari hubungan mereka berdua.


Selain itu, perlu diketahui bahwa dalam sekejap Lia kehilangan pamor positifnya dan menjadi wanita yang ditidak disukai disekolah oleh kaum Hawa khususnya.


Namun Ia sedikit bersyukur karena itu, sebab dengan begitu Ia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan sahabatnya Retno dkk seperti di awal sekolah dulu.


“Bagaimana kabar Harry sekarang ?” tanya Lia pada Agung yang sedang menyalin catatan Dilla.


“Ohh, Ia sedang sama kakek dibengkel kesayangan kakek” balas Agung sambil terus menulis.


“Bagaimana kalau kita menjenguknya setelah pulang nanti ?” tanya Lia.


“Boleh, sekalian main kerumah Agung kan” sambung Dilla.


“Ehhh,, jangan jangan” ucap Agung menghentikan aktivitasnya.


“Kalau kalian kerumahku, dia mungkin tidak akan senang” sambung Agung.


“lahh kok gitu ?” tanya Retno bingung.


“Kenapa ya, gak tau, dia melarangnya” balas Agung kembali menulis bukunya kembali.


“Udah Ayok, Aku yang tanggung jawab kalau dia marah” balas Lia.


"Gak boleh Lia, Enggak" jawab Agung.


“Intinya, setelah pulang, aku mau kita kesana, gimana Dil ? Re ?, setuju ?” tanya Lia.


“Setuju” balas Retno dan diikuti anggukan oleh Dilla.


"Emang kalian tahu rumahnya ?" tanya Agung memastikan.


"Kan kamu ikut ???" ujar Lia.


"Enggak ah, gak mau" balas Agung menolak.


“Ayolah Gung, Lagian aku juga penasaran dengan tempat tinggal pacarku kan” ucap Dilla polos, yang membuat Retno dan Lia melihatnya aneh.


“Ehh,,” ucapnya sadar dan langsung menutup mulutnya. Tersenyum, lantas membuat teman temannya tertawa.


Agung menahan malunya membalikkan tubuhnya agar tak dilihat teman teman yang lain.


"Baiklah kalau kamu yang minta"Ucap Agung pelan.


“Kapan ?” tanya Lia pada Dilla


“Baru baru ini aja kok yaa” sambung Retno.


“Setelah kemah ?” tanya Lia balik dan diikuti anggukan oleh Dilla.


“Waahh selamat yaa” ucap Lia tersenyum.


****


Harry dengan celana boxernya, saat ini sedang berbaring dibawah pohon mangga milik kakek.


Ditemani buku berbahasa asing berjudul How To Be Great Man Ia merasa tergoda untuk mengambil mangga yang ada diatasnya.


Melihat itu Ia bangkit dari tidurnya meletakkan buku di ayunan jaring tempatnya berbaring tadi lalu Ia panjat pohon itu.


Harry yang sedang asik mengambil mangga di atas sana pohon mangga yang ada di depan halaman rumah kakek. Terlihat serius memilih mangga yang masih kuning untuk dikupas lalu dimakan sambil membaca buku di ayunan jaring yang dibuat oleh kakek.


Dari jauh Lia melihatnya lalu teriakk


"Haaarrrryyy" sambil mulai berlari kearahnya.


“Astagaaaaa” ucapnya terkejut ketika melihat Lia berlari dan kawan kawan yang berjalan kearahnya, Ia lihat pakaiannya, dan sadar kalau Ia menggunakan celana dan kaos seperti ini.


“Tunggguuu, jangan mendekat” ucapnya dari atas yang membuat lainnya menoleh terkejut melihat Harry diatas pohon.


Ia tak mau mereka melihatnya dengan pakaian sexy seperti ini.


Seolah gemas melihat tingkah Harry, Lia tertawa lalu bergegas mengambil sapu yang ada didekat pintu rumah dan berlari mendekati pohon tempat Harry manjat yang mulai meranjak turun.


Perasaan Harry tak enak, pasti ni anak mau menjahili. Dan dugaannya benar.


Lia tak memberikannya turun dengan cara menyorong sapu yang dipegangnya layaknya mengganggu monyet yang sedang diatas pohon.


“Hahaahahaha” tawanya lepas.


“Lia, cukuppp aku mau turun, jangan ginii ya” balas Harry melihat wanita dibawah. Tapi eanita tersebut tak menggubrisnya.


“Biarkan aku ganti baju dulu, Maluu taahuu” ucap Harry yang memang mengenakan pakaian cukup terbuka.


“Tidaakk” ucappnyaaa sambil tertawa.


Praktis setelah belakangan Lia terlihat seperti terkekang, baru kali ini Retno melihat Lia tertawa lepas hingga seperti ini.


“Senang banget dia yakkk “ ucap Dilla


“Hahahahahahha iyaa” balas Retno.


“Assalamualaikum kek, kekkk” ucap Agung memanggil kakeknya.


"Ri kakek kemana ?" tanya Agung dari depan pintu. Dan masuk kerumah mengajak teman temannya untuk duduk di ruang tamu.


"Tadi katanya keluar, mau nganter surat" teriaknya.


"Ohhh, Ayo masuk, Anggap aja rumah Harry" ucap Agung


"Yaaa emang jawab Retno" ketus dan masuk bersama dengan Dilla.


Lalu Agung kebelakang mengambil beberapa gelas dan ceret kemudian meletakkannya dimeja.


“Silahkan diminum ini dulu ya, aku akan panggil Harry lalu memasak untuk kalian” ucap Agung.


“Seriusan ?, gak ngerepotinkan ?” ucap Retno basa-basi.


“Basa basi lu Ree, hahahaha” ucap Agung pergi memanggil Lia dan Harry.


Harry meraih sapu itu kemudian melompat tepat didepan Lia.


Lia terkejut, dilihatnya wajah Harry begitu dekat.


Matanya, bahunya yang sudah membidang dan sedikit berisi.


Lia tertegun, Lalu tersenyum


"Hehehehehe" Ucap Lia dengan polosnya, tapu Harry semakin mendekatinya geram.


Entah mengapa Lia merasa diriinya mematung dan akhirnya memejamkan matanya. Tak bisa melihat wajah Harry lebih dekat lagi.


"HAAARRYYYY" Teriak Agung dari depan Pintu.


"LIAAAAA" Teriaknya kembali.


"Selamat" Ucap Lia dalam hati begitu mendengar teriakan nama Harry.


Ia tersenyum cantik, Harry Terdiam, kesempatqn ini digunakan oleh Lia dengan baik, Lalu menginjak kaki Harry dengan sepatunya.


"Aaaaauhhh" Teriak Harry dan mengangkat kakinya. Namun wanita itu telah lari.


"Liiaaaaa" Teriaknya geram lalu mengejarnya.


Lia tertawa dan berlari secepat mungkin ke rumah.


Agung tersenyum melihat mereka berdua dan langsung masuk kembali bergerak menuju ke dapur.


"Aku ikut ya" ucap Dilla yang membuat Agung berhenti.


"Mau bantu kamu" sambungnya sambil berdiri. belum sempat Agung membalas, Ia sudah didorong oleh Dilla.


"Braakk" suara pintu yang tertabrak oleh Harry. terlihat Lia ngos ngosan seperti dikejar oleh Anjing.


"Bantu aku Re" terlihat saling dorong terjadi antara Lia dan Harry. sebenarnya Harry bisa saja menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong pintu ini, namun Ia tak mau Lia terluka, dan coba mengikuti inginnya Lia saja.


Kali ini Retno membantu dan berhasil membuat pintu tertutup lalu dikunci.


"Hahahahahahah" Lia tertawa kembali. Retno pun tersenyum melihatnya.


"Liaaa, bukaa pintunya, itu rumahku loh"pintanya pelan yang membuat Retno pun tertawa


"Jangan jadi penjajah gini dong woii" teriak Harry dari Luar.


"Boodooohh amaat" balas Lia sambil membalikkan dirinya dan bersandar dipintu.


Hening terjadi membuat Lia bingung tuh anak kemana dan melihat keluar dari jendela.


"Reee, dia kemana, Kok gak keliatan" ucap Lia sambil mencoba melihat keluar. Dirasanya ada hawa yang mendekat kearah telinganya mungkin Retno.


"Sembunyi kali yaa" ucap suara laki laki yang kini wajahnya tepat disamping Lia.


"Haaaaaaa" Teriak Lia terkejut dan langsung terduduk melihat Harry didepannya.


Jantungnya berdegub kencang, kakinya lemas efek kejutan yg diberikan Harry. Melihat itu Harry tertawa puas melihatnya dan malah pergi menuju sebuah kamar.


"Kamu kenapa gak bilang sih Re" ujar Lia yang berdiri dan kemudian duduk disebelahnya.


"Dia memberikan isyarat untuk diam, dan yaa aku terpaksa deh diam" ucap Retno sambil tersenyum lucu melihat tingkah manis mereka.


"Ini Teh nya" Ucap Dilla yang kemudian duduk bergabung dengan mereka.


"Gak jadi bantu dia masak" tanya Retno.


"Hahahaha" Dilla tertawa sambil menutup mulutnya.


"Tangannya begetar ketika aku bersamanya di dapur, keringatnya pun menjadi, terlihat banget groginya, jadi yaa aku putuskan untuk membiarkannya saja dibelakang"


"Ooohh gitu" Balas Lia setelah sebelumnya sedikit tertawa mendengar cerita Dilla.


Harry pun keluar dari kamarnya dan sudah berganti baju, lalu ikut duduk bersama mereka.


Tak lama setelah itu Agung pun datang membawa piring dan masakannya.


****