A Story Of LIA

A Story Of LIA
TIGA TUJUH



..."Laki-laki bertipe seperti Randy ini, sama saja dengan Andy yang hanya memanfaatkan ketampanan atau status sosialnya untuk memperdaya semua orang. Yang sialnya, Berhasil"...


Suasana pagi kota tak pernah tidur, Yogyakarta memang menjadi hal yang unik dan mungkin takkan ditemukan di tempat lain.


Rombongan bus SMA Angkasa yang telah tiba sejak malam tadi, sudah mulai dipanaskan kembali mesinnya oleh para supir agar keberangkatan studi tour bisa se-efektif mungkin.


Harry sudah berada di lantai atas tempat mereka menginap.


Duduk santai melihat kearah cahaya yang memiliki warna begitu kemerahan dan jika dilihat disisi lain akan kelihatan bagaimana bulan mulai tenggelam sesuai dengan porosnya.


Suasana langit kemerahan pagi seperti ini banyak orang yang menyebutnya Sunrise.


Suasana matahari terbit katanya. Yang hampir sama keindahannya ketika melihat sunset di pantai Parangtritis. Salah satu pantai yang katanya pintu masuk kedalam kerajaan Nyi Roro Kidul.


Kalau dilihat di Ensiklopedia kota Yogyakarta, ini adalah salah satu tempat wisata yang wajib di kunjungi oleh para wisatawan.


Tapi terlepas dari itu semua.


Harry hanya memikirkan seorang gadis yang memang belakangan ini menjadi lebih pendiam, dan terkadang muncul raut wajah murung disela kecantikannya itu.


“Harry ?, ngapain kamu disini ?” Harry menoleh,


“Panjang umur” gumamnya dalam hati. wanita yang di pikirkannya malah muncul dan berjalan kearahnya.


“Udara se-sejuk ini dan matahari yang bisa kamu lihat disana itu, juga cahaya yang mungkin sebagian orang menikmatinya dan sebagian lagi acuh tak acuh, sebenarnya sangat membuatku nyaman” jawab Harry sambil kembali melihat cahaya langit yang semakin terang.


“Sumpah aku gak ngerti kamu ngomong apaan” ucap Lia, lagi lagi dengan wajahnya yang terlihat heran.


“Ahhh sudahlah, aku mau lihat nooh” ucap Harry sambil menunjuk kearah matahari.


“Ohhh Sunrise” balas Lia yang kini tersenyum.


15 menit mereka berdua diatas, tak bisa dipungkiri kedua nya hanya diam menimbulkan keheningan yang mungkin sedikit tercoreng dengan beberapa canda tawa warga yang berada di lantai dasar, sekedar berolahraga atau melakukan aktivitas mereka masing masing.


“Liaa” panggil Harry. Lia menoleh menanti pernyataan atau pertanyaan yang mungkin muncul dari Harry.


“Kok diam ?” tanya Lia balik, ketika beberapa detik kemudian yang dilihat hanya diam melihatnya dengan serius.


“Oohh, Anu, bagaimana perjalanan bus kalian ?, aku dengar bus kalian ada masalah ?” ucap Harry.


“Aihh kok malah jadi ini sih” Gumam Harry dalam hatinya, yang bingung dan malah merasa blank ketika melihat kedua mata coklat yang dimiliki Lia.


“Ituu” ucap Lia kini menunjuk sebuah bus yang memang sedang di perbaiki oleh ahlinya. Terlihat memang disekitar bus tersebut sedikit sibuk dengan mengecek mesin ataupun hal lain yang berkaitan dengan keselamatan penumpang selama perjalanan.


Tapi tak lama setelah itu, seorang bapak bapak yang dari pakaiannya bisa kita tebak sebagai montir, dengan peluh keringat nya tersenyum bahagia setelah bus hidup dan mesin bus berjalan seperti yang Ia harapkan.


“Ohhhh iyaa” jawab Harry.


Dan terjadi keheningan kembali diantara mereka. Sampai akhirnya matahari mulai meninggi mereka berdua kembali ke kamar mereka masing masing untuk bersiap menuju ke destinasi wisata yang akan mereka kunjungi.


“Taman Sari” ucap guide yang telah berada didalam bus yang Lia naikin.


Guide tersebut tak lain adalah salah satu alumni dari SMA Angkasa yang kebetulan melanjutkan pendidikannya di Universitas Gadjah Mada, UGM singkatnya yang merupakan salah satu kampus terbaik di negeri ini.


Dengan baik kakak yang menggunakan setelan kemeja biru dan dasi merah itu menjelaskan layaknya tour guide professional di selingi dengan beberapa bahasa Inggris sederhana yang bisa dipahami oleh siswa,


Sebenarnya dia sangat ingin pindah ke bus lain, namun sekali lagi pembicaraan dan permintaannya pada salah satu guru pengawas tak bisa diterima dan malah menyuruhnya untuk lebih berbaur pada teman yang ada di bus tersebut.


Sekali lagi permintaanya pun gagal, Ia meminta untuk pindah kursi, tapi malah diminta untuk tetap disitu karena tak ada yang mau menukarkan tempat duduknya.


“Dalam beberapa menit lagi kita akan sampai ke destinasi pertama kita di taman sari. Taman Sari ini dulunya adalah pemandian pribadi bagi sultan dan para permaisurinya, Selain area pemandiannya yang unik, kalian nantinya akan menelusuri lorong-lorong bawah tanah di Taman Sari ini yang memang memiliki nilai sejarah." ucapnya tanpa jeda begitu jelas dan fasih.


"Buat yang hobi foto kalian bakal di suguhkan pemandangan yang mungkin sangat bagus untuk di abadikan didalam kamera yang kalian bawa itu.” Ucap kakak alumni tersebut dengan riang sambil menunjuk thalia yang memang membawa kamera di tangannya.


“Satu lagi, yang menjadi tempat paling rekomendasi buat kalian. terutama area masjid bawah tanahnya, yang punya arsitektur tangga yang unik!” ucapnya penuh antusias.


Lia sudah membacanya dan mengetahui itu sejak tiga hari sebelum berangkat. Ia mencari ke perpustakaan ensiklopedia yogyakarta, dan kebetulan ada.


Beberapa area Taman Sari bahkan sudah Ia ketahui dan tandai jika ada kesempatan, maka akan coba menyelinap untuk singgah ke tempat itu.


Perlu diketahui, Armada bus SMA angkasa dibagi menjadi dua kelompok utama yang akan berkunjung ketempat wisata sesuai program destinasinya.


Untuk dua bus yang Harry dan Retno tumpangi mungkin sudah berada di kompleks candi prambanan.


Dan dua bus yang termasuk bus Lia dan Randy sedang berada di area taman sari. Semua Armanda bus pada akhirnya akan bermuara di pantai Parangtritis tepat pada sore hari pukul 5.


“Silahkan turun dan berbaris terlebih dahulu agar nantinya tidak terpisah dengan rombongan bus slayer biru ini” ucap pemandu wisata dan turun terlebih dahulu.


Yang kemudian diikuti oleh siswa lainnya.


Tapi Randy yang kebetulan sedang berada dipinggir jalan tengah bus dengan kakinya yang cukup panjang, malah berdiam diri dan tidak membiarkan Lia lewat.


“Geser” ucap Lia dengan wajah juteknya.


“haaaa” ucap Randy. seolah menjadi budeg, disertai dengan wajah penuh melece.


“Geseeer” ucap Lia sekali lagi dengan nada yang lebih keras.


“Haaa ?” kali ini tangannya berada dikupingnya membentuk sebuah isyarat yang kita pahami agar mengucap lebih kuat. Lia tersenyum jahat.


“GESERRR” teriak Lia dikuping Randy yang membuat Randy sedikit meringis namun tertawa.


“Mampus Lu” ucap Lia dan memaksa menerobos kaki Randy yang masih memegang kupingnya.


“LIA, mengapa kamu lama sekali turunnya ?” ucap ibu guru pendamping.


“Maaf bu, tadi,” ucapan Lia terpotong memikirkan alasannya.


“Tadi Lia membantu saya buk, saya ketiduran” ucap Randy membela dengan diselingi senyumannya.


Percayalah kalian, kalau kalian melihat senyumnya Randy yang seperti ini, wanita manapun, termasuk bu Guru tadi takkan bisa marah padanya.


“Oohhhh karena itu, yaudah silahkan berbaris kembali nak” ucap bu guru pendamping yang melunak. Dia tersenyum menang pada Lia, seolah tatapannya itu memaknai tatapan seorang pria yang sedang menggoda kekasihnya.


Tapi Lia sungguh muak,


Lia menganggap laki-laki bertipe seperti Randy ini, sama saja dengan Andy yang hanya memanfaatkan ketampanan atau status sosialnya untuk memperdaya semua orang.


Yang sialnya, selama Ia mengenal laki laki seperti ini, tak ada yang tak berhasil, semuanya berjalan lancar sesuai dengan kehendak mereka.