
Hai kakak kakak, A Story Of Lia kembali !!!
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya terkait dengan lambatnya penulis meng up cerita ini,
Mohon maaf juga yang sebesar besarnya karena aktivitas penulis diluar yang cukup penuh menguras emosi dan tenaga sehingga membuat A Story Of Lia menjadi gantung.
Tapi ingin penulis sampaikan, kehadiran Randy menjadi salah satu peran penting dalam Seven Pilar yang ceritanya akan mulai masuk pada episode 40 keatas.
Itu saja yang penulis ingin sampaikan.
sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
Terima kasih telah mampir dan terus mengikuti cerita A Story Of Lia serta memberi Like dan Komentar terhadap karya ini.
Akhir informasi, A Story Of Lia juga sedang masuk pada tahap Review data dalam tahap kontrak, penulis harap para pembaca sekalian juga ikut menshare, like, koment dan memfavouritekan karya ini, demi mendukung penulis untuk terus berkarya.
Terima kasih.
Secondleadman.
Selamat Membaca.
****
..."Bersabarlah sedikit lagi, kamu harus kuat, dan bisa melewati ini"...
Terik matahari pagi yang membuat langit terlihat cerah pagi ini menambah keindahan pemandangan taman sari terlihat mewah namun klasik.
Pemandian para istri Raja, katanya.
Dengan corak keramik dan beberapa motif kepala naga yang terdapat di dinding memang menjelaskan kelas mewah pada saat itu.
Dan yang terpenting, hanya mereka yang cantik yang bisa mandi disini, mengapa begitu ?, istri Raja, dan tentu saja itu menjadi bukti kecantikan para wanita yang mandi di tempat ini.
Lia takjub akan desain pemandian ini, terutama pada desain mesjid yang memiliki tangga ikonik yang memang sangat sangat takjub akan desainnya.
Ia berjalan, menyusuri setiap sudut isi taman sari itu, yang sekali lagi tak bisa Ia pungkiri, Luarbiasa.
Namun sayangnya ketakjubannya qkan arsitektur tempat pemandian tersebut tak berlangsung lama.
Tak lama setelah mengambil beberapa potret foto, tangannya ditarik oleh kakak kelas dan kini Ia terpojok disebuah tempat yang memang terlihat sepi.
Tak ada seorang pun selain mereka. Ada tiga orang kakak kelas termasuk Thalia yang membuat komposisi menjadi empat.
Sungguh andai Ia bisa membela dirinya Ia akan berusaha untuk melakukannya, tapi ini belum saatnya, belum ada yang bisa menjadi tamengnya.
Lia di dorong kuat kedinding.
“Aaww” ucapnya refleks. Terduduk, akibat tekanan dari tangan Lusi.
Kakak kelas tersebut bersama Thalia tersenyum licik, raut wajah dan ekspresinya menandakan rasa untuk mulai mengerjai Lia kembali.
Sulit dimengerti memang, padahal Lia tak ada mengganggu mereka belakangan dan praktis hanya diam, dan beberapa kali menghela nafas di kelas.
Entah apa yang ada dipikiran mereka berempat ini, berdiri menggerumuni Lia, memaksanya untuk terus terduduk tidak berdaya menghadapi mereka berempat.
Lusi mengeluarkan air mineral minumannya, kemudian membukanya.
“Jangan kak, aku tak bawa pakaian ganti Cuma ini” pinta Lia, tapi perkataan itu tak mengunggah kakak kelas tersebut yang memang sedari awal sudah sangat tidak menyukai Lia.
Terlihat juga Thalia yang sudah mengeluarkan sejenis tepung didalam tasnya,
“Kak, ini tepungnya, kita akan membuat kue kan ?” tanyanya dengan senyum liciknya.
Kakak kelas tersebut siap menuangkan isi botol tersebut, tapi seketika tangan lusi ditahan.
Lia yang sudah memejamkan matanya pasrah,
"Bersabarlah sedikit lagi, kamu harus kuat, dan bisa melewati ini" gumamnya dalam hati.
Tapi setelah beberapa detik, Ia merasa sedikit heran dan membuka matanya dan langsung menoleh ke atas.
Sudah ada Pria yang tak disukainya berdiri tegak menghalang tangan Lusi, Randi. Yang sejurus kemudian menoleh kearahnya dan tersenyum kearahnya.
"Waah harusnya kalau ingin main masakan bukan disini tempatnya, Nooh disana di kelas masak" Ucap Randy yang membuat mereka berempat terkejut syok.
“Ini bukan film romantis atau, serial remaja masa klasik, tapi aku hanya tak menyangka bahwa, tindakan pengecut seperti ini, dilakukan oleh atlit seperti kalian.” Ucap Randy kemudian menghempaskan tangan Lusi hingga botol minum tersebut jatuh.
Ada ekspresi tidak senang dari mereka berempat, tapi sebenarnya mereka lebih khawatir kalau tingkah perbuatan mereka diketahui guru.
“JANGAN PEGANG PEGANG, AKU BISA SENDIRI” bentak Lia.
“Hmm dasar, gak tau diri" ucap Thalia melihat tingkah Lia yang seperti itu.
Randy menyerigai melihat kearah mereka berempat.
“Hahahaha” Keluar tertawa kecil dari mulutnya, menghampiri mereka dan merentangkan tangannya kemudian mendorong mereka sedikit lebih jauh dari Lia yang masih berusaha untuk menenangkan dirinya.
“Aku akan melupakan ini, asalkan kalian berjanji satu hal” ucap Randy seolah tahu apa kekhawatiran para gadis ABG yang kini menghadap tepat ke arah mereka berempat.
Raut wajah mereka berempat berubah menjadi ekspresi Heran yang awalnya tadi sudah terlihat cemas, karena ketangkep basah oleh Randy dengan bukti telur dan tepung yang mereka bawa.
“Apa itu ?” ucap Lusi.
“Aku minta kalian tidak menceritakan ini semua kesiapapun, dan tidak menganggunya lagi, karena aku sekarang pacarnya !, “ Tegas Randy,
“Haaa?,” ucap Thalia dengan ekspresi terkejutnya begitu juga dengan yang lain, Randy tersenyum biasa, dengan jari telunjuk berdiri tegak tepat di depan mulutnya sambil memejamkan matanya satu.
“Oke, silahkan pergi” ucap Randy pada mereka, dan mereka pun juga pergi.
“Ayo Lia” Ucap Randy menghampiri Lia tapi kali ini tidak menyentuhnya hanya sedikit jongkok biar sejajar dengan Lia.
“Matanya biru, bagus dan cantik.” Gumam Lia ketika memang wajah mereka saling bertatap. Tapi dengan cepat Lia menyadarkan dirinya dan berdiri.
“Aww,” ucap Lia refleks ketika bahu kanannya terasa sakit. Cedera lamanya kambuh kembali. Mungkin akibat hempasan yang dilakukan oleh kakak kelas.
“Ada apa ??” ucap Randy dengan wajah khawatirnya. Lia hanya memberikan isyarat seperti berkata jangan sentuh.
“ Tidak papa” sambil memegang bahunya. Dan berjalan meninggalkan Randy.
“Heeiiii Tunggu,” ucap Randy. Lia tak mau menoleh.
“Pintu keluar kearah sana” ucap Randy. Lia berhenti melangkah, terdengar olehnya suara cikikan Randy. Dia membalik dan berjalan kearah yang benar tanpa melihat Randy sama sekali dan berjalan lebih cepat dengan memegang bahu kanan nya dengan tangan kiri.
“Hahahahah” Tertawa Randy Lepas.
Mereka semua sudah berada dibus untuk perjalan berikutnya menuju kedua candi yang memang menjadi tempat wisata yang harus dikunjungi ketika berbicara perihal yogya. Candi prambanan dan borobudur.
Lia kembali masuk kedalam bus agak sedikit lebih lama dari peseta bus yang lain, Ia sedikit kekamar mandi, untuk sekedar mengoleskan minyak dibagian belakang bahu kanannya.
Tapi dia tak sendiri ke kamar mandi, Randy mengawasinya diluar. Dan membuat Ia pun terlambat masuk kedalam bus.
Randy melihat Thalia ketika masuk kedalam bus dan berjalan menuju kursinya dan mengisyaratkan padanya dengan jari telunjuknya ke arah mulut kembali, Thalia senyum dan mengangguk. Yang membuat sekelilingnya heboh, ada rahasia apa diantara mereka berdua ?.
“Cieeeeeee” teriak kawan-kawan Thalia yang membuatnya tersipu malu.
Randy mengerutkan dahinya dan langsung duduk disamping Lia kembali.
“Ada apa gerangan ?” ucap Lia tanpa menoleh dan terus menatap keluar jendela mobil.
“Tidak ada apa apa” balasnya kembali seperti ucapan Lia tadi.
“Tumben?” tanya nya.. bernada heran, Lia menoleh kearahnya.
“Maksudnya ?” tanya Lia kembali. Bus mulai berjalan.
“Enggak maksudku tumbenan mau menegurku diluan ?” tanya Randy.
“Kapan aku menegurmu ?” balas Lia dengan juteknya merasa memang Ia tak ada menegurnya.
“Lah itu tadi ?, mengatakan gerangan ?, bukankah bicara padaku terlebih dahulu ?” tanya Randy
Lia mengeluarkan walkmannya, dan mengangkatnya menunjukkan ke Randy.
“Mati, Ada apa gerangan ?, kok mati ?” ucapnya menunjukkan walkman itu pada Randy, yang kemudian melihat walkman tersebut yang memang ternyata mati.
“Batre kali” balas Randy.
“Jadi kenapa Gr ?, Aku bicara sendiri ” tanya Lia kembali dengan wajah juteknya.
“Ehhhh, hehehehe” balas Randy yang memang sudah tak bisa mengelak.
“Maaf” ucapnya menoleh kedepan sambil menahan malunya. Dan Lia kembali pada posisinya menatap keluar jendela.
Sekilas Randy melihat diujung matanya, layaknya dia melihat luas sampai seluruh lapangan, senyuman Lia yang matanya terhalang oleh tangannya seolah ingin menutupi senyumannya.
“Syukurlah” ucap Randy dalam Hati.