
..."Aku berjanji akan menjadi pelindung untuknya"...
Hembusan angin malam menjadi saksi bahwa Lia menangis untuk kesekian kalinya di depan Harry. Entahlah menurutnya, dia pun tidak mengerti, airmatanya selalu jatuh hanya saat di depannya.
Pemuda yang baru di kenalnya selama satu tahun lebih ini, selalu berhasil membuatnya menjadi wanita kebanyakan, cengeng.
Tapi sebelum itu, Harry yang tak tega melihat Lia menangis tersedu sedu seperti itu, berusaha mencari tisu untuknya, dilihatnya kanan dan kiri, namun tak menemukan sesuatu, akhirnya Ia memutuskan untuk membuka kemejanya dan memberikannya pada Lia.
Lia yang masih menangis, sambil menceritakan keluh kesahnya selama ini, termasuk hubungan keluarganya menggunakan kemeja itu untuk menyeka wajahnya dan mengeluarkan ingusnyaa, yang memang sudah tertahan sejak tadi.
Harry hanya bisa terbengong melihat kemeja yang di beli sewaktu di kanada, hanya menjadi lap ingus wanita yang ada di sampingnya.
Ingin rasanya Ia tersenyum atau tertawa, tapi ini bukan waktu yang tepat, Ia cukup menjadi pendengar yang baik seperti biasanya.
Kali ini dia menaikan kedua kakinya, menyembunyikan wajahnya tepat dipahanya itu, meringkuk layaknya anak yang masih menyembunyikan tangisnya.
Harry hanya bisa menepuk pundak gadis itu, berharap sahabatnya itu bisa mengakhiri tangisnya malam ini dan kembali ceria di esok hari.
Tapi, Ia baru tahu bahwa Lia merupakan anak broken home atau istilahnya kedua orangtuanya bercerai.
Sehingga memang sejak usia 5 tahun Ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang ayahnya seperti anak kebanyakan.
Harry menatap langit, merentangkan kedua tangannya di bangku itu dan berusaha merilekskan dirinya, menerima semua hal yang mungkin tak seperti yang Ia kira, Gadis ini,
"Aku berjanji akan menjadi pelindung untuknya" ucapnya dalam Hati pada langit dan bintang jauh disana sebagai saksinya.
Lia rubuh, tertidur, tepat disamping Harry. kepalanya kini menggunakan Paha Harry yang mungkin keras menjadi bantal yang nyaman untuknya.
Harry langsung melirik ke kanan dan kiri,
"Untunglah tidak ada siapapun disini", ucapnya pelan.
"Gadis ini, " Ia menyeka beberapa rambutnyaa yang menggangu wajahnya.
"Baiklah, kau boleh seperti ini untuk beberapa saat" ucap Harry pelan.
Tak lama setelah Lia tertidur, Harry pun tak bisa menaham matanya yang membuatnya tertidur pula.
Tapi sayangnya itu tak berlangsung lama, Lia yang tertidurpun akhirnya terbangun, tersadar bahwa dihadapannya tepat wajah seorang yang sangat familiar, Harry. Wajahnya begitu dekat sangat dekat membuatnya terkejut,
“Aaaaaaaaaaaaa” teriaknya cukup kuat, hingga kucing hitam yang berjalan pun terkejut karenanya,
“Aawwww” ucap Lia setelah kepala mereka berdua beradu,
“Aduhuhh duuh, kenapaa si Lii, Argghh” ucap Harry sambil memegang jidatnya.
“ken, kenapaa aku bisa tidur di pahamu ?” ucapnya terbata-bata.
“Coba di ingat lagi deh, ya mana aku tahu “ balasnya sambil berdiri. Lia pun berusaha mengingat apa yang terjadi,
“Oh iyaa, maaf” ucapnya,
“Yaudah, teriakan kencangmu, sudah cukup menandakan kalau sudah tidak apa-apa” jawab Harry.
“Ayok bangkit, pulang” ucap Harry. Mendengar itu Lia bangkit dan mulai berjalan menuju rumahnya yang tak jauh dari tempat duduk tadi.
“Bbrrrr, sudah mulai dingin seperti nya sudah sangat larut” ucap Harry sambil memeluk dan menggosok kedua lengannya.
Entahlah, entah sudah jam berapa ini, mereka berdua kini berdiri tepat di depan pintu rumah Lia,
“Bisa kan membuka pintunya ?” tanya Harry kembali.
“Ya bisalah” balas Lia sambil memasukkan kunci rumah itu.
“Yodah, kalo gitu aku pulang ya, sampai jumpa besok” ucap Harry dan sejurus kemudian melangkah pergi,
“HARRYYY” Teriak Lia, yang membuatnya berbalik begitu namanya dipanggil kembali,
“ADA APA ?” balasnya,
“MAKASIH” Teriaknya sambil melambaikan tangannya,
Harry tersenyum melihat itu, lalu memberikan gestur ‘OK’ dengan ujung ibu jari dan telunjuk yang bertemu, kemudian melambai hingga Lia menutup pintunya.
“Sungguh manis malam itu, jika kita bisa melihatnya bukan ?” ucap Adam pada Intan yang saat ini sedang tersenyum sambil terus memperhatikan jalan.
“Benar, tapi ternyata diusia Lia seperti itu, kenyataannya cukup pahit ya” balas Intan.
“Begitulah, tapi aku masih penasaran dengan cerita mereka, kita harus segera sampai ke bandung” ucap Adam.
“Tidurlah Dam, setelah ashar kita gantian” ucap Intan, yang membuat Adam menoleh kearahnya,
‘Seriusan ?, gak papa ?, tapi aku gak tau jalannya” Tanya Adam,
“Kitakan via tol, lagian noh, ada papan penunjuk jalannya ntar, yang penting tidur aja dulu” balas Intan,
“Okelah kalau gitu” ucap Adam, kemudian merebahkan tubuhnya dan memiringkan seat mobil agar dia lebih santai.
Dan kemudian membuka kembali naskah yang sudah ditulis oleh mba Retno, naskah saat pertama kali dia menulis, tentang kehidupan pribadinya disekolah,
“Disini mungkin bisa menambah ceritamu diperjalanan sebelum bertemu dengan salah seorang yang ada di foto ini di bandung nanti.” Adam teringat ucapan mba Retno ketika memberikan naskah ini padanya.
Adam mulai membolak balikkan halamannya, berusaha mencari kelanjutan cerita yang tepat.
“Oke ketemu” ucapnya dalam hati dan mulai membacanya kembali.
Kembali ke masa lalu,
Seminggu berlalu sejak kepulangan mereka dalam kegiatan study tour ke jogja, Harry kembali mendapat hukuman dengan membersihkan wc sekolah sampai akhir bulan.
Begitu mendengar hukuman itu Ia hanya tersenyum dan tanpa membantah sama sekali, Ia bersyukur hanya mendapatkan hukuman seperti itu, atas tindakannya yang berani kabur dari study tour itu tanpa pamit sama sekali.
Lia juga sudah mulai kembali ceria seperti biasa, namun yang perlu digaris bawahi, Ia hanya ceria saat bersama dengan sahabat sahabatnya, jika tidak ada mereka, Ia masih menjadi gadis yang tak ‘tersentuh’, maksudnya tatapan sinisnya dan masih membuat laki laki manapun tak berani lagi menghampirinyam kecuali satu orang. Randy.
Dia menempel ke Lia bak perangko, mengejar Lia, dan siapapun yang melihatnya pasti sudah mengetahui bahwa Randy memang mengejar gadis itu, Mantan pacar ketua Osis yang cukup menggemparkan pada masanya.
Tapi jujur, bukan Lia tak tertarik pada Randy, hanya saja luka yang ada masih belum sembuh se-utuhnya, dan Lia pun sudah memutuskan untuk tidak membuka hatinya lagi kepada siapapun.
Fokusnya saat ini, adalah belajar, belajar dan belajar. Selain itu, Lia juga mulai ikut ekskul voli sebagaimana kesukaannya dulu.
“Lia, setelah ini kemana ?” Tanya Retno,
“Ohh, membantu Harry.” Jawabnya,
“Ohh, yaudah, akan ku kumpulkan teman teman yang lain agar lebih cepat selesainya” balas Retno.
“Ohh oke, tapi jangan dipaksakan, siapa yang mau saja, bagi yang tak mau , langsung ke Markas DPR saja” balas Lia.
“Ok”
Lia berjalan menyusuri lorong sekolah menuju ketempat dimana Harry menjalani hukumannya, Toilet sekolah.
Namun didalam perjalanannya, Ia tak sengaja mendengar pembicaraan mengenai seleksi ketua osis yang baru. Benar juga pikirnya, ini sudah masuk ke masa-masa peralihan jabatan.
Terbesit sebuah ide dipikirannya. Lalu tersenyum dan segera mnuju ke tempat Harry.
“Sini aku bantu” ucap Lia pada Harry.
“Emang lu mau masuk ke toilet cowok ?” jawab Harry setelah sebelumnya tersenyum mendengar suara yang tak asing di telinganya berdiri tepat di pintu kamar mandi cowok.
“Ya, tentu saja, apa masalahnya ?” balas Lia,
“Ini juga sudah mau selesai kok, langsung ke DPR saja, aku tahu pikiranmu sedang memikirkan apa ,” ucap Harry yang membuat Lia heran,
“Emang apa yang aku pikirkan ?” tanya Lia kembali,
“Pemilihan ketua osis kan ?” tebak Harry.
“Buset, ni anak, peramal kali ya ?” jawab Lia refleks,
“Hahahaha, langsung ke markas aja , Aku akan coba dengar rencanamu, setelah ini.” Balas Harry padanya.
“Hmmm Ok, aku tunggu ya” jawab Lia dan pergi meninggalkan Harry dengan senyuman,