A Story Of LIA

A Story Of LIA
TIGA SATU



..."Entahlah, hidup terkadang tidak bisa diprediksi, banyak pertanyaan yang mungkin tak terjawab"...


Seminggu bukan waktu yang lama bagi Harry untuk menghabiskan waktunya dirumah.


Yang terbaru dalam seminggu libur dia sudah menguasai bahasa spanyol, kemampuan cepat memahami bahasa asing ini didapat mungkin dari gen Ibunya yang kini menetap di Luar Negeri.


DI SEKOLAH, pembullyan terhadap Lia belumlah berakhir. Ditengah hubungannya yang masih gantung. entah putus, entah lanjut.


Kakak kelas bahkan merudungnya disudut sekolah, mulai kadang membentak, mengambil uang sakunya, bahkan yang terbaru dirinya dikunci di kamar mandi.


Sulit sekali melakukan laporan ke guru, namun yang menjadi sedih, pengaduan terhadap guru bahkan tidak ada tindak lanjut sama sekali, terkesan membiarkan saja, atau mungkin faktor status Lia yang hanya murid penerima bantuan ?,


Entahlah, hidup terkadang tidak bisa diprediksi, banyak pertanyaan yang mungkin tak terjawab, apalagi soal keadilan yang mungkin sedikit miris jika berada di indonesia.


Sila ke 5 seolah hanya semboyan dan panggung pencitraan bagi para aktivis atau hal-hal yang terkait akan hal itu. Tak seperti ketika diawal Masa Orientasi Siswa yang berani menantang sekelas Ketua Osis, entah mengapa Lia lebih banyak diam dan menyimpannya sendiri.


Sekolah mulai tidak menyenangkan untuknya, tapi untungnya Ia masih punya sahabatnya Retno, Dilla, Agung dan Harry yang memang baru selesai masa skorsingnya.


Matahari pagi datang menyapa dari balik awan menandakan pagi telah tiba. membuat semua orang yang mulai melakukan aktivitas rutinnya.


Lia datang lebih cepat karena memang hari ini Ia mendapatkan piket kelas seperti kebiasaan tiap siswa umumnya.


Tak lama Ia menyusuri jalan menuju sekolah, kini Ia telah sampai, dan langsung bergegas menuju kelasnya untuk melaksanakan tugas piketnya.


Setelah sampai Ia melihat belum ada teman-teman yang masuk kelompokku untuk piket kelas. Baru Ia seorang, Tak apalah yang penting kelas ini cepat bersih dan rapi.


Sebenarnya Ia tidak mau sekelompok dengan mereka, tetapi karena penyusunan piket berdasarkan acak, Ia harus terpisah dengan sahabatnya Harry, Dilla, Agung dan Retno.


Dan yaa semenjak Ia menjadi pacar Andy entah mengapa Maya, Thalia, dan Yona yang satu kelompok piket dengannya menjadi sering datang tepat saat bel dibunyikan sehingga mereka tidak ikut membersihkan kelas. 


“ Hai, cantik” sapa Thalia lembut,


“Terima kasih sudah membersihkan ya..” lanjut Yona.


Lia hanya bisa tersenyum, tapi melihat Retno yang baru saja datang bersama Dilla, Ia tak mau sahabatnya itu tahu dan menyapa mereka seolah tidak terjadi apa apa.


Dan, selama Harry di skors, Dilla yang duduk bersama Agung.


Seolah tahu ada keselahan yang dibuat oleh Lia,


“eh..eh.. Lia mau kemana kau?”tegur Yona yang melihat Lia akan keluar kelas.


“Ini pel dan ember kok diletak disini, etnar kita dimarahi bu Liza” sambung nya.


“Kan lu bisa memindahkannya sendiri ?”teriak Retno.


"Enak aja, pindahin ya" perintah Maya.


terlihat wajah kesal dari Retno dan Dilla namun ditenangkan oleh Lia.


"Cuma mindahin aja kok, gak papa santai,"ujar Lia tersenyum.


Tapi belum sempat Lia mengambil Ember dan Pel itu, Thalia yang sedang berada didekat Maya dengan akting kampungannya dengan sengaja menumpahkan ember itu ke lantai lagi dan berkata,


”Aduhhhh maaf Liaaa".


Retno dan Dilla makin heran. mereka tahu itu sengaja.


"Lia, Bersihkan ini sebelum bu Liza datang ya” ucap thalia sambil melempar ember yang ia pegang tadi. Maya dan Yona hanya tertawa dan mengiyakan apa yang di katakan Thalia dengan tatapan senyum menang.


"Kalian diluan aja ya, ini biar aku yang membersihkan, sebentar kok, aku tak mau kalian berantam juga karenaku" ucap Lia tersenyum pasrah. Kejadian Andy dan Harry memang benar benar berpengaruh terhadap mentalnya.


Mereka keluar kelas dengan hati puas setelah melihat Lia membersihkan lantai yang basah itu.


Berbeda dengan mereka, Jujur Retno dan Dilla malah sakit melihatnya diperlakukan begitu, tapi Lia cuma diam dan mulai membersihkannya, tak tahan dengan sahabatnya itu mereka berdua akhirnya membantunya agar urusan cepat selesai dan mereka bisa segera menuju lab IPA.


Harry hanya diam, begitu tiba didalam Lab IPA ini, Ia terlambat karena sebelumnya harus menghadap kepala sekolah dan Agung menemaninya.


Bu Liza yang berusaha menahan amarahnya akibat tingkah bodoh yang dilakukan Harry, Hanya bisa memukul pundak Harry pelan dan menyuruhnya duduk.


Bu Liza termasuk orang yang memprotes atas skorsing yang hanya diberikan padanya. Tapi apalah daya Ia hanya seorang guru biasa yang kekuatannya tak lebih dari wakil kepala sekolah lainnya.


Harry dan Agung duduk disamping Lia dan kawan kawan yang memang menyetel untuk sekelompok bersama pada mata pelajaran bu Liza ini.


"Kau datang Ri.." bisik Lia pelan.


"Enggak, Aku absen" bisikknya ditelinga Lia. Wajah Lia langsung heran. Refleks Harry tersenyum.


"Ya datanglah. ini aku disini" sambungnya lagi.


"Oh iyaa Bodok" balasnyaa tersenyum mengatakan dirinya sendiri.


Hari berlalu begitu cepat dan tak terasa berlalu begitu saja.


Dua hari berikutnya, jam pertama adalah olahraga dimana siswa yang datang sudah mengenakan pakaian olahraganya.


Lia setelah sampai di sekolah belum mengenakan pakaian olahraga sehingga harus menggantinya, Ia meletakkan tasnya di kelas, mengambil bajunya dan langsung menuju toilet. setelah selesai mengganti


“kau sedang ganti baju ya..” tanya seseorang yang mengejutkannya dan Lia sangat kenal dengan suara itu yang tak lain adalah Lusi kakak kandung Thalia.


“Hei.. wanita murahan, kau itu jangan sok manis,lembut dan kecantikan didepan pria ya” ujar Lusi memegang rambut Lia dan menarik kuat rambutnya yang di susul oleh Lisa yang datang dan berdiri didepan pintu toilet wanita.


“Ouh..sakit. jangan menarik rambutku dan satu lagi aku bukan wanita murahan seperti yang kau pikir” bantah Lia dengan berteriak.


“Kau masih bisa membantah ya, Lisa bawa air ke sini.”perintah Lusi sambil menarik seragamnya.


“Ooke. Kita akan buat dia basah hari ini agar bersih dan wangi” ujar Lisa mengejek dan segera menjalankan perintah Lusi.


Dan benar saja mereka menarik seragam sekolahku dan membasahinya sambil tertawa.


Untungnya baju olahraganya tidak kenapa-kenapa jadi masih bisa kering hingga pulang nanti.


Tanpa rasa bersalah mereka meninggalkan ku dalam keadaan kacau. Sejenak Ia terlihat menangis, lalu beberapa menit kemudian kembalu berdiri, merapikan dan mengikat rambutnya kembali, lalu pergi ke lapangan untuk pelajaran olahraga.


Ia hanya tersenyum seperti biasa menyimpannya sendiri dan tidak dapat mengadu pada siapapun, pada guru ia merasa akan sia-sia paling-paling orang sekelas Lusi akan menerima teguran singkat setelah itu selesai.


Pada orang yang mengenalku paling hanya mengatakan kasihan sekali Lia itu tanpa ada niat untuk membantu, dan jika Ia cerita pada walinya mereka hanya akan sedih dan Lia tidak mau hal itu terjadi. 


"Liaa kok lama banget sih ganti bajunya ?" keluh Dilla.


"Ohh iyaa, bajuku jatuh jadi basah semua" jawab Lia.


"Kok bisaa ?" tanya Retno. Harry meliriknya dan merasa ada yg tidak beres.


"Entah, kalo tau yaa mana jadi jatuh tuh baju." balasnya sambil tersenyum. Membuat seolah tidak terjadi apa apa.


****