
Selamat malam para pembaca yang menyempatkan waktu nya, untuk membaca karya pertama penulis ini.
Sebelum membaca chapter 35 ini, sebelumnya penulis ingin mengucapkan selamat Hari Kebangkitan Nasional yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 20 Mei ini.
Saat ini juga, ASOL, A Story Of Lia sedang berjuang bangkit untuk terus melanjutkan cerita ini sampai selesai.
Selain itu, ASOL juga sedang bertarung dan berjuang melawan garis waktu untuk meraih sebuah perjanjian yang biasa disebut dengan KONTRAK.
Maka dari itu penulis sangat mengharapkan dukungan dan doa dari pembaca sekalian untuk memberikan Like dan vote nya untuk ASOL dan penulis agar mampu bersaing dan terus meningkatkan kemampuannya dalam berkarya didunia kepenulisan yang kejam ini.
Terima kasih atas waktu, dukungan dan kesempatannya.
Penulis Akhiri,
Selamat malam.
...******...
..."Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju , akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang akan merubah hidupmu selamanya."...
Rencana perjalanan study tour ke Yogyakarta kali ini merupakan kegiatan sekolah yang diakomodir oleh guru mata pelajaran rumpun IPS (Ilmu Pengetahuan).
Ada guru Geografi, Sosiologi dan Sejarah yang dimana kegiatan ini diatur sedemikian rupa teknisnya bersama dengan seluruh jajaran OSIS.
Andy yang mulai sibuk dengan jadwal belajar tambahan dan ujian try out EBTANAS tidak bisa mengikuti study tour yang digerakkan oleh junior juniornya di OSIS.
Hal ini tentu membuat Lia senang bukan main, dan memutuskan untuk ikut study tour tersebut.
Tentu saja, jika Lia meminta, maka Harry takkan menolaknya.
Permintaan ini lah yang membuat Harry, awalnya tak mau, malah jadi ikut pada studi tour tersebut.
Lia juga mengajak teman teman yang lain, dan hanya Retno yang bisa bersama Harry tentunya.
Lia mendapat bus yang berbeda dari Retno dan Harry.
Hal ini sempat diprotes oleh Harry dan Retno tentunya. Cuma kembali Lia melarangnya, dan malah mendukung untuk mereka berdua untuk jauh lebih dekat, seolah ingin mencomblangkan Harry dan Retno.
“Waaaittt mbak ??,” ucap Adam memotong cerita mba Retno yang kini sudah masuk pada era millenial saat ini.
“Ini seriusan ?, Lia malah ingin mencomblangkan kalian berdua ?” tanya Adam sedikit terkejut dengan pernyataan dari mba Retno.
Mba Retno mengangguk. Tapi malah menunjukkan tatapan kosong, terdiam, mengingat kembali kejadian puluhan tahun silam.
“Baik mbak, Lanjut aja ceritanya” Pinta Adam seolah tahu pasti ada sesuatu setelah ini.
Kali ini mba Retno membalas dengan senyuman dan mulai melanjutkan ceritanya kembali.
Didalam bus pariwisata bermerk mercedes bens keluaran terbaru tahun awal 90 itu sadah cukup nyaman dengan kursi yang cukup luas dan berjumlah kurang lebih 32 yang bisa di up hingga 40 orang.
Lia masuk pada bus yang mayoritas kakak kelas dua dan anak kelas elit sepuluh 1 dan 2. didalamnya saat ini sudah ada 31 orang termasuk dirinya belum hitungan supir dan asisten nya. Namun kursi yang tersisa hanya ada disebelahnya ini.
Sangat jelas dan bisa dipahami Lia duduk sendiri di bangku paling belakang dekat jendela, dan kini membuka jendela itu sedikit agar bisa menghirup udara polusi yang cukup panas akibat mobil belum juga berjalan.
Ada juga beberapa pedagang yang masuk, menjajaki jualannya.
Walau sudah coba dilarang oleh Ibu guru pengawas bus, tapi karena permintaan dan permohonannya pada supir bus dan Ibu guru, Ia akhirnya diberikan izin untuk menumpang hingga persimpangan dan menjajaki jualannya.
Dan jelas tak ada yang mau membeli.
Lia yang telinga nya kini sudah ada Earphone yang tersambung pada kotak berukuran sedang sebesar kotak rokok bertuliskan Walkman. Ipod istilah gaulnya pada masa itu.
Kotak yang berisi lagu lagu klasik tahun 80an dengan band slow rock barat mendominasi.
Entahlah, banyak lagu yang sebenarnya tidak diketahui Lia, tapi Ia merasa sangat nyaman dan tenang mendengarnya.
15 menit yang lalu Harry memberinya ini, dengan alasan untuk menemani Lia di dalam bus. Bukan hanya Ipod itu, Ia juga memberi sebuah buku berbahasa asing, lebih tepatnya novel yang berjudul Sherlock Holmes.
Beberapa ada yang memaksa temannya untuk pindah agar bisa duduk dengannya, tapi Randy melarangnya dan lebih memilih duduk di kursi yang masih kosong.
Matanya tertuju pada seorang wanita yang memang sejak awal Ia bersekolah disini terpana dengan wanita tersebut.
Ya walaupun wanita tersebut mengejeknya buaya dan ketika dihampiri malah pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Di lihatnya wanita tersebut memejamkan matanya begitu nyaman menyenderkan kepalanya pada dinding bus dengan kaca yang sedikit terbuka itu.
Randy berusaha duduk dengan sangat hati-hati agar Lia tak menyadari keberadaannya. Untungnya Earphone itu sangat membantunya sehingga teriakan para wanita dibus, mungkin tidak terdengar.
Tak bisa dimunafikkan.
Para wanita terutama kakak kelas yang berada didalam bus tersebut melihat begitu sinis kearah Lia, begitu pria itu duduk tepat disampingnya dengan berhati-hati dan kemudian melipat tangan dan memejamkan matanya begitu tubuhnya rebah pada kursi bus tersebut.
“Dasar pelacur, pakai pelet apa dia kali ini ?” ucap seseorang didalam bus yang membuat mata Randy terbuka, tatapannya tajam dan berusaha melihat kearah sumber suara itu.
"Bagaimana bisa ada muncul ucapan seperti itu." gumamnyq dalam Hati.
Tapi dia tidak tahu siapa yang mengucapkan itu. Yang bisa Ia sadari adalah, kini orang orang melihat mereka berdua.
Dia lihat satu persatu orang orang yang melihat kearah mereka. Tapi tak ada satupun yang bisa Ia curigai.
Terlihat olehnya Thalia dan Zoya yang tak jauh berada di kursi bagian tengah, melambaikan tangannya pada Randy.
Randy yang melihat itupun ikut melambaikan tangannya membalas lambaian Zoya dan Thalia.
Bus mulai berjalan yang getaran akibat mobil yang awalnya diam kini bergerak membuat Lia membuka matanya.
Tersadarkan oleh feelingnya telah ada seseorang di sebelahnya yang membuatnya sedikit heran mengapa ada orang yang mau duduk dengannya di mobil yang berisi para anak super mewah dan terpandang ini.
Raut wajahnya berubah masam. Syok, melihat pria yang sangat tidak disukainya tersenyum didepannya menebar aura senyuman khas buaya darat yang siap menerkamnya.
“NGAPAIN LO ?” ucapnya dengan nada yang cukup kesal.
“Main bola, hahahahha” ucapnya dengan tawa nya yang cukup melece.
“Ya Studi tour lah” sambungnya begitu melihat tatapan Lia yang tak berubah sedikitpun.
“AWAS, PERGI” ucap Lia menyuruhnya untuk pergi yang membuat siswa sekitarnya melihatnya. Tapi Randy malah membalasnya dengan senyuman saja.
“Lo yang pergi, atau aku yang pergi” ucap Lia sedikit melunak, sadar akan ada orang yang memperhatikannya.
Tapi lagi-lagi Randy hanya membalas dengan tersenyum dan meminta orang orang yang memperhatikan mereka kembali ke urusannya masing masing dengan kata kata yang cukup tegas namun elegan seolah mereka tak bisa membantah pinta Randy.
“Takkan ada yang berpindah kursi antara kita berdua” ucapnya tegas dan kini mendekatkan wajahnya sejajar dengan wajah Lia.
Lia melihat mata biru yang indah itu, indah dan unik memang, tapi kembali teringat akan luka yang dibuat oleh Andy membuatnya mundur refleks setelah beberapa detik mata mereka berdua saling bertemu.
Lia coba berdiri tapi dengan satu tarikkan oleh Randy, Ia langsung terduduk.
Tidak sakit memang, tapi cukup mengejutkan bagaimana Ia bisa membuat tubuh Lia langsung tunduk dan terduduk hanya dengan menekan tepat pada bahu Lia.
“AWAS, jangan pegang-pegang bahuku” ucap Lia dan rekleks menjauhkan tubuhnya.
“Eeehh, Maaf.” Balas Randy. Dengan senyuman menawannya itu.
“Tidak ada yang boleh pindah” ucapnya sekali lagi dengan ekspresi yang telah berubah sambil menunjuk kearah Ibu Rose yang memang memperhatikan dari depan.
Lia tak bisa apa apa, dengan tatapan sinis tidak sukanya, Ia arahkan tatapan itu sekilas pada Randy yang masih tersenyum, yang sebenarnya Randy merasa heran dan sangat penasaran pada wanita satu ini.
Ia melihat walkman itu, dan sadar.
"HARRY" Ucapnya pelan. Dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan saat itu.