
..."Satu hal yang harus dipahami oleh setiap anak manusia, kita tak bisa mengatur waktu kembali, hanya bisa diceritakan pada generasi berikutnya. sebagai pelajaran untuknya"...
27 Agustus 1989
tertulis
" Seorang pria menyatakan cintanya padaku, dan itu didepan banyak orang, Aku tak bisa menolaknya, aku senang, tapi terasa ada yang menganjal, entahlah yang penting aku senang hari ini"
“27 Agustus yaaa.." ujar mba Retno menghela nafas.
"Waw, aku tak mengerti mengapa Lia langsung melompat ketanggal ini. Tapi, apa kalian berdua mau mendengarkan ?" tanya nya.
" aku akan ceritakan saat pertama kali Pekan Kreatifitas Siswa dimulai, maukah kalian mendengarkannya dari situ ?” tanya Mba Retno.
“Tidak masalah mba, lagian masih belum Ashar kok” balas Adam. Namun mba Retno melirik ke jam casionya, dan melihat beberapa belas menit lagi tiba waktu Ashar.
“Tante, tehnya sudah abis nih, ada sirup gak ?” tanya Intan. membuat mba Retno sedikit mengingat.
“Ohh iyaaaa, maaff tante lupa beli nya.” Ujar mba Retno setelah Intan tak menemukan sirup ataupun minuman lainnya. Mengingat hal ini, mba Retno pun punya ide.
“Oh yaudah, gini aja deh."ujarnya
" Dam, bisa gak kamu sama Intan keluar sebentar membeli makanan atau cemilan dulu dengan Intan, itu ada kunci mobil dan motor yang bisa kamu pakai.” sambung mba Retno dan Intan kini sudah duduk bersama mereka balik.
“Ayokk cabut, kita belanja dulu “ ujar Adam.
“Yaelaah Dam, tunggui napa, baru juga duduk ni ah.....” keluh Intan.
“Yaaa namanya baru disuruh sama mba Retno" balas Adam mendesak Intan untuk berdiri
" Yaudah ayookk"ucap Intan sambil berdiri,
" Emang lu tau mau belanja dimana ?” tanya Intan kembali yang membuat Adam menggeleng sambil tersenyum.
Padahal kalau pasar tradisional tempat Ia biasa belanja, bisa saja kesana. Namun, dengan bilang tidak, maka dia tak perlu repot repot nanti.
“Ohh iyaa kalian berdua nginap disini yah ?” potong mba Retno.
“Kebetulan, suami masih di cirebon dan besok pagi mungkin baru pulang. Bisa temanin mba gak disini ?” sambung mba Retno.
“Siaaappp tanteeee, mau si Adam kok Tannn” ucap Intan, lalu melihat ke arah Adam.
“Kalo ndak mau nihhhhh!!!” sambil menggempalkan tangannya.
“Okkeee, tapi ambil barang ku dulu di tempat temenku.” Ucapnya ke Intan
“Amaannn” balasnya.
“Tan sudah mau masuk Ashar juga, kamu bawa mukenahmu kan ?” tanya mba Retno.
“Bawa dong tan” balas Intan. Langsung dibalas isyarat jempol dari tante Retno tanda setuju dan mereka berdua pamit menggunakan motor mba retno.
*****
Masjid gaya klasik yang saat ini menjadi tempat dimana mereka salat adalah pilihan Intan. Di tengah perjalanan mereka berdua menuju supermarket.
Masjid ini bernama masjid Jogokariyan, salah satu masjid yang kini telah menjadi salah satu tempat wisata Ramadan yang terkenal di kota Jogja.
Setelah melaksanakan ibadah salat Ashar mereka pun bergegas untuk pergi ke supermarket.
"Sini mukenahmu, biar aku masukkan ke dalam jok" ujar Adam.
" Oh oke nih" Ujar Intan sambil menyerahkan mukenahnya
" Eh tunggu kamu nggak nunggu terlalu lama kan ?" Tanya Intan diikuti dengan dirinya yang mulai duduk di motor
" Oh nggak Kok santai santai santai" balas Adam sekalian menstater motornya dan melaju meninggalkan mesjid.
"Besok sore kayaknya, tapi lu yang nyetir ya Gua males, jauh, capek" balas Intan
" oke eh btw aku bingung kayaknya dengan cara kita bicara, kadang pakai aku kadang enggak, kadang pakai kamu, kadang pakai lu, kadangpun pakai Gua, nggak pernah kita tu bahasanya yang nentu" komen Adam
" Hahaha nggak papa lah, yang penting lu ndak tersinggung dan yaaa nyaman ajaa keknya.." balas Intan.
"Iya juga" balas Adam. yang kemudian sedikit menaikkan gasnya agar motor melaju lebih cepat.
" Eh lu jangan kencang-kencang goblok, belum mati Gua" ucap Intan sambil sedikit memegang jaket Adam dengan tangan kirinya agak tak jatuh dan tangan kanannya memukul helm Adam dari belakang.
" Yaelah Tan, baru juga lari segini dah lu takut, belum juga enam puluh" ujar Adam sambil tertawa.
Dua puluh menit perjalanan berlalu, dan kini mereka telah sampai di dalam supermarket, diselingi sedikit candaan mereka berjalan menuju lantai 3.
Sesampainya di sana Intan langsung bergerak untuk memilih bahan apa saja yang akan dibutuhkan untuk dimasak malam ini, dan Adam mengambil troli dan mengikutinya dari belakang.
"Tan yang mau dibeli ini nggak salah ini kan ?" tanya Adam sambil terus mengikuti Intan.
" nggak ini yang diminta sama tante Retno tadi." balas Intan mengambil salah satu produk minyak makan.
" Mau ayam atau daging sapi ?" tanya Intan.
" hah... ?" ucap Adam sidikit terkejut. dengan pertanyaan yang tiba tiba diucap Intan.
"Kalau aku sih lebih dominan ayam ya, tapi enggak tahu deh mau ayam atau sapi yang penting apapun itu kumakan." Balas Adam.
" hmmmm, oke".
"Kalau sebanyak ini Tan, bagus tadi kita naik mobil elu mah, kepenuhan ini yakin gak papa di belakang?" Tanya Adam.
" Santai bro makanya sering-sering ke Medan mah, biar lihat yang kayak beginian, bahkan lebih banyak dari ini bawaannya, banyak wehhh di Medan" balas Intan.
"Oke Ayo balik kayaknya udah cukup nih, atau kamu ada perlu lagi nggak ? tanya Intan.
" hahaha enggak enggak cukup cukup"Balas Adam.
Setelah berbelanja Intan dan Adam pun bergerak menuju basement untuk kembali ke motor dan berangkat pulang.
di perjalanan Anda melihat sekelilingnya sambil menggandeng 2 plastik besar belanjaan Intan, tidak banyak berubah dari arsitektur Mall ini, Hanya memang terdapat perubahan dari segi wallpaper gedung, namun secara keseluruhan tidak banyak yang berubah. Namun, wallpaper yang berubah masih terlihat sangat mewah dan memang bukan yang cocok buat Adam.
****
"Gimana masakan Intan, Dam ?" tanya mba Retno.
"Mantul mba.." jawab Adam,
"Tapi gak heran sih, udah pernah juga makan masakaannyaa di kemah duluu.." sambung Adam.
"Dammm..." balas Intan. menyuruh Adam untuk berhenti bicara sambil makan.
Ruang itu kini hening. Baru saja beberapa detik lalu. hanya ada Intan dan Adam, menunggu mba Retno keluar dari kamarnya. Namun jam dinding masih berdetak seperti biasanya. Vas bunga kaca bermotif ornamen klasik, terlihat begitu menawan.
Salah satu Koleksi buku kesayangan mba Retno yang lama bertengger di rak dekat televisi, kini telah sampai ditangan Adam dan mulai menceritakan isinya kepada Adam.
Gambar harmonis berseragam adat jawa yang bertahun-tahun setia menghiasi ruang tamu, seakan berbicara telah menyaksikan banyak hal selama dua puluh tahun lebih kehidupan mba Retno.
"Maaf, agak sedikit lama, mba membawa beberapa hal mungkin bisa menjadi pendukungmu mencari Lia, Dam" ucap mba Rerno yang kini membawa beberapa lembar amplop ditangannya, yang ketika melihatnya kita semua bisa mengerti bahwa itu adalah surat.
"ohhh makasih mbaaa" jawab Adam. sambil menutup buku mba Retno, dan meletakkan kembali pada tempatnya. Terlihat juga Intan mulai merapikan duduknya, merilekskan badannya untuk mendengarkan kisah muda tantenyaa ini.
"Ok, bisa kita mulai ceritanya kembali ?" tanya mba Retno merapikan duduknya.
"okeee mbaa" jawab Adam dan Intan mengangguk.