
..."Lihatlah kenyataan ini, tidak semua hal akan sesuai dengan apa yang kamu rencanakan, terkadang kamu akan menghadapi kekalahan dan kekecewaan dalam hidup"...
Lembar kedua, 1 Agustus 1989.
"Aku takkan pernah lupa hukuman ini, dan bersyukur karena seseorang sepertimu hadir disini."
"Liaaaa.... !!!" teriak Retno memanggil sahabatnya yang berjalan lumayan jauh darinya saat ia baru saja turun dari angkutan umum dan langsung berlari kearahnya. Dengan sedikit ngos ngosan dia rangkul sahabatnya itu.
Jalanan sekolah yang lebarnya tidak lebih dari empat meter ini, prediksiku, kala itu tak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang. Paling hanya beberapa orang yang menaiki sepeda motor dan selebihnya berjalan atau diantar orangtuanya.
Jalan yang ditempuh dari pertigaan tempat Retno turun tadi menuju sekolah sekitar 300an meter. cukup jauh memang, namun saat berjalan bersama teman, jalan ini terasa begitu pendek untuk bisa menghabiskan satu ocehan tentang kegeraman siswa dengan guru killer bernama buk Rita.
Sesosok guru yang terkenal keras dan sedikit temperamen, namun effortnya dalam mendidik siswa patut diancungi jempol. Tapi seriusan, jangan pernah memendekkan namanya dan menyatukannya dengan panggilan bu, bisa-bisa kalian bakal disuruh berdiri diatas meja sambil memegang kuping.
Lia, dan Retno kini telah sampai di depan pintu gerbang sekolah. Sekolah ini cukup bagus jika dibandingkan dengan sekolah sekolah lain di kota ini, namun bukan hanya segi fasilitas ataupun arsitekturnya yang menjadi daya tarik tersendiri di sekolah ini.
Tapi, ada sebuah pohon yang cukup besar tumbuh di pekarangan sekolah. Cabangnya yang banyak dan besar, dengan dua buah tali dan ban bekas jadilah iya sebuah ayunan tradisional yang jika melihat senja dari posisi itu, aku jamin kalian akan merindukan pemandangannya.
"Saya pernah dengar memang mba, dulu ada pohon yang besar di sekolah, tapi pas saya masuk, pohon itu sudah berganti menjadi lapangan Voli, alias sudah tidak ada" ucap Adam memotong cerita.
"Benarkah itu ?, waahh sepertinya memang saya harus kesana nih sekedar melihat-lihat, sudah sejauh mana sekolah itu berubah" balasnya. kemudian menlanjutkan ceritanya lagi.
Retno dan Lia kini sudah berada di dalam kelas. hanya beberapa menit berlalu namun sudah banyak orang yang datang. Jika dihitung seluruhnya ada 16 meja dan kursi kayu yang berjajar rapi sejumlah 32 kursi.
Sebagaimana hal nya meja sekolah yang berada disekolah, meja yang diduduki oleh Lia dan Retno ini pun tak luput dari coretan-coretan yang tidak jelas, membuat meja ini terlihat seperti seni abstrak yang 'waw..' sedikit mengganggu.
Namun, yang menjadi istimewa, dan mengapa Lia dan Retno sepakat untuk memilih duduk di sini ada sebuah kipas yang ketika dihidupkan anginnya sampai ke meja ini tanpa halangan yang pasti.
Ruangan kelas berukuran cukup luas sekitar 6x6 meter persegi dengan catnya berwarna putih dan abu-abu dengan lantai keramik berwarna putih yang sudah banyak goresan. Kalau pagi, ruangannya pun bersih.
Tidak ada sampah di lantai maupun coretan-coretan di dinding. Di sekelilingnya terdapat ventilasi udara yang membuat membuat akses udara masuk lebih banyak, disebelah kanan terdapat empat buah jendela yang berukuran sedang terpasang di dinding dan menghadap langsung ke halaman sekolah.
Jika Di depan ruangan, ada sebuah papan tulis yang masih kotor oleh tulisan-tulisan spidol berwarna hitam pada masa ini aku merasa mungkin hanya beberapa sekolah yang sudah menggunakan whiteboard seperti sekolah ini kebanyakan mungkin masih menggunakan kapur.
Tepat disebelah kanan paling depan menghadap berlawanan dari meja lainnya, ada sebuah meja kayu yang berukuran cukup besar dan kursi coklat dengan roda di bawahnya disertai dengan lemari kayu kecil tepat berada di samping meja dan kursi tersebut.
Atap di ruangan ini sangat rapi tidak ada yang rusak atau bolong. Terdapat 4 buah lampu yang menerangi kelas jika dibutuhkan dan terdapat sebuah kipas angin dengan tiga baling-baling terpasang tepat di tengah-tengah ruangan dan ada satu diatas papan tulis lebih condong ke sebelah kiri dipertengahan gang meja barisan Lia dan Retno.
Tapi sekarang hanya digunakan sesekali jika ACnya mati saja. Pintu dominasi Abu-Abu dengan gagang pintu berwarna silver telah dilewati satu persatu menandakan bahwa siswa lain mulai berdatangan, ada yang sendiri dan kadang ada juga yang bergerombol.
Dan sebagaimana awamnya jika setelah mendapatkan tempat duduk, mereka mulai mengobrol dengan teman dekatnya masing-masing. Setiap orang sibuk dengan obrolannya. Tertawa cekikikan, entah apa yang mereka bicarakan. Ada juga yang bertanya apakah ada tugas atau tidak kepada teman di sampingnya.
Seperti biasa disetiap kelas manapun, akan ada teman atau siswa yang berprofesi sebagai 'Spy' atau mata-mata yang bertugas untuk melihat apakah guru sedang datang ke kelas atau tidak, dan profesi ini diemban oleh Agus, putra daerah dengan logatnya yang khas dan cita citanya sebagai agen BIN (Badan Inteligent Negara).
"Bu, Rit dah datang. Cepat-cepat" ucapnya yang kemudian berlari bergegas ke mejanya.
Harry dan Agung juga sudah ditempat duduknya dan kini bergegas menyalin tugas yang harusnya dikumpul hari ini. Mendengar bu Rita yang sudah menuju kelas mereka berdua bergegas dan siap pada waktunya.
"Re, makasih" ucap Agung sambil menyerahkan buku Retno, dan Retno menerimanya sambil memberikan kode jempol dengan tangannya.
Entah apa yang menyelimuti perasaan buk Rita kala itu, apakah karena efek Milan kalah, (gadak hubungannya), atau mungkin karena uang belanja nya habis. Entahlah, yang intinya ekspresinya kesalnya kala itu tak bisa dimengerti oleh kami.
"Kumpulkan tugas minggu lalu dan buka buku pelajaran kalian halaman 86" ucap guru tersebut setelah semua siswa mengucap salam dan berdoa. tak ada yang aneh disitu semua siswa mengumpulkan tugasnya, dan membuka buku pelajarannya.
Seolah tahu apa yang terjadi, "Silahkan juga ringkas topik materi tersebut dari halaman 86 sampai 93, saya juga akan melihat catatan kalian" ucapnya. Retno dan teman-teman yang lain mengeluarkan catatannya tapi ada seorang wanita yang terlihat panik dan sibuk mencari didalam tasnya.
"Liaaa, jangan bilang kamu lupa membawa catatan?" ucap Retno pada Lia,
"Perasaanku bawa Re, tapi, Mampus deh" balasnya.
"Bagi yang tidak membawa catatan silahkan keluar kelas, sebelum saya yang datang ke sana" ucap Buk Rita seolah tahu apaa yang terjadi. dengan perasaan sedikit takut, sedih,kecewa dan kesal Lia pun akhirnya keluar dari mejanya dan menuju meja guru tersebut.
Tanpa pikir panjang dengan nada sedikit membentak, guru tersebut menyuruhnya berdiri diluar kelas dengan kaki terangkat satu dan memegang kedua kuping.
Tak lama setelah itu, terlihat dari jauh anak-anak kelas lain yang sedang berolahraga melihat Lia dengan tatapan yang mungkin semua wanita akan risih melihatnya.
Terdengar olehnya suara bentakan dari buk Rita, dan sejurus kemudian, Harry keluar dari kelas dan kini berada disebelahnya melakukan hal yang sama dengannya dengan sedikit tersenyum. Lia, terheran.
"Kamu ngapain, ? bukannya tadi -?"
"sssttt" potong hari sambil mendekatkan wajahnya
"Aku kebetulan malas mencatat, dan buk Rita begitu mengerikan" Bisiknya memotong ucapan Lia.
"Tenang, kamu gak sendiri kok, ada aku yang juga dihukum." ucapnya sambil tersenyum yang membuat tak bisa membohongi diri, mendengar itu terasa sedikit lega.
"Lah kaliaannn, ?" ucap Lia melihat Retno dan Agung juga ikut keluar dan berada disamping mereka.
"Sudahku bilangkan, kamu tak sendiri" bisik Harry sambil tersenyum bersama dengan teman yang lain. Lia juga akhirnya tersenyum, namun kembali terdiam memikirkan hukuman berikutnya yang akan mereka jalani.
Apakah akan dipanggil orang tua atau hukuman lain yang sudah menanti, Lia tahu bahwa buk Rita tidak akan menghukum mereka dengan hanya keluar kelas dan seperti ini, pasti akan ada hukuman lain.
"hhhuuffftttt" Lia menghela nafas.
*****