A Story Of LIA

A Story Of LIA
DUA LIMA



..."Penyesalan merupakan sebuah Neraka kehidupan yang akan menghantuimu sepanjang hayat"...


...~ Vincenzo...


*****


"Mbaaa ,oooo Mbaa" Tanya Adam memutuskan cerita dari mba Retno.


"Iya Dam, kenapa ?" tanya mba Retno kembali.


"Dari mana mba tau, apa yang dilakukan Harry dan Lia diruang osis, atau bahkan mungkin diruang guru ?, kan mba gak ikut dihukum ?" tanya Adam.


Sekilas muncul senyuman dari mba Retno.


"Gak heran sih mengapa kamu bisa jadi ketos di SMA angkasa dulu, Pertanyaan yang bagus" jawab mba Retno sambil mendekatkan dirinya dan membuat isyarat agar Adam mendekat.


"Dari cerita Harry dan Lia, hahahahahaha" balasnyaa berbisik lalu tertawa.


"Oooohhh kok bisa mba ???" tanya Adam sambil menjauhkan badannya kembali duduk dengan normal.


"Mereka berdua cerita, Lia datang kerumahku awalnya cerita tentang kesibukannya, lalu entah mengapa cerita tentang itu, besoknya malah Harry yang cerita di markas DPR" balasnya.


"Jadi, Harry cerita jugakah alasannya terkait lembar ujian, dan akhirnya dihukum ?" tanya Adam lagi.


"Ya tentu, Agung mengintrogasinya, hahahahaha" jawab mba Retno sekaligus mengingat bagaimana Agung mengintrogasi Harry secara serius dan seksama.


"Oohhhhhhh" jawab Adam panjang.


"Harry sengaja Dam, mengisi ujian seperti itu, menurutnya hanya dengan remedial atau membatalkan ujiannya lah, Ia bisa menghabiskan waktu bersama Lia yang sedang ujian susulan selama 3 hari diruangan yang sama" jelas mba Retno.


"Ya walaupun kemungkinan untuk mereka bakal berada diruangan yang sama kecil, Namun tak qda salahnya mencoba" sambung mba Retno.


"Ya pada akhirnya Ia berhasil, satu ruangan dengan Lia, yaa walaupun kadang katanya agak sedikit panas melihat kemesraan Andy dan Lia." jawab mba Retno dengan ekspresi yg mulai serius kembali mengingat masa lalunya dulu.


"Ohh iyaa mbaaa" Adam teringat lagi.


"Bagaimana dengan Andy yang juga diruangan itu ?, kan perasaaan Adam sangat tidak suka dengan saat Andy bersama Lia" ucap Adam.


"Sepertinya dia lebih memilih menghindar gitu" sambung Adam. Kali ini mba Retno kembali senyum mengingat kenangan masa remajanya dulu.


"Kamu menanyakan apa yang ditanyakan Agung kepada Harry, loh Dam, Persis sekali" balas mba Retno diiringi tawa kecilnya.


"Eeehhhh seriusan ?" ekspresi spontan Adam malah membuat mba Retno ketawa.


Mendengar tawa mba Retno, Intan yang sudah berpetualang di negeri mimpi pun tersentak dan tersadar dari tidurnya.


"Ada apa, ada Apa ????"Tanyanya refleks dengan jilbab yang dikenakannya terlihat sedikit acak-acakan, terlihat sedikit rambut dipipi kirinya dan masih berusaha mengumpulkan nyawanya, namun gagal.


Adam yang melihat sahabatnya begitu, langsung memegang kepala Intan, dan memasukkan rambut Intan yang sedikit keluar, kemudian kembali meletakkan jaketnya yang jatuh kembali ke badan Intan.


Intan yang setengah sadar pun kini telah kembali keposisinya semula, dan melanjutkan kembali posisi tidurnyaa beberapa detik kemudian.


Yang membuat mba Retno hanya tersenyum melihatnya dan sedikit heran dengan perlakuan Adam,


"Dam ?, kamu ??" tanya mba Retno sambil tersenyum penuh maksud,


"ehhh, mba..." ucapnya refleks seolah paham maksud senyum mba Retno.


"Udah biasa dia gini mah mba, waktu di kamp pelatihan lagi, asal sudah jam segini dia pasti molor tuh, bahkan kadang ada instruktur yang langsung memukul meja tempatnya tidur dengan kuat supaya dia bangun dan tidak tidur pada kegiatan." jawab Adam.


"Enggak maksud mba, mengapa begitu lancar merapikan rambutnya Intan?, kayak gak ada rasa canggung atau gimana gitu ?"tanya mba Retno kembali


"Oohh, yaaa gimanaa ya mba jawabnyaa, sering mahh gituuu, apalagi kalo nemenin dia beli produk kecantikannya, boro boro liat kaca, atau meletakkan barang bawaannya, dia malah minta tolong rapikan rambutnya ke saya mba, saking magernya Ia meletakkan barang yg dibawanya lalu membawa kembali" balas Adam, menceritakan kebiasaan Intan padanya.


"Oohh gitu, kenapa gak kamu aja yang pegang bawaanya ?"tanya mba Retno sedikit tersenyum kali ini.


"Ehhh, iyaa jugak yaaa, gak kepikiran mba waktu itu jadii yaa, lakuin ajaa yang dia minta" Jawab Adam diselingi tawa dan menggaruk kepala belakangnya.


"hhmm, entahlah mba, saat ini saya cuma menganggapnya seperti saudara saya sendiri, tidak lebih dari itu" Ucap Adam.


"yakinn kamu ??" tanya mba Retno lagi,


"Entahlah mba, saya tidak tau, biarkan waktu yang menjawab gimana nantinya mba" jawab Adam.


"Bahasamuu Dam, hahahahaha" balas mba Retno.


"Pesan mba, Jangan sampai kamu terjebak didalam sebuah penyesalaan, dan terlambat menyadari yang harusnya kamu sadari" ujar mba Retno,


"Karena banyak yg bilang bahwa penyesalan merupakan neraka didalam kehidupan, yang akan menghantui sepanjang hidup." sambungnya


"Baik mba, saya akan coba mengingat itu" balas Adam.


"Hahahahaha baiklah Dam, kita lanjutin ceritanya ya" Ucap mba Retno beberapa detik kemudian setelah keduanya akhirnya hening.


Mba Retno kembali membalikkan lembar Diarynya.


"Dam coba perhatikan disini"ucap mba Retno sambil menunjukkan sesuatu di Diary itu.


"Terlihat seperti basah dan ada Sobekan kan ?" Ucap mba Retno.


"Coba sini mba Diarynya" pinta Adam memastikan.


"Eh iya ya mba, kalau dilihat dari bentuk koyakannya yang rapi ini, ada 2 atau 3 halaman yang hilang disini"Jawab Adam.


"Kenapa kamu yakin 2 atau 3 halaman Dam ?" tanya mba Retno


"Yaaaaa, kemarin sempat trainer preservasi dan penyelamatan buku di New York Public Library mba, mengisi waktu luang"Jawabnya.


"Kamu benar Dam" Ucap mba Retno kembali senyum namun kali ini senyumnya berbeda terlihat seperti sedih.


"Mungkin saat itu Lia ada menulis sesuatu, dengan menumpahkan semua isi hatinya, hingga kertas ini basah menembus hingga halaman ini." ucap mba Retno.


"Tapi yang jelas, kertas ini basah karena airmatanya dan mungkin dia tak mau mengingatnya lagi, sehingga dihapusnya dengan cara mengoyak kertas ini" jelas mba Retno.


"Tapi mba tau cerita ini kah ?"Tanya Adam.


"Kalau dilihat dari halaman berikutnya yang sudah di kelas dua" mba rasa tahu dan bisa menceritakan kisah kami diakhir semester 1 dan di semester 2" jawab mba Retno.


"Alhamdulillah" jawab Adam Refleks.


"Tapi seriusan kita lanjut nih ?, gak mau istirahat dulu ?" tanya mba Retno.


"Kalo saya tahan aja sih mba, tapi sebelumnya mba gimana ? mau istirahat kah ? atau mau dilanjutkan terus ?" Tanya Adam balik.


"Mungkin karena ini cerita saya, dan saya pun merasa nyaman bercerita padamu" balas mba Retno.


"mba rasa bisa melanjutkan kisahnya, dan setelah subuh baru tidur kembali" Sambungnya.


"Ohh oke mba, itupun boleh, asal mba tidak keberatan" tanya Adam balik.


"Saya senang kamu kemari, apalagi termasuk junior saya dulu di SMA, jarang saya bisa cerita masa muda saya seperti ini, bahkan ke anak saya, mereka mah tidak tertarik sepertinya" ucap mba Retno diselingi tawa.


"Saya pun merasa begitu diterima disini mba, walau pertemuan kita baru dan sangat singkat. Entah mengapa, saya merasa sudah sangat dekat dengan mba" jawab Adam.


mba Retno yang melihat bola mata Adam memang tidak terasa begitu asing baginya. Tapi mungkin hanya perasaannya saja.


"baiklah, kita mulai ceritanya ya" ucap mba Retno sambil tersenyum.


"Gasskaan mbaa" jawab Adam sambil mempersiapkan pena dan buku catatan kecilnya untuk ditulis bagian pentingnya.


*****