A Story Of LIA

A Story Of LIA
SEMBILAN BELAS



..."Wahai Jiwa yang terbuang, Teruslah Berjuang Walau Terbuang"...


Masih terdengar dan terasa begitu hangat, Euforia kemenangan kelas Sepuluh Enam dalam lomba cerdas cermat seolah menjadi pembuktian bahwa kelas X-6 bukanlah kelas buangan.


Karena jika diurutkan, memang urutan mereka menjadi yang paling belakang, dan letak kelaspun yang paling ujung. Terlebih lagi hal ini tentu tamparan bagi kelas kelas elit Sepuluh Satu maupun Dua.


Karena kelas mereka yang notabenenya penuh dengan siswa yang berprestasi dan menjadi Ikon buat kelas X tentu merasa terlangkahi dengan keberhasilan kelas X-6 ini.


Retno kembali melihat jamnya sudah menunjukkan pukul 4 sore, ada pertandingan sepak bola antara X-6 dan X-1 yang artinya ini pertandingan sarat gengsi antara kelas unggulan dan kelas buangan.


Walaupun kelas X-6 terbilang kelas buangan, namun mereka termasuk juga siswa yang bagus karena berhasil masuk ke SMA yang termasuk ketat dalam menerima siswanya.


“Liaaa, cepattt,” teriak Retno yang kni berdiri dan melihat sahabatnya itu yang sedang mengenakan sepatunya.


“Sabar napa sih, reee” balasnya begitu selesai berdiri dan berjalan menuju Retno.


Lia dan Retno berjalan saat ini berjalaan menuju lapangan sepakbola dan Dari jauh sudah keliatan bahwa sudah banyak siswa yang menonton pertandingan sepakbola ini.


Lia dan Retno berusaha untuk merengsek kedepan dan berdiri di area kelas X-6. Begitu sudah berada dibagian depan, Ia melihat Harry sedang memegang kendali bola. Melirik dan mengatur tempo pertandingan.


Harry yang memang sudah bisa bermain sejak menit awal mendapatkan kawalan ketat dari pemain X-1. hal ini membuat suplai bola ke Agung sangat sedikit, dan jika dilihat pun ada bentuk wajah tertertekan dari kelas X-6.


“Sudah berapa Skor ?” Tanya Lia bayu yang kebetulan ada disampingnya.


“1-0, yaa” balas Bayu.


“Siapa Unggul ?” tanya Lia balik.


“Sepuluh satu, tadi Agus buat kesalahan dengan terlambat menyapu bola dan akhirnya menekel lawan dikotak penalti” ucap Bayu.


“Dan yaa akhirnya lawan mendapatkan penalti dan kita kebobolan” sambungnya sambil terus melihat pertandingan.


Masih ada 15 menit lagi sebelum istirahat babak pertama. Sekilas Harry melihat Lia dipinggir lapangan bersama Retno dan teman teman lainnya.


Terlihat juga Izman yang saat ini sedang memegang bola tidak dapat menembus pertahanan kelas X-1 yang memang main sangat bertahan dan menyerang dengan serangan balik cepat lewat kedua pemain sayapnya nomor 11 dan 7.


“Izman” Teriak Harry. yang sontak begitu mendengar dan melihat Harry, Ia langsung mengoper bola kepadanya.


Harry kini berlari kecil mendribble bola dan mengoper kepada Agung. Agung berlari melebar dan berhasil melewati satu pemain lawan. Namun sudah ada dua pemain di depannya. Dilihatnya Izman dan kemudian mengoper bola itu kearahnya.


Izman yang sedang terdesak, langsung saja mengoper bola itu kebelakang kepada Agus, Agus mengoper bola ketengah dan diterima dengan baik oleh Harry.


Harry yang saat ini ditengah, dan melihat pertahanan begitu rapat, mengoper bola kembali kepada kiper yang memang saat ini dirinya tidak berada didalam kota penalti akibat tim lawan yang bermain sangat bertahan.


Tak terasa sudah hampir sepuluh menit bola berada di penguasaan X-6, para pemain tidak ada yang berhasil untuk merengsek masuk ke pertahanan lawan.


Kini bola di berada di Harry, terlihat juga Ismail mulai berlari kedepan hingga menarik 1 pemain lawan. Ada Agung juga yang bergerak mundur menjemput bola.


Melihat ini Harry langsung mengoper bola ke Agung yang dengan sekejap melakukan gerakan tipu dengan mengolongi bola tersebut diantara kedua kakinya yang akhirnya juga mengolongi lawan dan Ia sudah unggul dalam jumlah langkah.


Terlihat dua bek mulai datang menghadangnya. Agung yang sudah tahu pergerakan Harry mengoper bola ke Ismail merengsek masuk dan menerima bola dengan baik berusaha untuk menendang namun 3 pemain sudah menutup ruang tembak dan ruang geraknya.


Melihat hal itu akhirnya Ismail melakukan operan kebelakang dengan tumitnya yang membuat semua pemain bertahan lawan terkejut.


Sayang seribu sayang bola malah mengenai tiang gawang dan pemain bertahan yang mengejar dan mendapat bola tersebut menyapu bersih bola tersebut kedepan.


Dan diterima pemain nomor 7 yang berlari kencang mengontrol bola tersebut. Praktis hanya ada Agus yang berusaha mengejarnya tertinggal dua langkah akhirnya Agus mengambil keputusan dengan menariknya yang membuat pemain nomor 7 tersebut terjatuh.


Sadar akan tindakannya Ia langsung berdiri meminta maaf dan wasit yang sudah ada didepannya langsung memberikan kartu kuning kedua, dan sedetik kemudian kartu merah. Itu artinya, kembali X-6 akan bermain dengan 10 pemain.


“Tidak papa bro” ucap Harry menghibur Agus yang harus meninggalkan lapangan lebih cepat.


Harry kemudian berlari menuju Lia dan membisikkan sesuatu padanya. Permainan kembali berjalan dan tak lama setelah itu bel peluit berbunyi dengan kedudukan masih 1-0 dengan keunggulan X-1.


Harry berdiri diantara namun masih belum berkata-kata, Agung pun praktis tidak banyak mendapatkan bola pad apertandingan ini. terdengar juga tawa dari kelas X-1 dan tatapan merendahkan dari suporter kelas X-1.


Lia datang membawa papan tulis mini. Dan memberikannya ke Harry.


“Baik kawan-kawan karena kita tertinggal dan hanya bermain 10 pemain ini strategi yang akan kita mainnya” Ucap Harry Sambil mulai menyoret papan tersebut.


Bunyi peluit tanda sudah berlangsungnya babak kedua sudah dibunyikan oleh wasit.


Terlihat kelas X-6 langsung menekan lawan dengan pergerakan agresif setiap orang. Praktis tim lawan tidak bisa memegang bola terlalu lama.


Harry yang biasanya berada di tengah dan menjadi pengatur ritme permainan kini berada dibelakang. Tepat berada di depan bek tengah.


Bola berhasil direbut oleh Ismail, Mail mengoper ke Agung dan Agung mengoper ke Harry dibelakang. Terlihat kembali pertahanan rapat dari X-1 yang kini hanya menyisakan pemain nomor 9 didepan.


Mendapat hadangan dari pemain nomor 9, Harry dengan gerakan sederhannya berhasil melewati pemain nomor 9 dan kini mengoper panjang ke Izman yang berada di sudut kiri pertahanan lawan.


Terlihat dua pemain sudah berada dihadapannya dengan sedikit gerakan Ia coba penetrasi merengsek masuk ketengah dan berhasil.


Ia coba menendang bola tersebut dengan kaki bagian dalam agar bola melintir, namun bola tersebut mengenai kepala pemain nomor 4 dan bola liar mengenai tangan pemain nomor 8 tepat 1 meter digaris depan penalti.


Tendangan bebas untuk X-6.


Terlihat wajah tegang dari Harry yang kini beradapan dengan bola dan pagar hidup dari X-1.


“Liaaa” ucap Andy yang kini berdiri disampingnya.


Retno yang tak sengaja mendengar nama sahabatnya itu, ikut menoleh melihat orang yang memanggil Lia dan ternyata adalah Andy, namun begitu tahu Andy, Ia kembali melihat pertandingan.


Entah apa yang mereka bicarakan, Andy kemudian memegang tangan Lia dan menariknya meninggalkan kerumunan kelas X-6 dan tertinggallah Retno melihat pertandingan.


Terlihat Harry fokus pada bola dan melihat kesisi gawang dengan tatapan tajamnya.


“piiiiiittttt” bunyi pluit dari wasit. Harry yang mendengar peluit tersebut langsung bergerak kearah bola dan menendangnya keras.


Terlihat bola yang ditendang Harry ternyata menyusur tanah melewati bek lawan yang melompat tinggi dan meluncur mulus ke gawang tanpa bisa dihentikan oleh kiper.


“Gooooollll” teriak komentator yang membuat skor kembali imbang dan hanya menyisakan 7 menit lagi. Harry yang saat ini menerima toss dan pelukan dari teman teman nya melihat kearah penonton dan terlihat Andy memegang tangan Lia dan pergi menjauh dari area pertandingan.


****