
..."Terkadang ada sebuah hubungan yang lebih erat dari hubungan darah, hubungan ini disebut dengan persahabatan"...
Langit senja kemerahan yang mereka lihat bersama hari ini, Harusnya merupakan senja terakhir yang bisa mereka lihat bersama sama di tahun 1989 ini.
Akan ada libur selama 2 minggu lebih sebelum memasuki tahun ajaran genap yang akan dimulai pada tanggal 8 Januari 1990.
Tapi sebelum itu, hari ini Retno memahami bahwa Agung dan Harry bukanlah dua seorang sahabat dekat saja.
Hubungan mereka sudah seperti dua sisi mata uang logam yang berbeda namun memiliki maksud dan nilai yang sama, keduanya mendeskripsikan pemaknaan nilai yang terdapat pada uang logam tersebut.
Terlalu rumit ya ?, begini maksudnya, ibarat Batman yang mempunyai Robin sebagai partnernya, begitulah hubungan kedua sahabat yang sudah bersama sejak kecil ini.
Atas perintah kakeknya, Harry yang lahir di luar negeri dibawa ke Indonesia, kemudian dititipkan oleh ayah dan ibunya kepada seorang lelaki tua yang umurnya kurang lebih sama dengan kakeknya.
Yang dimana pada akhirnya Ia ketahui bahwa kakek tersebut adalah sahabat dekat kakeknya yang merupakan pensiunan TNI berpangkat perwira.
Kakek tersebut memiliki cucu yang sama besar dengannya bernama Agung, orang yang sedang tersenyum menikmati indahnya sore ini, yang dengan tiba tiba melihat Retno dan tersenyum padanya.
"Kenapa kamu senyum Gung ?" Tanya Retno.
“Gak papa Re, Aku senang aja melihat kalian mau ikut kegiatan kemah bakti besok.” Balas Agung.
“Yaelah, biasa aja kali Gung, toh juga keliatannya seru.” balas Lia.
“Eh, tumben kamu gak pulang bareng pacarmu ya ?” tanya Agung spontan.
“Sudah lama aku gak menghabiskan waktu dengan kalian” jawabnya senyum.
“Soal pacar, toh belakangan ini kami selalu bersama, dia bakalan paham kok nanti” sambung Lia.
“Ehmm Ok, untuk kegiatan ini ? respon keluargamu gimana Ri ?” tanya Lia ke Harry yang membuat mereka bertiga tertegun terkejut.
“Ohh, gak ada respon sih, lagian juga aku bersama Agung, jadi tidak ada masalah” jawab Harry.
“Kamu gimana Lia ?, Orang tuamu...” tanya Adam hati-hati.
“Diizinkan lah, tenang saja” jawab Lia.
“Hhmmm Oke” jawab Harry dan teman lainnya mengangguk.
****
Didalam perkemahan bakti kali ini akan ada 1 sangga kerja yang akan dikirim kesebuah desa dan melakukan pengabdian selama 7 hari.
Itu artinya mereka akan menghabiskan tahun bersama warga desa, ikut membangun atau sekedar berpartisasi dalam kegiatan yang diadakan masing masing desa.
Agung telah memilih sangga kerjanya yang terdiri 7 Orang. Ada Lia, Harry, Dilla, Retno, Bambang dan Anggun dari kelas sebelah. Mereka akan diletakkan di desa Suka Makmur yang merupakan salah satu desa yang cukup bagus dan menjadi percontohan untuk desa-desa lain di kabupaten tersebut.
“Nanti sebelum kita ke desa kita akan berada di kantor bupati terlebih dahulu untuk pembukaan baru setelah itu kita akan menggunakan kendaraan yang disediakan oleh pemkab.” Ucap Agung kepada sangga kerjanya.
“Siap” balas Harry yang diikuti dengan anggukan oleh teamnya.
Kurang lebih 15 menit telah berlalu setelah upacara penutup berlangsung. Kini Agung dan teman teman sedang ada disebuah mini bus yang menuju kesebuah perdesaan di salah satu tempat di Jawa.
“Kurang tau, tapi tenang saja kita mendapatkan desa yang warganya kebetulan mau diajak kerjasama” balas Agung.
“Untuk tempat tinggal mungkin kita akan dimess sampir balai desa” ujar Agung sambil menjelaskan.
Disepanjang perjalanan terlihat pohon pohon yang cukup tinggi, praktis jika dilihat arah mobil, kita akan disuguhkan pemandangan alam khas pegunungan yang artinya daerah ini terbilang cukup asri. Terlihat juga sistem irigasi sawah yang cukup cantik memadukan persawahan dan sungai.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, mereka yang begitu tiba langsung diterima oleh kepala kampung dan diberikan tempat tinggal berupa mess dibalai desa dan khusus untuk putra, mereka segera membangun tenda tepat dihalaman depan Mess balai desa yang berfungsi untuk tempat tidur mereka.
Tak banyak kegiatan yang mereka lakukan pada hari pertama, hal ini karena mereka yang tiba pada sore hari. Praktis pada hari pertama mereka hanya bisa beraktivitas di mesjid dan silaturahmi dengan beberapa warga.
Sebelumnya mereka ada delapan orang dengan 7 peserta kemah bakti dan 1 pembina pendamping, dimana pembina pendamping ini merupakan salah satu kakak pembina tingkat mahir lanjut yang kebetulan berdomisili tidak jauh dari desa tersebut. Mereka memanggilnya kak Salman.
Pagi hari tiba dengan diiringi suara nyanyian ayam jago, mereka bertujuh telah siap melakukan kegiatan mandiri berupa ibadah dan bersih bersih praktis kini mencoba berkeliling desa dengan Agung berada dipaling depan.
Retno melihat jam nya, Saat ini sudah pukul 7 namun suasana desa yang asri dan subur ditandai dengan penghasilan kebun yang melimpah rua, para penduduk desa yang mereka temui dijalan memiliki etika yang penuh rama tama dan sopan santun yang baik.
Terlihat juga padi-padi hijau yang ada pada petakan sawah-sawah milik penduduk asli desa ditambah dengan segarnya udara dan pemandangan pegunungan didepan seolah menjadi hiasan mata bagaikan negeri yang penuh berkah dan terhindar dari bencana.
Selain itu sejauh mata memandang ada kebun-kebun petani lain yang subur dengan beragam macam jenis tanaman pangan, seperti tanaman padi, gandum, jagung, buah-buahan dan sayur-sayuran yang sangat menggembirakan hati bila di bandingkan melihat gedung-gedung dan ruko-ruko yang menjulang tinggi diperkotaan.
Namun setelah Lima hari mereka disini, mereka dapat memahami bahwa Anak-anak penduduk desa ternyata sangat kreatif sekali mereka bisa memanfaatkan alam yang ada di sekitar mereka untuk bermain dan olahraga seperti bermain bola api pada malam hari dengan menggunakan buah kelapa contohnya.
Selain itu, Terkadang warga memberi mereka hasil perkebunan yang mereka punya tanpa meminta balasan kepada Agung dkk.
“Waaaah” ucap Lia menghentikan lamunan Harry dan Agung di anak tangga menuju mesjid.
Praktis setelah menunaikan solat isya, mereka bertujuh akan menghabiskan waktu di mesjid.
Terkadang berdiskusi dengan warga, terkadang berdiskusi tentang pencapaian hari ini atau kegiatan besok, atau sekedar duduk menunggu hari semakin larut untuk kembali ke mess.
“Kenapa Ya ?" tanya Retno pada Lia yang datang bersama Dilla dan kini berada disampingnya memangkukan tangannya pada kayu pembatas mesjid.
“Aku tak menyangka saja bahwa ternyata di pedesaan itu penuh dengan kedamaian, kerja sama, saling peduli sesama, dan penuh kekeluargaan.” Ucap Lia,
“bukan hanya itu yaaaaa” potong Bambang yang kini ikut duduk tepat di anak tangga, satu tangga diatas Agung dan Harry.
“Kejadian di perdesaan sungguh jauh berbeda dengan wilayah perkotaan yang semua orang-orang sibuk masing-masing dan kurang kepedulian antar sesama.” Sambungnya.
“kalian juga merasakannya kan ?,” tanyanya kembali.
“Dimana setiap usai menaksanakan sholat maghrib, kita tahu semua penduduk desa akan segera pulang kerumah untuk berkumpul bersama keluarganya masing-masing bertukar cerita dalam penuh humoris dan keharmonisan yang memancarkan dalam suasana malam” ucap Bambang sambil tersenyum.
“Tinggal dua hari lagi kita disini besok dengan kegiatan pembangunan tugu dan bak sampah dan sosialisasi pentingnya membaca.” Ucap Agung.
“Kita gak bisa nambah hari lagi kah ?” tanya Retno.
“Enggak, bahkan dilusa nanti kita akan dijemput pagi, dan akan kembali ke kota setelah zuhur.” balas Harry sambil melihat jadwal kegiatan di bukunya.
“Hhhmm okee” Balas Retno
****