
..."Apa yang memang untukmu pada akhirnya akan kembali padamu, namun jika Ia tidak kembali, itu pertanda bahwa kamu bakal dapat yang lebih baik"...
Langit sore yang terlihat diatas sana, dan sorak sorai para pendukung kedua tim yang sedang bertanding hari ini memang memiliki kesan tersendiri bagi Lia dkk.
Lima belas menit telah berlalu sejak wasit utama yang kebetulan dipanggil oleh sekolah, Ia merupakan slaah satu wasit berlisensi yang dimiliki oleh dispora setempat.
Ini adalah partai final sekaligus pertandingan penutup event pekan kreatifitas siswa, namun seperti yang diketahui bersama bahwa pada hari ini kegiatan bukan hanya berlangsung sampai sore seperti biasanya namun sampai pukul 10 malam.
"Liaa, Sebenarnya kamu dukung siapa sih ?" Tanya Retno.
"Ya dukung kelas kitalah" balasnya.
"Tapi kenapa setiap Andy memegang bola, kamu selalu teriak semangat ?" tanya Retno kembali.
"Itu beda lagi ceritanya" balasnya lalu teriak memberi semangat kepada Andy.
Terlihat oleh Retno bagaimana Andy membawa bola bersamanya dengan sangat tenang dan lincah. Ia berhasil melewati sampai 3 pemain kelas X-6 ditengah namun ketika bertemu Harry entah mengapa Andy selalu mengoper bola kembali kebelakang seolah ada dinding yang tak tertembus disana.
Pantas saja, kali ini tim yang dipimpin Harry menggunakan pola bermain 4-1-4-1 diaman diantara bek tim ada Harry sebagai pemutus serangan dan gelandang pengangkut air dan didepan sudah menunggu Agung dengan kecepatannya.
Pertandingan memasuki lima menit penghujung babak pertama, kali ini bola dipegang oleh Izman yang memang penetrasi maupun gocekannya hari ini tidak terlalu berhasil menembus pertahanan lawan yang memang memiliki postur yang ideal sebagai pemain belakang.
“Mann..” Teriak Harry sambil menaikkan tangannya isyarat meminta bola, yang saat ini iya sudah berada mendekati kotak penalti lawan. Mendengar hal tersebut, Izman langsung mengoper bola pada Harry.
Namun, operan tersebut malah disambar oleh pemain bernomor punggung 8, Akbar. Salah satu pemain inti bersama Harry di tim sepakbola SMA Angkasa dan salah satu senior yang cukup disegani karena kemampuannya.
Kali ini Akbar membawa bola dengan cukup sporadis merengsek menerobos pertahanan lawan, Harry yang tertinggal praktis berlari secepatnya menuju belakang karena dia tahu seberapa bahayanya Akbar jika diberi ruang tembak.
Akbar sudah berada didepan kotak penalti, dua atau tiga langkah lagi sudah berhasil memasuki kotak penalti, melihat hal tersebut anwar sebagai salah satu pemain bertahan tidak mau mengambil resiko dan berusaha merebut bola dengan membenturkan badannya ke Akbar.
Sekilas Akbar berhasil melihat pergerakan Anwar dan sedikit memajukan badannya kedepan sehingga tabrakan yang terjadi cenderung menjadi pelanggaran. Andy dan Akbar sudah berada didepan bola, terlihat olehnya Harry dan teman teman membuat pagar hidup tak jauh dari bola tersebut.
Dengan tatapan tajamnya Akbar melihat kesudut gawang dan kembali melihat bola. Begitu peluit dibunyikan, Andy berlari dan membuat gerakan seolah menendang bola namun malah menarik bola tersebut kebelakangnya, dengan pagar hidup yang sudah melompat, praktis tidak bisa berbuat banyak dan ruang tembak menjadi jelas bagi Akbar.
Dengan canon ball kaki kanannya bola meluncur kencang ke gawang tanpa bisa di hadang oleh kiper tim X-6.
“Goooooollll” teriak komentator diiringi teriakan kebahagiaan dan selebrasi dari tim XII IPA dan pendukungnya.
Wasit meniup peluit panjang, tanda berakhirnya babak pertama pertandingan final Pekan Kreatifitas Siswa SMA Angkasa dengan keunggulan kelas XII IPA 3 atas kelas X-6.
"Lia, temani aku ke kantin yuk ??" Ajak Retno.
"Bentar lagi babak ke 2 main loh Re," balas Lia.
"Ayolaahh.. lapar banget nih" pinta Retno yang memang belum ada makan dari siang tadi.
"Yaudah, siap makan kita langsung kesini lagi ya ?" balas Lia.
"Oke, tapi ke kamar mandi dulu ya, heheheh.." jawab Retno.
*****
Retno melihat jam tangannya, Waktu telah menunjukan pukul 6 sore, matahari mulai bersembunyi, membuat langit berwarna kemerah merahan, orang biasa menyebutnya Senja.
Suasana sekolah mulai tampak sepi, kebanyakan siswa pulang terlebih dahulu untuk mengganti pakaiannya karena malamnya akan ada seperti pesta penutupan.
Retno berdiri tepat didepan ruang kelasnya yang sudah sangat sepi, menunggu Lia, Harry ataupun Agung untuk pergi pulang bareng.
Dengan melihat suasana lorong sekelas yang ada disamping kanannya sudah terlihat sangat sepi. Ia membayangkan betapa ramainya tadi selebrasi perayaan juara kelas XII Ipa 3 yang begitu menyayat hati teman teman sekelasnya terutama sahabatnya Agung dan Harry.
Pada siang hari bangku itu pasti tidak pernah sepi, apalagi disaat jam istirahat.
Padangannya sedikit melebar pada sebuah lapangan di sisi lorong, suasana dilapangan berlainan dengan suasana dilorong yang sepi. Pada lapangan ini masih terlihat beberapa anak ekstrakulikuler terkhusus pqra anggota osis yang sibuk mempersiapkan acara penutup Pekan Kreatifitas Siswa.
"Agungg" teriak Retno. memanggil sahabatnya yang terlihat lesu dengan mata yang masih terlihat sembab.
Retno berdiri menghampirinya.
"Dimana Lia ?, Harry juga ?"ucapnya Heran.
"Lia pergi bersama Andy, Harry ? Entahlah setelah menghiburku ia menghilang bersamaan dengan perginya Lia" jawabnya.
Sepuluh menit berlalu, kini Retno dan Agung menusuri lorong ini berdua, tak banyak bercerita, karena Retno pun tahu mengajak cerita Agung disaat ini bukanlah waktu yang tepat.
Mereka telah sampai Di ujung lorong. Disebelah kanan Terlihat deretan ruko yang didepannya terdapat meja-meja dan kursi yang kosong. Yang sangat mustahil bisa dilihat pada saat jam-jam istirahat. Dari sederet ruko-ruko itu terdapat beberapa yang sudah tutup.
Sambil menunggu Harry, mereka duduk disalah satu kursi didepan ruko yang paling pinggir. Sambil mengamati sekeliling yang sangat jarang ditemui moment seperti ini. Sebuah kantin yang sepi.
Keheningan menghampiri mereka berdua,
terlihat disebelah kanan Retno terdapat bangku panjang yang terbuat dari keramik bewarna abu-abu lumayan bersih, dan sebuah meja panjang yang juga terlihat bersih. Diseberang meja dan kursi telihat ruko-ruko yang tutup.
Harry datang, kali ini sendiri.
"Ayoo kita pulang" ucapnya setelah menghampiri Mereka berdua.
Rambutnya basah seperti baru saja selesai mandi, namun tak bisa dibohongi, matanya masih terlihat sembab dan suaranya sedikit parau. dia berusaha menyembunyikan kesedihannya juga.
"Ayooo" balas Retno. Namun Agung masih tertunduk lesu.
"Heii , broo, santaii kita masih punya 2 tahun lagi disini, kita balas di event berikutnya, toh kita kalah juga karena adu penalti." ucap Harry sambil merangkul sahabatnya itu.
"Kemana Lia Rii ?" Tanya Retno Refleks.
"Entahlah, tapi sepertinya kalian akan mendengarkan berita membahagiakan tentangnya nanti malam" Ucap Harry.
Sesuai yang sudah dibicarakan sebelumnya mereka bertiga kini sudah berkumpul di markas mereka di DPR, dan berencana masuk ke pesta penutupan bersama sama.
Tak lama setelah mereka bertiga tiba, dan duduk di meja bundar yang ada, terlihat dua sejoli yang begitu serasi dengan Dress Merah dipadukan hitam yang membuat mereka terkesan mewah.
Harry hanya tersenyum melihat mereka berdua.
tapi Retno tahu senyuman Harry bukanlah senyuman bahagia, Dia hanya berusaha untuk terlihat senang ketika Lia melambaikan tangannya ke Harry.
"Beri tepukan meriah kepada Arjuna dan Srikandi SMA Angkasa" seluruh peserta pun bertepuk tangan melihat kecantikan Lia dan ketampanan
Andy layaknya dua pasangan Ideal tahun ini.
Retno hanya bisa termenung, mengingat apa yang dikatakan Lia semalam, seolah Lia menjadi orang yang berbeda dalam semalam.
"Apakah kalian sudah Resmi berpacaran ?"Tanya pembawa acara kepada Lia dan Andy. Lia hanya tersenyum malu.
" Ya, kami sudah resmi berpacaran tepat setelah aku menjuarai Pertandingan tadi sore" Ucapnya yang membuat keriuhan diantara para penonton.
Mendengar hal itu, Harry langsung berdiri dan pergi meninggalkan acara penutupan itu.