
...“Aku hanya memikirkan cara dan opsi terbaik untuk Lia”...
Kembali ke masa sekarang, Adam sudah tertidur saat mobil yang ditumpanginya tiba di rest area sekitaran nagreg.
Mereka sudah keluar dari jalan tol dan sudah dekat untuk ke bandung.
Intan keluar dari mobil tanpa membangunkan Adam yang memang telah tertidur beberapa jam tadi. Keluar menuju musholaa untuk sholat dan meluruskan kakinya, sebelum nantinya kembali melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal beberapa jam lagi untuk sampai ke kota bandung.
"tuk,tuk,tuk" Suara ketukan pada kaca mobil membuat Adam terbangun dari tidurnya dan melirik kearah kaca tersebut. Sudah ada Intan di yang melirik melalui kaca tersebut.
"Oh, yaa sabar" ucap Adam kemudian membuka pintu dan keluar,
Dengan beberapa gerakan senam merilekskan kembali tubuhnya yang memang terasa pegal,
"Gantian, " Ucap Intan.
"Okee" jawab Adam sambil bergerak menuju sisi mobil sebelah kanan.
"Sholat dulu woi" tegasnya
"Oh iya lupa, makasih,." balas Adam. kemudian berjalan menemui Intan.
"Sabar ya, aku sholat dulu" ucapnya dan di balas dengan anggukan oleh Intan.
Tak lama berselang, Adam sudah tiba didepan mobil dan langsung membuka pintu kemudian masuk ke dalam mobil.
“Belum tidur Tan ?” tanya Adam begitu melihat Intan yang memang masih bersandar rileks di bangkunya.
“Ini lagi mimpi,” balasnya.
“Ceritakanlah Dam kelanjutannya” pinta Intan padanya,
“Oke, sabar ya, kita keluarin dulu mobil ini ya, begitu keluar aku ceritakan” balas Adam sambil mulai mengendarai mobil itu.
Kembali kemasa lalu,
Suasana sekolah seperti berlangsung seperti biasa, para guru sibuk menikmati kopinya di ruang guru, para siswa menikmati waktu istirahat dengan bercengkrama dengan temannya yang lain atau sekedar menghabiskan duit jajan yang mereka punya dengan membeli beberapa cemilan di kantin.
Tapi hal ini tidak berlaku bagi Seven Pillar, mereka sudah berkumpul di tempat yang mereka sebut markas biasa mereka, dengan beberapa cemilan yang sudah dibawa oleh Retno dan Lia.
Sebenarnya ini tak cocok di sebut dengan markas, karena letaknya yang berada di luar ruangan sehingga apapun yang mereka bicarakan terkadang akan terdengar oleh orang lain.
“Bagaimana Ang, sudah ada yang mencalonkan diri ?” tanya Harry ditengah lingkaran yang sudah otomatis terbentuk.
“Informasi terakhir belum, Ri, bahkan belum dibuka pun” balasnya.
“Kemungkinan calon terkuat siapa menurutmu ?” tanya Harry kembali.
“Selain Lia, yang akan kita usung, kemungkinan besar ada Erick dari kelas Ipa 2 dan juga Sena dari kelas IPS 1” balas Randy.
“Bagaimana kau tahu Ran ?“ tanya Lia, yang membuat Randy tersenyum bangga.
“Yaa tentu saja dari para cewek cewek yang terpesona olehnya dong” sambung Anggun yang membuat Randy melotot,
“Bukan Li bukan” Randy berusaha menyela, tapi Lia melotot balas padanya.
“Baik, terima kasih informasinya Ran” ucap Harry menghentikan yang keributan yang mulai timbul.
“Oke Lia, sampaikan Rencanamu” tanya Harry,
“Baiklah, begini teman-teman, kemungkinan bursa calon ketua osis akan dibuka pada akhir bulan ini, kita punya kendala dalam pengumpulan suara.” Jelas Lia
“Tapi sebelum itu, ada yang aku khawatirkan.” Ucap Lia
“Kamu yakin akan menceritakannya sekarang Li ?” tanya Randy yang membuat Harry menoleh curiga kepadanya, apa Lia punya rahasia ?. Apakah ini masalah yang pernah terjadi sebelum study tour ?. entahlah, dengarkan saja dahulu.
“Aku masih punya masalah dengan Andy, ditambah dengan Thalia beserta kelompoknya,” ucap Lia tertunduk.
“Aku bisa saja melawan mereka, tapi sayang nya mereka punya kuasa dengan Uang nya” sambung Lia
“Iya, Aku paham itu, tapi tetap saja berurusan dengan mereka akan sangat berpengaruh dengan suaraku, terlebih pada Andy dan Zaki yang memang mantan ketua Osis kan” balas Lia.
“Memang kalo kamu Lia, selalu aja ada masalah dengan siswa nomor satu di sekolah ini yaakk” balas Retno dengan sedikit tertawa membuat Lia tersenyum seolah sepakat dengannya.
“Entahah Re, berkat mereka juga Osis menjadi ajang kekuasaan bagi mereka yang ber uang dan punya koneksi dengan sekolah, ini lah yang mau atau yang akan aku ingin rubah” Lia mengucapkan salah satu alasannya dari banyak alasannya mengapa ingin menguasai osis.
“Tapi Lia, kenapa sebelumnya kau tak pernah menceritakan itu padaku ?” ucap Harry menatap serius pada Lia.
“Aku tak mau kamu berkelahi untuk kesekian kalinya hanya demi aku, jadi aku berusaha untuk diam menahannya sendiri.” Balas Lia.
“Tapi untunglah aku datang” ucap Randy lagi lagi dengan senyuman khasnya.
“Bak superhero aku berhasil menekan mereka, dan itu juga alasanku kenapa belakangan ini selalu menempel padanya” jelas Randy, dan Lia hanya bisa menoleh padanya. Tapi yang jelas Harry hanya tertunduk mendengar itu. Seolah dirinya telah gagal,
“Rii, malah bengong dan tertunduk gitu ” ucap Lia membuyarkan apa yang dipikirkannya.
“Ehh, Iya sorry, sampai dimana tadi ?” balas Harry.
“Jadi bagaimana mengatasi ini ?, suara dari orang orang ini ?” tanya Lia.
Harry mendonga keatas, menarik nafasnya dan memejamkan matanya, berat memang, tapi pikirnya harus menemukan solusi untuk ini.
“Baiklah, kita kesampingkan ini dulu, karena solusinya sudah ada.” Ucap Harry sambil melirik ke arah Randy, yang membuat lainnya paham.
“Sekarang, kita fokus bagaimana mengenalkan dan membentuk citra baik untuk Lia” Sambung Harry yang membuat lainnya semakin serius mendengarnya.
“Untuk Randy, usahakan dapat suara untuk Lia dari para wanita, kau tahu caranya” ucap Harry pada Randy dan ada anggukan dari Randy.
“Untuk Agung, kita fokus ke tim sepakbola, Lia kebetulan kamu baru bergabung voli bernegosiasi dengan mereka untuk suaramu,” jelasnya.
“Untuk Retno, bisa tidak mengambil suara dari ekskul seni ?, kalau bisa itu bagus” jelasnya dan dibalas anggukan oleh Retno.
“Untuk beberapa hari kedepan kita coba mulai memunculkan isu bahwa Lia akan menjadi calon ketua osis yang bagus” jelas Harry.
“Yakin Ri ?” tanya Dilla.
“Bukannya akan semakin beresiko untuk Lia nya ?” tanya Dilla sambil memikirkan bahwa image Lia yang mulai memburuk dengan sikap tak tersentuh yang muncul dari tatapannya.
“Tidak, dengan muncul isu seperti ini diawal, kita akan menggemparkan sekolah, ya walaupun nantinya efeknya akan datang para pengganggu atau orang yang akan memojokkannya, untuk kali ini akan ada aku yang akan mengatasinya” balas Harry.
“Tapi Lia, apapun itu aku minta untuk tidak membalas terlebih dahulu, kita akan membuat bukti dan malah akan memojokkan mereka kembali” tegas Harry.
“Untuk berbicara kepada kakka kelas dua belas, sampaikan juga isu isu program pengadaan buku tahunan dan malam promnight super mewah jika Lia berhasil menjadi ketua osis. Untuk para siswa yang mayoritas pentolan organisasi atau ketua organisasi, munculkan isu bahwa subsidi untuk ekskul tersebut akan ditambah” jelas Harry mantap.
“Bukankah itu terlalu berat nanti Ri ?” tanya Lia begitu mendengarkan isu isu yang akan dimunculkan oleh Harry.
“Tenang saja, kamu bisa Lia, aku yakin” jawabnya mantap.
“Buat yang lain ada yang mau ditanyakan ? soalnya istirahat akan berakhir” tanya Harry kembali.
“Untuukku Ri ?” Tanya Anggun.
“Oh iya, kamu ke IPS, munculkan isu seperti itu dikelasmu, maka dia akan menyebar layaknya virus” ucap Harry pasti.
“Ambil orang yang agak penggosip, agar isu nya bisa berkembang lebih cepat, dan ini berlaku untuk kesemuanya” tegas Harry pada teman temannya.
“tidak terlalu sulit bukan ?” Tanya Harry setelah beberapa detik mereka hening.
“Oke seperti nya tidak, kita akan berkumpul lengkap pada lusa, dan aku harap semua bisa memberitahukan hasilnya” Jawab Harry.
Dengan bunyinya bel sekolah tanda istirahat berakhir, mereka pun kembali ke kelas dan tempat duduknya masing masing. Tapi di dalam berjalan ke lorong, Randy menghampiri Harry.
“Bagaimana bisa kau memikirkan itu bro dalam sekejap tarikkan nafas ?” tanya Randy, membuat Lia yang kebetulan berada di samping Harry ikut menoleh penasaran.
“Aku hanya memikirkan cara dan opsi terbaik untuk Lia” jawabnya singkat.