
..."Sebagian dari kita pernah muda, dan selagi engkau masih muda cobalah banyak hal yang mungkin berakhir bahagia atau sedih"...
Hidup seolah bercanda.
Jika kita merujuk kepada buku diary yang dimiliki Lia, kalian akan melihat ada rentang waktu hampir 2 bulan Ia tidak menulis sepatah kata pun di diarynya, Mengapa ?
Karena memang kesibukan luarbiasa atas perannya yang baru sebagai duta sekolah, bahkan untuk sekedar duduk bersama di markas DPR hampir tidak pernah lagi.
Lia seolah menjadi orang baru dimata ketiga sahabatnya, Retno, Agung dan Harry. Namun, terkhusus Harry ia seolah kehilangan semangatnya dalam dua bulan ini.
Ia seperti ayam sakit ketika Lia tidak melihatnya, lemas, malas, dan sering tidur dikelas. Seperti saat ini yang dilakukannya dibelakang.
Ia sedang tertidur lelap seperti yang dilakukannya dari semalam, semalam, semalamnya lagi, intinya sejak UTS dimulai. UTS sendiri merupakan singkatan dari Ujian Tengah Semester.
Sejak UTS berlangsung, Lia memang tidak bisa mengikuti UTS ini karena dia sedang berada di Yogyakarta sebagai utusan sekolah dalam event pertemuan pelajar.
Ia bersama Andy pacarnya dan kakak kelas yang lain menjadi perwakilan sekolah pada event tersebut.
Sebenarnya, Harry jelas mendapatkan tawaran dari Lia untuk ikut, Namun tak bisa dibohongi, disaat Lia bersama Andy, Ia sungguh- sungguh tidak menyukainya.
“Harry bangun, 10 menit lagi ini” ucap Agung membangunkan. Yang tak lama setelah itu Ia terbangun dan memperhatikan lembar jawabannya.
Dengan cepat Ia melingkari lembar jawaban itu,
“Woi, Cepat amat, dapat ilham dari mane lu ?” Bisik Agung padanya.
“Lihat sajalah. Punyamu mana yang gak tau ?, sini biar aku kasih tau.” Balas Harry sambil terus melingkari lembar jawabannya.
Agung sibuk melingkari soal soal yang tidak Ia ketahui lalu memberikannya ke Harry, sekilas Ia lihat jawaban yang dipilih Harry, disitu terdiri dari 4 kolom yang dimana disetiap 1 kolom terdiri 10 soal dengan jawaban A sampai dengan E sama seperti lembar jawabannya, namun anehnya pola yang dibuatnya dilembar jawaban berbentuk I < ( ).
Maksudnya pada kolom pertama jawaban dari 1 sampai 10 adalah A semua.
Kolom kedua 11 – 15 jawabannya E,D,C,B,A
Dan 15 – 20 jawabannya A,B,C,D,E
Untuk kolom ketiga 21-25 jawabannya C,B,A,A,A
Dan 26 sampai 30 jawabannya A,A,A,B,C
Untuk jawaban kolom empat dari 31 sampai 35 C,D,E,E,E
Dari 36 sampai 40 jawabannya E,E,E,D,C,
Jadi jika dilihat dari jauh maka akan terbentu K.O
Agung menutup mulutnya, menahan tawanya, melihat lembar jawabannya yang begitu.
Untungnya saat bel berbunyi, mereka bertiga telah selesai menjawab semua soal.
Tiga Hari kemudian tepatnya Hari rabu, kertas hasil UTS pun dibagikan. Harry kini melihat lembar jawabannya dan tersenyum puas, begitu juga dengan Agung, dan Retno.
“Ri, ada Remed ?” tanya Agung.
“Hahhaha, Alhamdulillah, noh liat sendiri” balas Harry, sambil meletakkan semua lembar jawabannya di meja.
“Harry, dipanggil bu Liza, disuruh keruang guru.” ucap Bayu yang menghampiri dirinya setelah selesai membagikan seluruh lembar jawaban siswa.
Dengan sedikit senyuman, Harry dengan semangat menuju ruang guru untuk dimarahi dan disuruh mengerjakan ulang ujiannya. Itu artinya, Ia bisa mengerjakannya bareng Lia yang juga sedang ujian susulan.
“Selamat Pagi buk” ucap Harry begitu masuk keruang guru dan segera berdiri didepan bu Liza.
“Mengapa nilaimu dan lembar jawabanmu semua bermotif seperti ini ?” tanya bu Liza dengan nada sedikit membentak.
“Kamu pikir ujian ini ajang pencarian bakat seniman apa ?” sambung buk Liza tanpa sempat dijawab oleh Harry.
“Saya tahu kualitasmu, jadi coba sebutkan dengan jujur mengapa kamu buat dilembar jawaban mata pelajaran saya berbentuk K.O seperti ini ?” omelannya mulai melunak namun tetap terdengar marah.
“Apa kamu sudah menyerah dengan pelajaran saya ?” tanya bu Liza.
“waktu itu otak saya mungkin lagi Eror buk, terbentur ketika latihan taekwondo dengan Master Rahman,” sambung Harry yang membuat bu Liza terlihat berpikir.
Sebelumnya Master Rahman adalah guru taekwondo Harry dan Agung yang secara kebetulan merupakan Suami bu Liza.
Beberapa menit kemudian bu Liza mengambil selembar kertas dan menulis sebuah catatan.
“Silahkan kamu bawa ini keruangan Osis dan silahkan kamu Ujian susulan disana” ucap bu Liza.
‘Tapi awas kalau sampai ujian susulan ini kamu remedial lagi, saya akan suruh suami saya menghajarmu lebih keras, biar otakmu yang dulu bisa kembali seperti semula” sambung bu Liza.
“Hehehehe, baik buk, terimakasih buk “ ucap Harry yang kemudian langsung bersemangat menuju ruang OSIS.
Ruangan yang berukuran sebesar kelas X-6 memiliki interior yang cukup menarik dan terlihat mewah. Hal ini mungkin dikarenakan para anggota osis yang memang memiliki pundi pundi keuangan yang cukup memadai, tidak seperti osis osis disekolah lain.
Telihat 5 orang duduk rapi bersama satu pengawas yang memperhatikan terus pergerakan mereka berlima. Tapi ya memang, mereka berlima termasuk murid yang cerdas di SMA ini.
“Kamu ngapain ?” tanya pak Rizal, yang kebetulan menjadi pengawas.
“Ini pak” sambil menyerahkan catatan dari bu Liza.
“saya disuruh bu Liza kemari pak, untuk ujian susulan katanya” jawab Harry. Terlihat ada raut wajah heran dari wajah Lia menatap Harry, dan Harry membalas dengan senyuman.
“hmm Ok, silahkan duduk dibawah sana” balas pak Rizal.
“Haaa ? dibawah pak ?” tanya Harry kembali memastikan.
“Iya, dibawah sanaa tepat dibelakang kursi mereka” pak Rizal menjelaskan.
“Masa Ia pak dibawah sana ?., Kan masih ada bangku disebelah Lia pak ?” tanya Harry sedikit memprotes.
“kamu mau ujian susulan atau tidak ?, tertulis disini bahwa kamu harus diberi hukuman sebelum ujian, dan hukuman dari saya ya ini” jawab pak Rizal tegas.
“Atau kamu mau ujian diluar atau sambil berdiri diatas meja ?” tanya pak rizal dengan suara yang mulai menguat.
“ohh tidak pak tidak, disini aja tapi tepat disudut sana ya pak, dan agak bersender di dinding, tolong lah pak ?, please ?” Harry memohon.
“Ok, Silahkan”. Harrypun tersenyum, mengambil lembar jawaban dan soal ujian yang akan dikerjakan.
30 menit berlalu, praktis Harry telah selesai menjawab semua soal yang memang dirinya sudah tau jawabannya. Selebihnya Ia hanya memandang ke arah Lia yang memang semakin hari entah mengapa semakin cantik saja.
Dengan rambutnya yang dikucir kebelakang, tatapannya serius menjawab soal soal. Terkadang juga pena yang Ia pukulkan ke pipinya, terlihat begitu menggemaskan dan menenangkan.
Seolah tau ada yang memperhatikannya Lia menoleh dengan cepat yang membuat Harry refleks buang muka dan bersiul.
“Siapa itu yang bersiul ?” ucap pak Rizal yang bangkit dari tempat duduknya. Harry seperti tertangkap basah, refekles menunduk dan memejamkan matanya sambil mengucap.
“Matiii guaa” bisiknya lirih sambil berdiri pelan.
“Kucing pak” jawab Harry spontan ketika melihat raut wajah pak Rizal.
Mendengar jawaban ngawur dari Harry, Lia terlihat Lia berusaha menahan tawanya.
“Oohhhh, sejak kapan kucing bersiul Harry ?” tanya pak Rizal mulai berjalan mendekati Harry.
“Maampussss, bodohh bodohh” ucapnya dalam hati sambil memejamkan matanya lalu dengan sekejap membuka matanya dan mengarahkan kertas ujiannya kedepan.
“Saya sudah siap pak” jawabnya yakin, menunjukkan kertas jawabannya. Pak Rizal yang melihat itu pun mengambil kertas itu melihatnya dan membalikkan badan kembali ke tempat duduknya.
“Kamu tetap berdiri seperti itu sampai saya lihat kucing yang bersiul tadi’ ucap pak Rizal. Lia menoleh melihat sahabatnya itu yang dihukum tersenyum menahan tawanya. Yang membuat Harry Refleks tersenyum juga.
“Apa kamu senyum senyum, pegang telinga kamu” ucap pak Rizal.
“Baik pakk” Jawab Harry.
*****