A Story Of LIA

A Story Of LIA
LIMA BELAS



LIMA BELAS


..."Terkadang, Manusia menyembunyikan masalah yang dialaminya agar orang yang dicintainya tak khawatir, Atau menganggap ini semua biasa-biasa saja"...


Dengan berakhirnya lomba pada hari pertama. Harry, Lia dan Agung, telihat lesu karena permainan olahraga yang mereka ikuti, praktis hanya tinggal Retno yang masih terlihat biasa biasa saja.


Namun, jika kalian melihat pembacaan puisi Retno, itu sangat bagus, tak perlu diherankan sebenarnya, karena memang dia lulus ke SMA Angkasa karena prestasinya dibidang sastra.


“Makan bakso, bang Suep yok ?” Ucap Lia, ketika perutnya terasa lapar. menghentikan langkah mereka berempat sejenak.


“Boleh juga tuh, Ayo Ri ??” balas Agung.


“Ok, tapi kau Gung jangan makan pedas, besok kita ada partai semifinal” ucap Harry.


“Ok, aman itu” balasnya.


“Kamu Re ? , Gimana ?, Mau ikut kan ?” Tanya Agung.


“Ok” jawabnya singkat.


“Lia, bagaimana tadi test nya, kejawab semua kan ?” tanya Harry yang memang meninggalkan ruangan lebih cepat.


“Entahlah Ri, tapi aku yakin kita berhasil kefinal” jawabnya.


Dimulai dari obrolan tersebut Harry dan Lia kini sudah didepan saja, entah apa yang mereka bicarakan kebetulan sekali disebelah Retno, ada Agung yang tertawa melihat tingkah mereka berdua yang berdebat karena soal yang mungkin tak dimengerti Agung.


“Gung” panggil Retno.


“Iya, Re ? Agung menoleh melihat Retno.


“Aku mau tanya, tapi kamu harus jujur ya ? soal Harry” Agung tersenyum,


“Soal kami yang lama tidak hadir ?” sambung Agung.


“Ehh, ssssttttttt,” jawabnya sambil mengangguk.


“Tapi lu janji, gak akan cerita ke Lia ok ?” jawab Agung. yang membuat tebakan Retno benar bahwa tangisnya Harry, dan menghilangnya mereka berdua ada kaitannya dengan Lia.


“ok, aku janji” jawab Retno


*****


Tak lama setelah kejadian tangis hebat Harry sesudah upacara selesai, Harry dan Agung kini berada disebuah mobil milik kakeknya Agung.


Mobil ini terlihat seperti mobil sederhana kebanyakan, mobil bermerk kijang ini memang Ia beli dari hasil kerja kerasnya satu tahun ini.


“Harry ini surat dari kakekmu” ucap kakek Agung.


Sambil memberikan surat itu kepada Harry. Agung yang melihat itu hanya bisa diam dan tak ingin terlalu mengganggu Harry yang kebetualn moodnya sedang tidak ingin berbicara.


Tapi yang jelas yang Agung tahu, ada masalah dikeluarganya dan Ia diminta untuk pergi keluar negeri,tepatnya Kanada.


Entah bagaimana atau permintaan apa yang diminta Harry, Pasport Agung dan segala hal yang berkaitan kepergian keluar negeri dalam semalam selesai. Itu artinya Ia diminta untuk mendampingi sahaabatnya itu. Dan yang paling penting, Ini pertama kalinya Agung naik pesawat.


Mereka berangkat pesawat bisnis pagi, tepatnya jam empat subuh dan mereka berdua sekarang sudah dibandara Soekarno Hatta, praktis Harry tak tidur, begitupula Agung. Harry tak tidur karena permasalahannya, dan Agung tak tidur karena penasaran naik pesawat.


Dengan membawa pasport ditangan kanannya, Ia dan Harry melewati pemeriksaan dan kini berjalan melewati melorong menuju pesawat.


Agung duduk tepat disampinv Harry yang dimana posisi seat pesawat dengan total 16 seat dengan konfigurasi 2-2. Terasa sangat nyaman di badan ketika duduk dikursi ini yang membuat Agung terkagum kagum melihatnya.


Harry hanya melihat keluar jendela seoalah mengingat perkataaan kakek Agung.


"Harry, aku dapat pesan dari ibumu, kau harus kembali ke kanada, terjadi pertengkaran hebat disana, ayahmu pergi meninggalkan rumah dan kakekmu sedang jatuh sakit.". ucapnya.


"Ehhh Riii, Riii, Kursinyaa bisaa rebahh beginii" ucap Agung menghentikan lamunannya.


"Sudah kubilang, naik pesawat itu menyenangkan, lihat aja kamu bisa lihat itu layar, mau nonton atau dengar musik pun bisa" Ucap hari sambil berusaha tersenyum melihat tingkah polos sahabatnya itu.


Terlihat oleh Agung pramugari yang sedang menjelaskan prosedur selama berada di dalam pesawat. Namun karena dirinya baru pertama kali naik pesawat, terlihat sedikit gemetar sehingga salah satu pramugari membantu memasangkan sabuk pengaman untuknya. Agung hanha tersenyum polos bahagia melihat pramugari yang cantik itu membantunya memasangkan beltnya.


Pesawat berjalan pelan-pelan dalam hitungan menit yang membuat Agung memegang kuat kuat kursinya, terlihat Harry tersenyum kembali menahan tawanya melihat sahabatnya yang ketakutan ini. Ada sedikit getaran dan rasa naik turun namun beberapa menit kemudian pesawat sudah terbang dengan stabil.


"Bro" Panggil Agung dengan wajah penuh penasaran. Dan Harry menoleh kearahnya


"Ri, kenapa ya otakku terus-terusan berpikir kok bisa ya pesawat segede ini bisa terbang ?" tanya Agung.


"Teruss, kok bisa ya si pilot tau jalannya? padahal kan berada di atas awan" sambungnya yang membuat Harry juga ikut berpikir.


“Gimana kalau setelah tamat sekolah lu jadi TNI AU aja, bisa bawa pesawat lalu ajarin aku ?, Gimana ?” Tanya Harry balik.


“Benar juga, emang niatku menjadi tentara, tapi belum tau mau yang mana” balas Agung.


Tak banyak hal yang bisa dilakukan diatas pesawat yang terbang langsung menuju Kanada ini. mereka berdua hanya mencoba beristirahat dan memakan apa yang disediakan maskapai.


Terkadang juga melihat layar dan mendengarkan musik yang disediakan maskapai, namun Harry membaca dan membawa buku yang harus Ia dan Lia terjemahkan.


Ayahnya yang berasal dari Luar Negeri membuat dia terbiasa membaca buku berbahasa asing, terlebih lagi bahasa Inggris. Tapi, melihat Lia membaca, membuka kamus, melihat usaha Lia untuk menerjemahkan buku ini,sungguh, jika diingat kembali, Ia sangat menyukai ekspresi Lia saat itu.


Tak lama setelah tiba di Quebec, Kanada. Agung hanya bisa terpelangah melihat keindahan kota tersebut, namun mobil hitam yang melaju dengan cepat ini membuat matanya tak bisa menikmati pemandangan indah kota Quebec,Kanada.


Pohon pohon tinggi disertai dengan jalan lurus yang bagus, mulus, dan udara yang sangat segar belum tercemar. Membuat siapapun yang mengendarai motor, akan terasa begitu memanjakan.


Selain itu, berdasarkan yang Agung baca melalui majalah yang ada di pesawat. Kota ini merupakan kota tertua di Kanada dan juga memadukan kehidupan modern dengan tradisi masa lalu.


Mereka tiba disebuah Rumah besar bergaya khas Penduduk setempat, terlihat seperti kastil bagi Agung yang belum pernah melihat seseorang memiliki rumah sebesar ini.


Setelah meletakkan barang-barang, Agung praktis hanya mengikuti apa yang dilakukan Harry dan kemanapun Harry pergi layaknya seorang Bodyguard untuknya. Harry yang sudah bertemu ibunya, berusaha untuk menguatkan ibunya dan menjumpai kakeknya. Dirinya fasih berbahasa Prancis dengan kakeknya yang membuat Agung bertanya tanya, ni bocah kapan belajar bahasa Prancisnya.


Agung tidak terlalu mengerti pembahasan mereka karena menggunakan bahasa yang memang tidak Ia mengerti, tapi yang Jelas, ekspresi Harry ini adalah ekspresi meyakinkan seseorang untuk percaya padanya.


"Bagaimana bro ?" Tanya Agung


"Kita bisa balik ke Indonesia dua hari lagi"Jawabnya tersenyum


"Tapi Gung, Maaf, kau harus pulang lebih dulu" ucap Harry serius.


"Lah, kita pergi bareng pulang juga bareng" Ucap Agung.


"Dengar, masih ada beberapa hal yang harus kuselesaikan, Kakekku memintaku untuk tinggal disini, jadi aku harus meyakinkannya untuk mengizinkanku tetap di Indonesia." ucap Harry yang membuat Agung tak berkutik.


"Baiklah, kalau begitu aku percaya padamu,"balas Agung.


"Besok aku akan suruh anak buah kakekku untuk mengajakmu keliling Quebec, tapi aku mohon satu hal." ucapnya.


"Asikkk, Apa itu ?" Tanya Agung balik


"Jangan ceritakan yang aku alami pada Lia" Jawab Harry


"lah kenapa ??" tanya Agung.


"Tak papa, yang ada ntar jadi heboh dan aku jadi sorotan utama" Ucapnya menyembunyikan alasan sebenarnya.


"Bilang aja lu gak mau dia khawatir, udah.." Jawab Agung sambil cengengesan.


"Hahahahahahahah" balas Harry tertawa.


****


"Ooh, jadi karena itu Harry menangis" Ucap Retno


"Begitulah," Ucap Agung.


Lia dan Harry sudah duduk dan memesan bakso mereka. Disusul dengan Retno dan Agung


"Jadi Gung, gimaba liburanmu dikota itu ?" Tanya Retno.


"Muanteppp" Jawabnya Sambil tersenyum.


"Kamu harus kesana Re, disana banyak bangunan-bangunan antik berderet membentuk rangkaian visual seperti barisan petugas hotel berseragam indah yang siap menyambut tamu mereka, yaitu Kamu" Ucap Agung menggoda Retno. yang membuat Retno tersipu malu.


Tak lama makanan mereka habis, Andy datang dengan motornya, didepan Warung bakso bang Suep.


"Ri, Bayar yaaaa, kawan kawan aku pulang dulu ya, dadaaahhh" Ucapnya girang. meninggalkan Agung, Retno, Dan Harry.


Harry dkk, hanya melihat Lia naik ke motor Andy, dan tak bisa melarangnya.


"Siapa itu bro ?" tanya Harry.


"Itu pacar Lia, Hampir" Balas Agung.


" Yaaa, elu sih Ri, kelamaan gak datang, jadi gak tau apa apa kan." Sambung Retno.