A Story Of LIA

A Story Of LIA
EMPAT TUJUH



..."Menurutku, orang yang tak punya catatan dosa hingga saat ini, dan punya tampang dan postur bagus untuk jadi ikon sekolah ini."...


Teriak matahari yang terhalang dengan dedaunan pohon besar yang saat ini menjadi pelindung Lia dan kawan-kawan berkumpul duduk membentuk lingkaran,


Seperti yang sudah di rencanakan dan memang menjadi kebiasaan untuk Lia dan kawan kawan menghabiskan hari hingga sore nanti.


Akan selalu ada dari mereka yang hadir di bawah pohon rindang ini. Jika tidak ada kegiatan eksrakurikuler maka ini tempat yang tepat menghabiskan waktu sambil menikmati nyamannya suasana di sini.


"Lia, ada apa ? kenapa kita harus duduk seperti ini, tidak biasanya." Tanya Agung,


"Iya, sabar ya, kita menunggu Harry, katanya sebentar lagi juga kemari" Balas Lia,


"Noh, yang di bicarakan sudah nongol" sambung Dilla melihat Harry yang sudah mendekat ke arah mereka, dan tak lama setelah nya duduk bergabung didalam lingkaran yang sudah ada.


"Ada apa, dengan kalian ?, mengapa duduk nya formil begini" tanya Harry


"Hahahahaa, entah, Lia yang minta" Balas Agung.


"Lah, lu ngapain disini bro ?" tanya Harry kembali melihat Randy duduk tepat disamping Lia,


"Entah, kelihatan seru, makanya aku bergabung aja" sambil melirik Lia.


"Oke, semua dengar, " ucap Lia yang membuat semua hening fokus mendengarnya,


" Aku ingin kita menguasai Ruang Osis" ucapnya memulai topik diskusi ini.


"Lahhh ngapain juga kita menguasai itu ?" Tanya Retno.


"Lia, maksud kamu apa ?" Sambung Dilla


"Hmm, maksudku, dengan kita menguasai Osis, kita punya akses yang kuat untuk mengatur kegiatan untuk siswa yang ada di sekolah ini" jelas LIa


"Iya Lia, maksudku supaya Apa ?" Tanya Agung kembali.


"Supaya baik jalannya kan ?" sambung Randy, yang membuat Lia menatap sinis padannya


"Hei, heii, sorry sorry" ucapnya kembali menghadap LIa dengan mengangkat kedua tangannya setinggi kepalanya,


"Jadi intinya kita harus memenangkan pemilu Osis bukan ?" sambung Harry.


"Yops benar, " balas Lia


"Jadi siapa yang mau kita naikkan ?" tanya Harry dengan ekspresi seriusnya.


"Tapi sebelum itu Ri, siapa yang mau bergabung denganku untuk mengambil alih kuasa Osis" Tegas Lia sambil melirik kesemua orang yang ada.


"Sorry Lia aku telat," Ucap Anggun yang baru saja tiba, membuat semua orang menjadi bingung, dengan ekspresi seolah mengatakan," Ngapain disini ?". Lia yang paham akan ekspresi semuanya, segera merespon


"Terima kasih sudah datang, teman-teman, aku yang mengundangnya" jawabnya menjelaskan dan menggeser duduknya memberi ruang untuk Anggun duduk.


Jadi praktis, sudah ada 6 orang dilingkaran ini, ada Lia, Harry, Retno, Randy, Dilla, Agung dan Anggun. terkhusus Anggun, hanya dia yang berbeda kelas dengan yang lainnya. dan hanya dia juga yang jurusan IPS.


"Baik, siapa yang berminat untuk menjadi Ketua Osis" tanya Lia, beberapa saling menoleh masih bingung, Harry tetap tertunduk memikirkan sesuatu, dan Randy hanya cengengesan, terpesona melihat Lia.


"Tidak ada ya ?" Tanya Lia, dan yang lainnya hanya diam beberapa menggelengkan kepalanya menandakan tidak ada.


"Kalau gitu, hampir sama dengan pertanyaan Harry, siapa yang mau kita calonkan ?,. punya usulan ?" tanya Lia kembali.


"Kenapa gak kamu aja Lia ?" Tanya Anggun, Lia diam seperti memikirkan sesuatu,


"Ada nama yang lain ?" tanyanya kembali


"Kalau aku Lia, agak gugup berpidato di depan orang banyak" sambung Retno


"Aku mungkin bisa menjawab soal-soal cerdas cermat, tapi untuk berpidato di depan orang banyak aku tak sanggup Lia" balas Dilla ketika wajah Lia menatapkan seolah meminta jawaban.


"Aku pikir, bagaimana kalau Harry ?" sambung Agung yang langsung di balas dengan senyuman oleh Lia sepakat dengan apa yang dikatakannya.


Tanpa pikir panjang lagi Ia pun menoleh ke Harry.


"Ehh, Tunggu-tunggu, dari catatan kriminalku cukup banyak di sekolah ini, itu bisa jadi pertimbangan, kemudian juga beberapa guru tidak menyukaiku, terutama untuk anak kelas Dua Belas" balas Harry


"Jadi Bagaimana ?, ada nama lain yang bisa kita calonkan. Menurutku, orang yang tak punya catatan dosa hingga saat ini, dan punya tampang dan postur bagus untuk jadi ikon sekolah ini." Sambung Harry.


"Siapa ???" tanya Randy Refleks. membuat yang lainnya menoleh padanya,


"Aku ??" jawabnya sendiri, lantas yang lainnya tersenyum menandakan Iya,


"Tidak, aku tak mau, mau fokus pada karir sepakbolaku, jika sekarang aku mengurus osis, tidak-tidak, aku tak bisa dan tak mau" tolaknya


"Yaahhhhhhh" ucapan kecewa dari teman lainnya


"Kita punya Lia." Jawab Harry singkat, membuat Lia mendonga kearahnya.


"Lagian memang kamu kan yang punya rencana menguasai ini" sambung Harry.


"Tunggu Lia, biarkan aku selesai menjelaskan" potong Harry sebelum Lia berbicara.


"Track Recordmu cukup bagus di sekolah, di depan guru apalagi, termasuk kepemimpinan dan pengalamanmu juga bagus, tapi, kita punya tantangan untuk membuat mereka yang membencimu memilihmu, terlebih lagi sikapmu yang belakangan ini penuh sinis, itu menjadi hal negatif untukmu, tapi itu semua bisa diatasi" jawab Harry.


"Tapi -" ucap Lia yang terpotong


"Dengarkan aku, Aku punya rencana untuk memenangkanmu, tapi sebelum itu, kamu bersedia tidak ?" tanya Harry kembali


"Hmmm, aku bermaksud untuk menjadi pengurus tapi gak jadi ketua juga" balas Lia.


Mereka berdua masih berdebat tentang siapa yang harus dicalonkan, mereka saling tunjuk, saling memberikan argumen yang logis hingga membuat teman-teman lain hanya bisa menontonnya.


"Apa mereka sering begini DIl ?" tanya Anggun melihat tingkah Lia dan Harry


"Begitulah" jawab Dilla.


"Pemisiiiii" ucap Agung sambil mengangkat tangannya seolah ingin memberi instruksi untuk menghentikan debat panas mereka berdua, sontak mereka berdua pun melihat Agung, dengan tatapan kesal, lalu beberapa detik kemudian tersenyum dan saling tatap.


"Kita menemukannya Ri" ujar Lia


"Aku paham pemikiranmu" balas Harry


"Ehhh, eehhhh, ada apa ?" jawab Agung. Heran melihat kedua sahabatnya ini.


"Oke, kita pilih dia" jawab Harry.


"Setuju, " membuat teman teman yang lain semakin bingung. tapi Dilla paham maksud mereka dan membisikkan kepada Agung "mereka akan mencalonkanmu sebagai ketua osis" membuat Agung terduduk lesu.


"Har-"


"Jangan membantah Gung, atau aku akan memberitahu kakek" balas Harry memotong ucapan Agung.


"Harrr, Please" pintanya dengan kedua tangan memohon.


"Tenang, aku dibelakangmu, kita akan menguasai sekolah bro" balasnya kembali.


"Kenapa harus aku coba ?" tanya Agung kembali.


"Dari sekian banyak kemungkinan, hanya kau yang paling berpotensial, lagipula kau juga punya leadership bagus dan bisa memimpin" Sambung Lia.


"Oke karena sudah diputuskan, kita bertujuh sekarang akan punya perannya masing masing dalam pemilu ini." ujar Lia tanpa memerdulikan Agung


"Bagaimana semua akan ikut berperan aktif kan ?" tanya Lia


"Tentu, oke, baik, tentu saja" ucap mereka


"TIDAAAKKKK" teriak Agung.


"Alhamdulillah semua setuju," ucap Lia tanpa memerdulikan teriakan Agung kembali, semua tersenyum termasuk Dilla, pacar Agung.


Baiklah, untuk rencana jelasnya akan kita bahas besok,


"Untuk Anggun terima kasih sekali lagi sudah datang, " ucap Lia sambil tersenyum


"Kalau kamu yang minta Lia, mana bisa aku menolak, hehehhe" balas Anggun.


"Oke selama pemilu ini, kita punya kode rahasia kelompok" ujar Harry


"Waaahhhh, seriusan ini ?, kelihatannya keren" ujar Randy.


"Seven Pilar" Ucap Harry.


"Bagaimana ?" tanyanya setelah beberapa detik kemudian


"Setuju" ujar semuanya.


"Baiklah Seven Pilar, sampai jumpa dipertemuan eksklusif besok, diharapkan semua siap untuk mengemban tugasnya masing masing" ujar Lia


"Baik, kita bubar" ucapnya


"Baru aja terbentuk Li.. udah bubar aja kah ?, hahahaa" Balas Harry menggoda Lia


"Memang gak sampai otakmu itu Ri, maksudku bukan itu" balas Lia ketus


"Dah, ayuk pulang" ucap Lia membuat yang lainnya berdiri dan bergerak untuk pulang ke kediaman masing masing.