A Story Of LIA

A Story Of LIA
EMPAT SATU



Hai, saya kembali, terima kasih atas support yang diberikan oleh pembaca ASOL sekalian, dan selamat menikmati, jangan lupa untuk like dan komennya...


..."Ayoo Lia, semangat, kau takkan tau kapan lagi bisa kesini, ayo kita jelajahi sampai sedetail mungkin."...


Jika langit biru begitu menenangkan, maka terik panas yang dirasakan saat ini bisa membakar kulit. Sudah nampak dari sini, begitu megahnya tumbukan batu besar yang banyak orang menyebutnya PRAMBANAN.


Walau mungkin rombongan Lia dan teman teman masih berada di area parkir bus. Candi yang konon katanya diselesaikan dalam satu malam itu. terbilang cukup mengagumkan.


"Sini biar aku bantu." ucap Randy sambil mengulurkan tangannya begitu turun dari bus. sekilas Lia melihat uluran tangan Randy, tapi demi menghindari segala gosip baru yang mungkin akan muncul, Ia mengabaikannya dan terus berjalan mengikuti arah rombongan masuk ke kawasan candi Prambanan itu.


"Huft, sombong amat" ucap Randy setelah menghela nafasnya melihat tingkah Lia yang seketika kembali asing.


Area candi yang luas itu dipinggirnya banyak pohon sehingga mendukung banget untuk sekedar berteduh dari panasnya terik matahari. tapi, jika kelamaan berteduh, yang ada malah ketinggalan.


Sebagaimana biasanya studi tour, semua bercengkrama asik bersama teman-temannya, berkeliling hingga mungkin berfoto sebagai momen untuk mengabadikan moment selama berada di area bersejarah ini.


Terlihat juga kakak alumni yang kebetulan menjadi tour guide menjelaskan sejarah candi prambanan dan beberapa maksud artefak lukisan yang berada di dinding candi.


Tapi Lia yang mendengarnya sudah tahu lewat beberapa bacaan yang ditemukannya di dalam majalah tentang wisata Yogyakarta.


"Baik, untuk guide sejarahnya telah selesai, saya tahu kalian juga ingin menikmati moment liburan ini. Jadi, kalian akan diberikan waktu selama satu jam untuk berbelanja souvenir di sebelah sana, atau hal lainnya, yang terpenting 1 jam kedepan kita kumpul diarea parkiran" ucap tour guide tersebut setelah berbicara dengan guru pendamping.


"Yeeeeyyy" sorak siswa girang mendengar itu. dan tanpa basa basi lainnya langsung bubar dengan kelompoknya.


Lia berjalan sendiri, seolah tak ada seorangpun yang dikenalnya, tak ada teman. disisi lain Randy sudah dikerumuni banyak cewek untuk sekedar meminta foto bareng bersamanya.


"Ya, namanya juga playboy, untung saja aku bukan bagian dari mereka" ucap Lia dalam hati begitu melihat Randy sambiil terus berjalan melewatinya.


"Yaaaa, sendiri, it's ok, malah lebih tenang dan nyaman" ucap Lia tersenyum


"Ayoo Lia, semangat, kau takkan tau kapan lagi bisa kesini, ayo kita jelajahi sampai sedetail mungkin." ucap nya dalam hati berusaha untuk menyemangati dirinya.


Lantas saja Lia pun mulai menjelajahi setiap sudut sandi, melihat artefak artefak dan mungkin monumen monumen yang terlewat, menaiki tangga candi, menelurusi jauh setiap candi.


Cuaca terik tak mengurangi semangatnya, banyak hal baru yang Ia temui.


"Cekreek" Lia tahu suara itu, itu adalah suara kamera yang mungkin mengarah padanya.


"Kamu memfotoku ?" tanya Lia menghampiri seorang Pria yang masih menutup wajahnya dengan kamera klasik tahun 90an itu.


Melihat wanita yang difotonya malah datang menghampiri dirinya dengan ekspresi yang terlihat sangat kesal, Ia menurunkan kamera itu dari wajahnya.


"RANDY" Ucap Lia tegas dan raut wajah yang sangat tidak suka.


"Eh, maaf, ada apa ya ?" ucap Randy cengengesan.


"Mengapa mengambil fotoku tanpa izin ?" tanya Lia .


"Haaaa ?" apaaan, mana ada, jangan ke ge-eran deh." balas Randy .


"Sini kamera nya," ucap Lia berusaha untuk menenangkan dirinya.


"untuk apa ?" tanya Randy.


"Ya mau di HAPUS LAH" ucap Lia mulai meninggikan suaranya.


"Enggak ada Aprillia" ucap Randy kali ini mulai terdengar intonasi berbeda sedikit menahan emosinya


"Ya kalo gak ada sini aku lihat" ucap Lia sambil beruaha mengambil paksa kamera Randy. dan berhasil merampasnya


"Ehh Apa-apaan ini" ucap Randy tapi intonasinya berubah seperti senang, dan berusaha mengambil kembali dari LIa, Lia pun refleks membalikkan badannya dan sedikit melindungi kamera itu dan melihat isi fotonya.


ternyata memang tidak ada, Ia berusaha menggeser kamera tersebut tapi tetap tak menemukan dirinya,


"Gilaaa, malu banget" ucap Lia mulai panik, sampai pada akhirnya ada foto pemandangan yang tak sengaja ada dirinya di dekat candi itu.


"INI APA ?" Tanya Lia menunjukkan foto tadi dengan ekpresi sedikit marah berusaha menyembunyikan kesalahannya agar tidak terlalu malu.


"Itu pemandangan," balas Randy.


"Iya akupun tahu itu pemandangan, tapi lihat ini, kenapa mengambil foto yang ada akunya tanpa izin, HAPUS" ucap Lia


"haaaaa ?"


"Apaaan, ini pemandangan, dan sebenarnya aku yang protes, kenapa kamu muncul saat aku mau memfoto Pemandangan yang bagus ini, kan jadi rusak fotoku" balas Randy. menyela ucapan Lia


"Halah halah, maluu yaaaaa ?" goda Randy melihat Lia yang sedari awal Ia tahu berusaha untuk mencari cari kesalahannya.


"APAAN, HAPUS." tegas Lia dengan pipinya yang mulai memerah, berusaha menutupi malunya dengan marah


"Oke aku hapus, tapi sebagai gantinya, aku izin sekali saja mendapatkan fotomu" Tawar Randy


"EHHH, Justru karena ada aku, makanya aku minta hapus tu foto, eh malah min-"


"Tadikan belum izin, makanya izin dulu aku nih, boleh ya ?" potong Randy.


"ini orang ANEH," ucap Lia dan berbalik badan pergi


"Ehhh tunggu-tunggu" Ucap Randy mengejar Lia. dan kini berada tepat didepannya


"Awas" ucap Lia dengan wajahnya semakin memerah.


Randy yang melihat itu, merasa ada yang salah. Kemudian melepas Topi bundar musim panas yang memang terkait dilehernya meletakkan topi itu ke kepala Lia,


"Sudah tidak terlalu panaskan ?" ucapnya dengan senyuman tulus. Lia melihat itu, tapi memang ia pandangannya mulai buram, seketika kepalanya pusing lalu pandangannya menghitam.


"Liaaa" ucap Randy, melihat Lia yang terlihat mulai aneh, dan akhirnya jatuh bersender di tubuhnya tak sadarkan diri. Pingsan.


Refleks saja Randy membopongnya dan membawanya ke salah satu warung yang banyak pohonnya.


Lia tersadar dengan dirinya sudah dibawah pohon dan berbaring dikursi, segera bangun panik, membuat topi yang menutup wajahnya terjatuh, kemudian melihat jam berapa untuklah masih ada 10 menit lagi, selain itu ketika Ia menggerakkan kakinya terasa kain yang ternyata ada jaket yang menutupi kakinya, dari modelnya Ia tahu itu jaket milik Randy.


Ia lihat Randy bersantai di ayunan jaring berbaring merebahkan dirinnya.


kepalanya masih sedikit pusing.


"DI minum dulu neng, Air kelapanya" ucap seorang wanita paruh baya khas jawa mengantarkan kelapa segar. ekspresi heran Lia membuat wanita itu tersenyum seolah paham kebingungan yang dialami Lia


"Mas itu tadi yang minta, kalau neng bangun disuruh minum ini, tadi neng pingsan dan mas itu yang bopong kemari." wanita paruh baya itu menjelaskan


"Ohhh iya, makasih bukk" ucap Lia menerima kelapa itu dan meletakkannya di meja yang berada didepannya.


"Lagi-lagi dia menyelamatkanku" ucap Lia dalam hati.


"Oh iya neng, kata mas itu, kalau neng sudah sadar, bangunkan dia juga, katanya kalau tidak dibangunkan ntar ketinggalan bus" teriak wanita itu dari kejauhan.


"Ohh iya bukk" balas Lia sambil tersenyum.


Lia menghabiskan minuman air kelapa itu, kemudian bangkit dan menghampiri Randy. muncul rasa ingin jahilnya, meletakkan jaket diatas tubuh yang sedang tertidur itu, dan pergi meninggalkannya.


"Hahahha Rasain" ucap Lia dalam hati.


"Sudahh di bayar mas itu neng" ucap wanita paruh baya itu.


"Oh iya ya buk ??, baiklah" ucap Lia bergerak pergi


"Eh neng tunggu, jadi mas nya itu gimana ?" tanya wanita paruh baya itu


"Ooohh, bisa minta tolong gak buk ?" pinta Lia, agak lama wanita itu berpikir, tapi kemudian mengangguk


"10 menit lagi, ibu saja ya yang membangunkan, saya sedang tidak kawanan sama dia, jadi bisa kan ibu bantu sayaa ?" ucap Lia. si ibu malah tersenyum seolah paham maksud Lia.


"Ohh masa muda, baiklah neng" ucap ibu itu setuju.


"Makasih bukk" ucap Lia senang lalu pergi.


"Mas, mas" ucap wanita paruh baya itu sambil menggoyangkan tubuh Randy berusaha membangunkannya.


"ohhh iyaaa bukkk," ucap Randy terbangun dan melihat sekitarnya, dilihatnya Lia sudah tidak ada disana"


"laahh buk ?, kemana ?" Tanya Randy sambil menunjuk tempat dimana Lia terbaring tadi


"Sudah pergi mas, dan katanya mas mungkin sudah ketinggalan bus" ucap wanita paruh baya itu


"Haaa ?" dia langsung melihat jam tangannya dan memang sudah terlambat 10 menit,


"Dasar wanita tak tahu terimakasih." ucap Randy dalam hati.


"Ohh iyaa bukk, makasih ya buk sudah bangunin saya, saya pamit" ucap Randy buru-buru bangkit dan berlari menuju area parkir.