
..."Di saat seperti ini kamu belajar untuk mengerti seberapa pentingnya mencintai dirimu, menghargai dan juga mempercayai dirimu sendiri."...
Sebuah sosok yang muncul dari koridor sekolah membuat para murid SMA Angkasa heboh, semua siswi membulatkan matanya girang ketika mendapati seorang siswa mengenakan hodie datang bersama bu Liza.
“Eh, lihat itu, siapa dia ?”
“OMG! Ganteng banget, tuh cowok”
“Lihat, hodie nya itu, pasti dia dari luar negeri, Ahh ! Kece banget sumpah!"
“Sepertinya dia kelas satu”
“kelas satu sekarang memang penuh berlian ya”
“Itu seriusan manusia atau boneka sih ?, ganteng amat !”
Seperti itulah reaksi para kaum hawa ketika melihat pria yang berkulit putih tinggi dan memang tampan ini melewati koridor sekolah.
Bahkan kakak kelas pun saking penasarannya dengan suara bising yang timbulkan dari lantai bawah ikut melihat dan terpesona dengan lelaki tersebut.
Selain fisiknya yang memang cukup ideal, iris mata biru terang yang ia miliki sungguh menjadi suatu kesatuan yang saling melengkapi dengan sorot mata dan alisnya itu. PERFECT !.
Sampailah cowok itu tepat di pintu kelas bersama bu Liza yang memang sudah berada disampingnya dari tadi.
"Kamu tunggu disini dulu ya" ucap Bu Liza menyuruh anak baru itu menunggu, dan masuk terlebih dahulu kedalam kelas.
Ia melihat kekanan, melihat para siswi yang keluar dari kelasnya mengintip dan melihatnya. beberapa ada yang melambai.
Melihat itu, Ia tersenyum dan membalas lambaian kearah mereka, tentu saja para wanita itu langsung menjerit layaknya baru saja disapa oleh artis.
“Nak, Masuk” ucap bu Liza menyuruh murid pindahan itu masuk setelah menenangkan murid kelas Sepuluh Enam dan memberikan Informasi bahwa ada murid pindahan yang akan bergabung disemester ini.
Begitu kakinya melangkah masuk kedalam kelas, para wanita yang ada didalam kelas langsung terpana, beberapa ada yang menjerit histeris seperti melihat Artis idolanya.
“Tenang-tenang “ teriak bu Liza yang sedikit panik dibantu dengan suara Bayu yang ikut menenangkan anggota kelasnya.
“Apanya kalian ini, mengapa kalian ribut ?, biarkan dia memperkenalkan dirinya dulu”. Tegas bu Liza setelah kelas mulai tenang. Murid baru tersebut hanya tersenyum dan sedikit tertawa yang seolah memancarkan aura super ketampanannya.
Tapi hanya ada satu siswi yang terlihat biasa saja dan sibuk melamun menatap keluar kelas seolah dunia terasa berat baginya. Lia.
Anak baru tersebut tertegun melihat kecantikan wanita yang rambutnya dikucir satu itu.
"Cantik sekali" Hatinya berucap.
“Hmm kalau kalian, pantang liat yang bening bening” ucap Agung. yang dimana disebelahnya ada Dilla dan Retno.
“Gung, kau jangan cemburu ya, biarkan Dilla melihat pemandangan ini” ucap Retno. Dilla pun langsung memegang tangan Retno seolah sepakat. Agung pun tak bisa apa-apa selain tersenyum masam melihat kekasihnya Dilla terpesona oleh itu cowok.
“Hello, saya Randy, Arthur Randy Gennadius” Ucapnya menyapa.
“saya pindahan dari Australia,”
“saya blasteran Indo-Rusia”
“Apalagi ya, Oke itu saja buk” ujarnya setelah bingung mau memperkenalkan apalagi. sambil melirik ke arah Lia, tapi tetap wanita itu tak memperdulikannya.
“Baik, untuk anak anak ada yang mau ditanyakan ?” ujar bu Liza langsung saja para kaum wanita berebut untuk mengangkat tangannya. Termasuk Retno, Thalia dan para wanita lain, hanya Lia dan Dilla yang tidak mengangkat tangan, dan Randy meelihat itu.
Terkhusus Dilla ia sebenarnya ingin mengangkat tangannyaa, tapi tangannya malah digenggam Agung. jadi Ia tak bisa apa apa.
“Randy sudah ada pacar ?”
“Hobby kamu apa ?”
“Boleh tahu alamat rumah kamu ?”
“Makanan kesukaan”
“Nomor telephone rumah kamu ?” ucap mereka berbondong bondong yang membuat keributan dan bu Liza kembali mengeraskan suaranya.
“hmm baik bu, saya coba menjawabnya” jawab Randy.
“Ayahku bekerja di kedutaan Rusia untuk Indonesia bersama ibu, dan saya tinggal bersamanya di jalan Pahlawan. untuk Hobby, Hobby ku sepakbola. makanan ?, apapun asalkan enak aku akan makan. Untuk nomor telephone rumah, gak ingat, mungkin esok akan saya berikan” Randy menjawab sambil tersenyum.
"Ohh, saya lahir di Rusia, lalu waktu umur Dua tahun saya dibawa ke indonesia dan besar disini sampai kelas 6 SD, Lalu ke Australia" jawabnya.
"Jadi ya, saya bisa tiga bahasa, Indo, Rusia, Inggris" sambungnya.
“Oohh, oke, Ibu rasa sudah cukup, Kamu silahkan duduk dibelakang sana” pinta bu Liza.
“Ohh disitu bu, oke,” ujarnya langsung bergerak menuju tempat duduk yang memang kosong dan tepat satu barisan dengan Lia dibelakang Agung dan Dilla.
“Maaf bu, saya terlambat” Ujar Harry yang baru saja masuk ke kelas setelah sebelumnya harus ke melapor ke ruangan kepala sekolah akibat ulahnya beberapa waktu lalu.
“Oohh kamu, yaudah silahkan duduk” ucap bu Liza tanpa mengomel panjang lagi, agar pelajaran bisa segera dimulai.
Harry sudah tahu bahwa ada anak baru disekolah, tapi mengapaa harus berada di sepuluh enam, dan mengapa juga dia harus sebangku dengannya.
“Aku Randy” sapanya begitu Harry duduk dikursinya. Melihatnya secara dekat, Harry merasa seperti kenal, dan gak asing dengan laki laki disebelahnya ini.
“Harry” ucapnya sambil tersenyum heran. yang membuat Harry makin heran dan otaknya berusaha mengingat namun, sungguh dia seperti pernah melihatnya tapi siapa.
“Aku mengenalmu, Ingat ?, Seleksi timnas U-14” sambungnya seolah paham maksud ekspresi bingung dari Harry.
“Oohhhh si Bule Australi” ujarnya.
“Kau pun Bulee bodoh” balas Randy.
“Ohh iya, tapi aku tak setampanmu, Hahahaha” balas Harry tertawa.
“Harry, suaramu..” teriak bu Liza dari depan.
“Ohh iya maaf bukk” balas Harry langsung tunduk menahan tawanya.
Suasana belajarpun dimulai kembali.
ISTIRAHAT, bell yang baru saja selesai berbunyi beberapa detik yang lalu menandakan tiba waktu semua siswa untuk bebas berekspresi dan beristirahat dalam lelahnya belajar. Walau hanya 20 menit, waktu itu harus bisa digunakan dengan sebaik mungkin.
Sebagaimana yang disebutkan tadi, begitu pula para siswi Angkasa yang langsung mengerubuni tempat duduk Randy. Mencecar Randy dengan berbagai macam pertanyaan hingga pernyataan.
Ia melirik teman sebangkunya yang baru, kenalannya waktu seleksi timnas dulu, Harry.
Harry yang merasa risih, berdiri dan membawa satu buku ajaib disaku celananya (memang cuma satu buku itu yang dibawanya) dan berusaha menerobos barisan orang yang mengerubuni Randy.
Lia dan kawan kawan pun sudah diluan menuju DPR, untuk menghabiskan waktu istirahat disana, biasa dengan berdiskusi, curhat, atau sekedar bermain permainan tradisional lainnya.
Ia masukkan kedua tangan disaku samping kedua celananya, berjalan pelan dengan wajah dinginnya seolah tak ada orang yang menyeringai ataupun mencibirnya.
Tak sengaja Ia berpapasan dengan musuh alami nya Andy, terlihat wajahnya tersenyum licik, melihat Harry yang masih kelas satu sudah dicap anak tidak baik oleh satu sekolah.
"Mau kemana Jagoan" ucapnya.
"Membunuhmu" jawabnya singkat. tanpa memberhentikan langkahnya.
tapi dari arahnya sudah pasti Harry menuju markas atau tempat dimana Ia bisa mendapatkan kenyamanan.DPR.
"Broooo" Ucap pria yang kini merangkulnya, memakai jaket yang biasa dipakai Harry dan menyembunyikan wajahnya dibalik tutup kepala jaket itu.
"Selamatkan Aku" Sambungnya ketika Harry mencoba melihat laki laki sok akrab itu dan ternyata Randy.
Harry tak menjawabnya dan hanya mencoba terus berjalan tanpa melepas rangkulan Randy.
"Baru hari pertama, kau sudah punya fans sebanyak ini" ucap Harry.
"Hahahahaha, akupun heran, biasanya waktu di Australi paling cuma satu atau dua, ini hampir satu sekolah boy, apa gak gilak" Balas Randy.
"Tapi aku heran, mengapa laki laki yang tampan macam kau ini, bisa berjalan tenang sendiri seperti ini ?" tanya Randy.
"Kau hanya belum tahu, bagaimana tidak sukanya mereka padaku."jawab Harry singkat.
"Boy, siapa nama Gadis cantik yang sedang ngucir rambutnya itu ?" Tanya Randy yang membuat Harry berhenti seketika.
"Aprillia Navillia," Balas Harry.
***