A Story Of LIA

A Story Of LIA
TIGA TIGA



..."Semua orang berhak menentukan apa yang membuatnya nyaman, itu adalah hak otoritas diri untuk hidup. Namun sayangnya dunia terkadang bercanda."...


Jantungnya sungguh berdegup kencang. Wanita itu sedang tertawa di bawah pohon sana. Aprillia Navilia namanya.


“Kau mau kesana boy ?.” ucap anak baru tersebut pada Harry.


“Aku ikut ya” sambungnya. Demi melihat wanita itu lebih dekat, dia sangat berbeda dari yang dikelas tadi. Harry hanya diam dan kembali berjalan.


“Harry!” teriak Retno sambil melambai memanggilnya. Terlihat juga oleh mereka kedatangan Harry yang tidak sendiri.


Yaa, tentu saja, wajah Retno dan Dilla menjadi berbeda ketika orang yang tiba bersama Harry sekarang adalah anak baru yang menjadi pusat perhatian hari ini.


“Hei, mengapa kau membawanya ?.”bisik Agung pada Harry.


“Dia yang mengikutiku” balas Harry pelan. Agung terlihat kecewa, tapi apa boleh buat.


“Bolehkah aku bergabung dengan kalian ? “ ucapnya sambil tetap menggunakan tudung jaket Harry yang menutup wajahnya dari samping.


Retno dan Dilla mengangguk saja tanda setuju.


“Terima kasih" ucapnya kemudian duduk bersama mereka.


Ada keheningan yang terjadi akibat duduknya Randy bersama mereka. Tapi bukan hal itu yang jadi masalah, tapi Lia sedikit risih dengan Randy yang memang terus menatapnya dengan senyuman.


“Kenapa kau terus menatapku ?.” ucap Lia jutek.


“Kamu cantik sekali, kita belum berkenalan secara resmi, Aku Randy.” sambil menyodorkan tangannya.


Lia merasa pria ini aneh, Buaya. Dia langsung terbayang Andy, lelaki tampan yang juga pernah membuainya, dan membuat Ia berada disituasi sulit seperti ini.


“Dasar buaya” ucap Lia kesal, sambil berdiri. Randy menjadi terheran-heran, apaa yang telah diperbuatnya. Harry hanya melihat mereka berdua dengan terdiam begitupun dengan ketiga teman nya yang lain.


“Eeehh, Tunggu maksudmu ?” Randy refleks menahan Lia yang mau pergi dengan memegang tangannya. Dilihatnya mata Lia lalu berdiri juga. jika kalian melihatnya, tatapan Lia ini adalah tatapan seseorang yang sedang marah.


Randy pun semakin bingung “Apa salahku ?” ucapnya dalam hati. Baru juga kenal udah dilihat seperti lelaki bajingan.


“Lepasin tanganku” bentak Lia sambil menyentak tangannya juga agar terlepas.


“Okee, tapi apa salahku padamu ?” Tanya Randy begitu tangan Lia dilepasnya.


“Kau pikir saja sendiri, dasar Buaya” Tegas Lia langsung pergi meninggalkan teman teman lain. terdengar panggilan dari Retno tapi Lia tidak mau menghadap kebelakang dan terus berjalan l.


“Hey, boy dia kenapa ?” Tanya Randy pada Harry.


"Apa salahku dengannya ?" sambungnya.


Melihat ekspresi Lia yang begitu, Harry pun melebarkan tangannya dengan ekspresi seolah memberi tahu 'Entahlah'.


Teman teman yang lain berdiri, untuk kembali ke kelas, karena jam istirahat sudah selesai, mungkin juga Lia kembali ke kelas juga.


Melihat teman teman yang lain pergi,


Harry pun bergegas pergi meninggalkan Randy yang masih terdiam, terotak dengan sikap yang diberikan Lia.


Bel tanda masukpun berbunyi.


Randy yang ditinggal sendiri pun bertanya tanya apa salahnya.


“Ah sudahlah, bodo amat” ucapnya langsung pergi dan kembali menuju kelas.


Diperjalanan, banyak sekali wanita menyapanya, ada juga yang sekedar meliriknya, Randy pun membalas mereka dengan senyuman, berusaha untuk menjadi pria yang seramah mungkin.


******


Mungkin, Retno dan kawan-kawan lain termasuk Harry mengerti mengapa Lia bersikap seperti itu.


Apalagi ketampanan dan perlakuannya pada wanita yang hampir mirip dengan Andy, mungkin menjadi traumatik tersendiri buat Lia. Rasa sakit, kecewa, dan seolah dipermainkan menjadi alasan teesendiri untuknya.


“Lia tunggu !” teriak Harry yang berhasil mengejarnya.


“Hei kita sudah masuk, kamu tak papa kan ?” ucap Harry mendekatinya.


“Biarkan aku sendiri dulu Ri, dia mengingatkanku pada Andy” ucap Lia dengan nada kesal.


Harry hanya bisa tersenyum, jika Lia meminta waktu untuk sendiri, mau tak mau, terima tak terima, Ia hanya bisa membiarkannya dan tak bisa melarangnya, Haknya Lia secara pribadi.


“Oke, kalau begitu. tapi ingat, kalau kamu butuh teman, kami ada bersamamu kok.” Ucap Harry.


“Pergilah ke UKS nanti aku akan bilang ke guru tentang kondisimu” sambung Harry Dan Lia hanya membalas dengan mengangguk dan melihat Harry pergi meninggalkannya.


Sesuai dengan saran yang diberikan oleh Harry, Lia pun bergerak menuju UKS yang memang sudah tidak pala jauh dari jaraknya saat ini.


Setibanya di UKS, Lia langsung masuk kedalam ruangan itu dan merebahkan dirinya ke kasur yang memang ada didalam UKS.


Ruangan ini cukup luas jika dilihat dari strukturnya hampir sama luasnya dengan ruang osis, dengan dua tempat tidur satu lemari obat dan satu meja tempat biasa guru BK duduk.


“Pantas dia menyuruhku kesini, dia tahu ternyata guru sedang tidak ada guru diruang ini” ucapnya dalam hati.


Lia lalu memejamkan matanya dan berusaha mengistirahatkan tubuhnya dengan lengan yang kini tepat diatas wajahnya, membantu untuk menutup matanya agar bisa tertidur lebih cepat.


Didalam pikirannya, terbayang perlakuan apa yang telah Ia terima saat ini.


Ia mengenang kembali masa dimana Ia bebas, tanpa harus terkekang dan serba salah seperti ini.


Dimana saat itu Ia bebas terbang, tertawa, bermain dengan apa yang Ia suka, dan disukai banyak orang.


Dan tidak dijahilin seperti belakangan ini.


Ia lelah, sungguh, tapi tak bisa melawan, karena jika Ia melawan mungkin saja ia akan kehilangan beasiswa ini, dan mungkin dikeluarkan dari sekolah ini.


Jika sahabatnya membantunya, malah mungkin sahabatnya yang menjadi korban. Ia tak bisa menceritakan ini, harus menahannya sendiri. apa jadinya jika hubungannya yang belum selesai dengan Andy, tiba tiba dirumorkan dekat dengan anak baru tersebut.


Ia tak bisa membayangkan seperti apa penghinaan yang akan diterimanya, Ia harus menjauhinya bagaimanapun caranya.


Airmatanya keluar mengalir begitu saja.


“Aku harus kuat, harus kuat” ucapnya kuat dalam hati meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melewati ini. Dengan Airmatanya yang mengalir begitu saja, pada akhirnya Ia telah terlelap tidur diruangan itu.


Matanya terbuka, Ia tersadar, dilihatnya kipas angin yang memutar diatas sana pelan, tapi udaranya cukup menenangkan.


Seorang pria yang dikenalnya dekat sedang duduk membaca bukunya dengan serius, sedikit terlihat penggalan judul dari buku itu Who Am I.


“Kau siapa ?” tanyanya tersenyum, Pria itu pun balas tersenyum.


“Begitukah caramu mengucapkan terima kasih pada sahabatmu ini ?” tanya Harry, menutup bukunya dan berdiri mendekati Lia.


"Haa ?, Kamu siapa ??" tanya Lia balik, membuat wajah Harry berubah.


"Lu gak ingat akuu ?" Harry mulai panik.


"Seriusan, kamu gak ingat aku ?" tanya Harry dengan wajah cemasnya.


"Aku siapa ?" ucap Lia sambil mulai terdengar menahan tawanya. tak bisa berakting lagi. Harry mulai sadar dia dijahili.


"Siapa Aku ?, Kamu siapaa ?" hahahaha," dia tertawa, Harry pun yang awalnya kesal, menjadi tertawa melihat tawa Lia yang lepas.


Harry membiarkan tawanya Lia usai dan tersenyum melihatnya.


"Apa yang terjadi denganmu ?, mengapa kakak kelas seperti ingin mengusikmu ?" Tanya Harry begitu Lia mulai tenang.


*****


Happy Eid mubarak, Minallaidinwalfaidzin mohon maaf lahir 🙏🙏🙏


Sebelumnya Author ingin berterima kasih kepada kakak kakak pembaca yang telah memberikan support dan dukungannya kepada ASOL hingga akhirnya Author mampu menyelesaikan cerita ini hingga chapter 33, Tetap dukung ASOL dan nanti kan kelanjutan ceritanya.