A Story Of LIA

A Story Of LIA
DUA PULUH



..."Menangislah disaat ingin menangis, itu lebih baik daripada kamu berusaha menahannya"...


Pada akhirnya Pertandingan kelas X-6 melawan kelas X-1 dimenangkan oleh kelas X-6 dan berhak melawan kelas XII Ipa 3 yang dimana dipimpin oleh Andy.


Pertandingan semifinal ini dimenangkan oleh kelas X-6 Berkat Gol yang dicetak oleh Izman melalui skema serang balik cepat dibabak tambahan 2x7 menit.


Namun dilihat dari semangat dan tatapannya, terlihat begitu jelas sekali. Menurut Retno, Permainan Harry berubah menjadi lebih kasar setelah Lia pergi.


"Kemana Lia tadi Re ?" Tanya Harry setelah pertandingan usai.


"Entah, ini minum" ucap Retno memberi Dua botol minuman energi untuk Agung dan Harry.


"Aku diluan ya" Ucap Harry meninggalkan Retno dan Harry


"Kemanaaa bro ?" Teriak Agung.


"Tunggu saja di DPR beberapa menit, kalo di jam 5 :15 aku belum datang, kalian langsung pulang saja" balasnya.


"Okee " Balas Agung.


*****


Saat itu waktu di jam tangan Retno menunjukkan pukul 5 sore lewat 17 menit, waktu Indonesia bagian barat. Terlihat matahari tampak jelas makin menjauhi mereka yang saat itu berada di markas DPR, sudah hampir lima belas menit mereka berdua duduk disini.


Setiap menit berlalu dan matahati semakin menjauh dari pelupuk mata. Tampak juga sinar jingga cerah bersinar membuat langit berwarna merah jingga, yang keindahanannya mungkin akan dirindukan siapapun.


Burung-burung terlihat kontras dan tampak jelas berterbangan kesana kemari mungkin setelah mereka mencari makan seharian penuh, dan angin yang terasa waktu itu sangat sejuk dan berhembus lumayan cepat.


Bentukan siluet yang dihasilkan dari bayangan gedung sekolah pepohonan, dan beberapa rumah warga menambah syahdunya suasana sore itu.


"Gung, Apa kita diluan saja ?" tanya Retno


"Sabar Re, Sepuluh menit lagi, kita nikmati dulu suasana indah ini"Ucap Agung sambil merebahkan badannya yang memang terlihat lelah akibat pertandingan tadi Ia banyak lari menarik pemain lawan.


Matahari pun seolah sangat mendukung dengan bersinar sangat terang dan hangat. Namun dalam suasana yang cerah ini seharusnya dilengkapi dengan suasana bahagia.


Tetapi entah suasana hati Retno seolah menolak hari yang cerah. Ada sesuatu yang sangat mengganjal dalam hati dan menghalau keinginannya untuk menikmati senja yang indah ini. Hatinya dipenuhi dengan rasa resah, tidak tenang dan gelisah. Seolah memberi tahu bahwa akan ada peristiwa buruk yang terjadi.


"Wahh kalian masih disini ternyata" ucap Harry. terlihat oleh Retno Lia yang sudah ada dibelakangnya. Dengan sedikit berlari dan kemudian memeluk Retno kuat lalu menangis.


Terlihat ekspresi heran Retno dan menatap ke Harry seolah berkata,


"Apa yang terjadi ?" begitupun tatapan Agung.


Namun Harry memberikan isyarat berupa jari telunjuk tegak menempel dimulut, seolah berkata


"Nanti aku ceritakan diam saja dahulu".


*****


Kamar tidur berukuran sedang dan sederhana ini, namun saat pertama kali memasukinya aku sangat menyukainya, terasa Lia banget, pikir Retno.


Nuansa yang terkesan sepi dan tenang serta tercium wangi aroma jeruk yang merupakan pengharum ruangan yang tergantungkan di belakang pintu kamarnya yang berwarna cokelat itu, berbahan kayu dan menghadap ke Utara dengan tinggi 2 meter dan lebar 80 centimeter.


didalamnya terlihat dinding berwarna biru muda, dan lantai yang dilapisi keramik coklat muda, serta plafon unik berwarna biru dan merah jambu dengan sebuah lampu di tengahnya.


Di dindingnya ada berbagai  kaligrafi, dan sebuah majalah dinding berukuran 70x40 cm yang berisi koleksi foto-foto lama yang dihiasi dengan kreatif.


Didalamnya ada lemari pakaian,  meja belajar,  rak buku dan tempat tidur. Dengan meja belajar yang terlihat sangat nyaman karena dilengkapi dengan sebuah kursi yang memiliki sandaran.


Terlihat juga buku-buku pelajaran yang berserakan di atas meja dan sebuah buku Diary yang terletak paling atas. selain itu ada jam weker berbentuk sepeda ontel di atas meja belajarnya.


Selain itu terlihat juga disamping kanan meja belajar, ada rak berisi buku-buku yang tersusun dengan rapi serta perlengkapan alat tulis menulis.


Di atas rak buku itu aku meletakkan foto berbingkai dan juga piagam penghargaan voli. Kemudian di samping kiri meja belajar ada sebuah jendela yang langsung memberi cahaya mentari pagi yang menembus dan memberi udara yang segar dipagi hari, jendela itu berwarna cokelat sama seperti warna pintu kamar tadi.


Terlihat juga oleh Retno di atas tempat tidur, ada sprei biru bermotif bunga yang memiliki 1 buah bantal ukuran sedang dan 1 bantal guling. Ada juga boneka beruang dan boneka ikan di atas tempat tidur itu. Disitulah Lia kini membaringkan tubuhnya melepaskan lelahnya.


"Jadi ini kamar kamu yaa" Tanya Retno.


"Iyaaa" balasnya sambil duduk.


“Ohhh, Enggak, gak papa, apa yang ada aja keluarin” canda Retno, berusaha menghibur sahabatnya itu, dan ternyata Lia menbalas dengan tersenyum.


“Eh, seriusan kamu dibolehin nginap dirumahku sekarang ?” tanya Lia pada Retno.


“Iyaaaa, tadi aku udah bilang keayahku dan di Izinin lagian rumah kita berdua juga tidak pala jauh kok” balasnya.


“Tapi jujur, Lia” ucap Retno serius. Mendengar itu Lia pun menatapnya menunggu.


“Perasaanku sudah tidak enak sejak kamu tidak muncul-muncul setelah pergi bareng kak Andy tadi.” Ucap Retno. Lia hanya mendengarkan.


Sejujurnya Retno sangat ingin menanyakan apa yang terjadi pada Lia. Namun, Retno takut menyinggungnya dan akhirnya kembali diam.


“Syukurlah kalau kamu tidak papa” sambungnya dan Lia hanya membalasnya dengan senyuman.


“Terima kasih sudah ada disini Re” balas Lia, senyum, kembali memeluk sahabatnya itu.


“Kita kebawah dulu ya, sekalian makan” ajak Lia.


“Terserah apa kata tuan rumah mah” balas Retno yang kemudian mereka berdua meninggalkan kamar Lia.


Retno menatap plafon biru merah jambu yang terlihat sangat indah itu. Terlihat juga jam didinding menunjukkan pukul 10 malam. Disebelahnya ada Lia yang juga sedang berbaring sama sepertinya.


“Lia” panggil Retno.


“hhmmm” balas Lia sambil mencoba memejamkan matanya.


“Kamu pernah melihat Harry menangis ?” tanya Retno.


“Belum, Emang dia pernah menangis ya ?” tanya Lia yang kali ini merubah posisi tidurnya dan kini menghadap Retno.


“Pernah yaak,Cuma mungkin saat itu kamu sedang lagi berbahagia” jawab Retno.


“Maksudmu Re ?” tanya Lia kembali.


“Dimana kamu setelah upacara hari Pramuka ?” tanya Retno, yang membuat Lia berusaha mengingat.


“haaaaaa ?, seriusan disaat itu Ree ?” Ucap Lia seperti terkejut mengingat moment Ia saat bersama Andy.


“Iyaaaaa, Setelah itu Harry dan Agung menghilang beberapa hari kan ?” tanya Retno.


“Iyaa iyaa benar, kenapa dia nangis Re ?” tanya Lia.


“Entahlah, tangisannya begitu deras sampai tersedu-sedu didepan kakeknya Agung” balas Retno.


"Berarti semua orang melihat itu ? kenapa tak terdengar gosipnya" Tanya nya, heran.


“ Ehh Wait" Stop Lia, sebelum Retno mulai membalas pertanyaannya.


"Kenapa kamu tak memanggilku ?” Sambung Lia.


“Aku sudah mencarimu Lia" keluhnya.


"Tapi aku malah berjumpa disaat kamu ngobrol asik dengan Andy” jawab Retno. Yang membuat Lia sedikit terdiam.


“Eh, tunggu" Ucap Retno yang membuat Lia menatapnya


"Coba jujur padaku, Gimana perasaanmu soal Andy ?, Suka kah ? atau Cuma teman ? atau mungkin kalian sudah pacaran ?” tanya Retno yang kini sudah bangun diikuti dengan Lia.


“Cuma teman kok Re, seriusan. Aku tidak ada rasa apa apa padanya. ” jawab Lia.


“Seriusannn ?” tanya Retno kembali.


“Iyaa seriusss, dua riuss bahkann” Jawab Lia jelas.


“Jadi siapa yang kamu sukai Lia ?” tanya Retno.


Pertanyaan itu membuat Lia terdiam, termenung, dan bingung mau membalas siapa. Dia hanya diam berusaha berpikir dan hanya ada satu orang yang muncul di kepalanya.


*****