A Story Of LIA

A Story Of LIA
EMPAT EMPAT



..."Harry, tak apa, kamu disini aja temani Retno, kasian kan dia sendirian di bus, aku tak apa, aku bisa sendiri kok,"...


Harry diam menatap Lia lama, kemudian menolehkan kembali pandangannya kembali ke melihat laut disertai langit yang mulai memerah dan angin yang mengibaskan rambu


tanya.


"Baiklah kalau seperti itu saranmu" ucap Harry.


Kembali ke masa sekarang,


Sudah sekitar sepuluh menit mobil yang dikendarai oleh Intan berjalan. konsentrasinya penuh melihat jalan. sesekali menoleh melihat sahabatnya ini yang merebahkan dirinya namun tetap berusaha untuk menahan kantuknya.


"Mau singgah sebentar ?" ucapnya.


"Boleh, sepertinya harus aku meminum kafein agar mata ini bisa kembali terang, hehehee" Balas Adam dengan sedikit tawanya.


"Baiklah, tapi kali ini giliran siapa yang bayar ya ?" tanya Intan.


"Iya iyaa, aku yang bayar tenang" ucap Adam.


Dengan sigap Intan memacu mobilnya dan kemudian dengan lihat sudah memarkirkan mobilnya.


"Turun" ucap Intan. yang membuat Adam melihatnya.


"Aku kapucino latte yaa" ucapnya Tersenyum tanpa melihat wajah Adam yang kini menatap.


"Siap Pak supir" ucap Adam sambil melepaskan seatbelt mobil. yang mendengar itu Intan jadi menolehnya.


"Heiiiii" ucapnya kesal.


"hahaha becanda" ucap Adam kemudian menutup pintu mobil itu.


berjalan beberapa meter dari mobil, dia berhenti sejenak, kemudian kembali dengan sedikit berlari dan membuka pintu mobil kembali.


" Apa tadi ?" tanyanya


"Cappucino Latte, Are you stupid bro ?" ucap Intan.


"Hahaha, Sorry, I'll remember it." balasnya.


Beberapa menit kemudian Adam kembali dengan membawa dua cup coffe, membuka pintu mobil dan meletakkan minuman itu di atas dasboard dan duduk.


"Ramai didalam ?" tanya Intan


"Banget, pantes lu gak mau turun yaa?" balas Adam


"hahaha Iya, aku melihatnya diinstagram," ucap Intan.


"Nih punyamu, cappucino latte, Dan ini punya ku, Americano" ucapnya memberi Intan minuman yang dipesannya.


"Thank you" balasnya


Terasa aneh dilidahnya, membuatnya heran dan kemudian bertanya.


"Dam, kok rasanya beda ya ?" tanya Intan.


"Eh, seriusan ? coba sini aku rasa." mengambil cup itu dari Intan dan meneguknya.


"Yaelah Tan, ketuker, nih punyamu, untung belum ku minum." Ucap Adam sambil memberikan minuman itu Intan.


"Ookeee, salahmu yah, ngasih yang salah" ucap Intan.


"Iyaa iyaa, eeh tunggu, lu enggak ada penyakittt"


"Apaaan sih Dam" potong Intan sambil memukul lengan Adam.


"Hahahaha, becanda, gitu aja marah," balas Adam


"Ya, kan siapa tahu, kehidupan di sana kan..." ucap Adam menggantung tak bisa melanjutkan candanya karena Intan sudah melototnya dengan rasa amarah yang cukup membuatnya sedikit takut.


"Kenapa ?" tanya Intan.


"Gak ada, gak ada, aku lupa tadi" balas Adam, membuat suasana menjadi hening.


Kedua nya santai menikmati minuman yang mereka beli sambil melihat dari parkiran beberapa orang yang masuk dan keluar dari toko minuman terkenal dan sangat favourite di negeri ini. yang katanya pemiliknya merupakan mahasiswa penerima LPDP juga seperti mereka berdua.


"Perjalanan kita akan memakan waktu sampai satu harian, kamu yakin bisa membawanya ?" tanya Adam.


"Tidak satu harian juga, lagian kita setelah ini bakal masuk ke tol, jadi perjalanan akan lebih singkat." Jawab Intan.


"Aku lihat tadi Tante menitipkan sesuatu padamu ?" tanya Intan,


"Ohhh, Iya, ceritanya tidak sampai selesai tadi. bahkan baru Lia dikelas 2 SMA, masih panjang lagi katanya." balas Adam.


"Iya, tante mu sungguh novelist yang bagus, dia menceritakan setiap kejadian dengan rinci dan struktur banget, tak heran ada karya nya yang menjadi best seller." Adam menjelaskan.


"Jadi gimana ?, do you wanna go back to your town or ?, yaaahh finding this woman." Intan kembali bertanya. Kali ini Adam menghela nafasnya panjang.


"Wanita ini sungguh, aku penasaran dengannya" balas Adam.


"Hmm why ?" Intan membelokkan mobilnya menuju pintu masuk Tol.


"Diusianya yang masih seikitaran 17an orang tuanya meninggal dan Ia sedang berada di jauh di luar kota. Study tour." Ucap Adam sedikit pilu. Intan menoleh kepadanya,


"Seriusan ?" ucapnya.


"Kita masuk dulu, jangan berhenti seperti ini, orang terganggu" Balas Adam yang memang ketika mendengar itu mobil sedang merayap pelan menuju gerbang tol.


"Oke," Balas Intan.


"Akan aku ceritakan setelah kita melewati portal tol ini" balas Adam. Sambil melihat foto lama pemberian Harry.


Kembali ke masa lalu,.


Senja sore di puncak tebing Gembirawati memang memberikan keindahan tersendiri khas dengan 'Beauty of Indonesia'. langit senja, matahari yang terlihat begitu jelas saat tenggelam, dan desiran suara ombak laut dan tawa khas orang orang yang bermain dibawahhya membuat suasana seakan begitu nyaman. Saat ini Lia beserta teman temannnya yang lain sedang menikmati senja itu dengan beberapa cemilan yang dibawa oleh Retno dan Harry.


"Kau yakin menolak seleksi ini bro ?" tanya Randy pada Harry.


"Iya, tapi bolehkah aku merekomendasikan seseorang buatmu ?" tanya Harry balik.


"Siapa ?, apa posisinya ?"


"Agung, penyerang." jawab Harry.


"Ohh oke, permainannya tidak mengecewakan kan ?" tanya Randy memastikan.


"Aku menjaminnya."balas Harry.


"Lia, guru pendamping bus kalian memanggilmu" ucap salah satu siswa,


"Ohh oke" ucapnya sambil berdiri, diikuti dengan teman-teman yang lain.


beberapa menit berlalu sejak Lia dipanggil, kegelisahan terjadi pada Harry. Perasaannya tidak enak. dan melangkah meninggalkan teman teman yang lain yang saat ini menuju bus masing masing untuk kembali ke penginapan.


"HARRY " Teriak Retno, tepat sebelum naik kedalam bus. Harry dengan lari menghampirinya


"Sampaikan ke guru pendamping aku akan naik bus Lia, perasaanku tidak enak" ucapnya singkat.


"Tolong ya" mohonnya tanpa membiarkan Retno membalas perkataannya. Dan berlari begitu saja.


Perasaannya benar, di ujung sana dia melihat Lia termenung, ditemani dengan guru pendamping. Dengan cepat Harry menghentikan langkahnya mengatur nafasnya dan tanpa suara yang pasti Ia menghampiri mereka berdua pelan sambil mendengar pembicaraan itu.


Tapi Lia, sungguh kuat. Dia hanya sesekali mengangguk mendengarkan arahan dari guru pendamping itu, tapi yang pasti Harry telah mengetahui bahwa salah seorang keluarga Lia meninggal, dan Ia diminta untuk menuju ke kediaman duka. Dia harus pulang lebih cepat dari study tour ini.


Akan ada seorang guru yang akan mendampinginya menaiki mobil yang disewa oleh pihak sekolah untuk mengantarnya kesana.


"Izinkan saya ikut menemaninya buk" ucap Harry yang muncul, membuat Lia dan guru pendamping itu menoleh kearahnya.


"Menurut saya, Lia butuh temannya untuk kesana, daripada hanya berdua dengan guru pendamping, ada baiknya saya sebagai sahabatnya untuk ikut menemanimnya" Harry menjelaskan.


"Tidak bisa Harry, kamu harus menyelesaikan study tourmu ini" ucap ibu pendamping tersebut,


"Pihak sekolah sudah membicarakannya dengan keluarga Lia, dan Lia pun sudah menyetujui ini, bukan saya tega membiarkan Lia seperti ini sendiri, tapi kan ada guru yang ikut menemaninya juga" jelas ibu guru pendamping itu.


"Tapi buk, ini soal kedekatan emosional yang sering ibu bahas dikelas kelas" ucap Harry yang mulai mengeraskan suaranya, memaksa untuk ikut.


"TIDAK HARRY" ucap ibu guru tersebut singkat dan jelas.


"Silahkan kamu kembali ke bus kamu, atau saya akan terpaksa menghukummu." tegas ibu guru pendamping itu


"Bu, saya mohon bu" ucap Harry berlutu sambil memegang tangan guru tersebut dan memohon mengizinkannya.


"TIDAK" tegas guru tersebut kembali. Lia yang melihat tersebut memegang bahu Harry dan memintanya bangun.


"Harry, tak apa, kamu disini aja temani Retno, kasian kan dia sendirian di bus, aku tak apa, aku bisa sendiri kok, lagian juga ada pak Eko yang akan menemani ku diperjalanan pulang nanti." jelas Lia


"Tapi Lii, ini beda, aku mendengarnya tadi." balas Harry


"Harry, denger aku, saat ini aku yang paling tahu kondisiku, jadi, kumohon padamu untuk mendengarkan guru. aku tak apa, selesaikan study tour ini. dan biarkan aku pergi, sampai ketemu disekolah nanti" Ucap Lia menjelaskan.


"Sudah pergi sana, kembali ke bus mu, ayoolaahh" paksa Lia dengan membalikkan badan Harry dan mendorongnya pergi.


"Ayo buk, maaf telah merepotkan ibu dan bapak guru sekalian, titip salam saya kepada kepala sekolah yang begitu baik mengirimkan mobil pribadi untuk mengantarkan saya ke kediaman keluarga saya di desa." ucap Lia dan pergi bersama guru tersebut meninggalkan Harry yang berhenti membalikkan badannya untuk sekedar melihat Lia.


"Aku paham senyuman dan tatapan matamu itu Lia" ucap Harry dalam Hati dan segera menyusun rencana.