A Story Of LIA

A Story Of LIA
TIGA EMPAT



..."Baiklah, ceritakanlah disaat kamu siap, jika kamu butuh pendengar, atau bantuan, Aku disini, dan akan tetap menjadi pendengar yang baik untukmu."...


Thalia berserta tiga temannya yang sedang berjalan menyusuri koridor sekolah. berjalan sambil tertawa dan bercanda layaknya teman dekat lainnya.


Mereka bertiga ingin menuju Gor voli. bukan, lebih tepatnya menemani Thalia untuk meminta uang lebih pada kakaknya Lusi.


Sekilas memang, tak sengaja pandangannya menoleh keruang UKS yang dimana Ia lihat ada seorang wanita yang dikenalnya.


Dia pun teringat akan perkataan dari Harry bahwa Lia izin tidak bisa melanjutkan pelajaran dan pergi istirahat ke UKS.


“Tunggu-tunggu, itu Lia kan ?, ” tanya Thalia pada temannya. Yang membuatnya temannya berhenti dan ikut menoleh kedalam ruang UKS.


“Iyaa betul, itu dia. kita kerjai lagi yuk ?,” ucap salah seorang temannya bernama Yona.


“Ohhh, pasti dong,” ucap Thalia, membuka pintu UKS dan masuk bersama kedua temannya.


"Ehh yakin kita bakalan aman, dan gak kena masalah ?" tanya Maya pelan.


“Ssstt jangan berisik, nanti dia terbangun. Kita apakan dia ini ?” ucap Thalia. berjalan pelan mendekati Lia.


Mereka bertiga mulai menjahili Lia kembali, mulai dari Menyembunyikan sepatunya, mematikan kipas, menutup jendela dan tirainya.


Tapi sayangnya disaat mereka sedang asik memikirkan hal apa lagi yang bisa membuat Lia kesusahan nantinya, selain pada akhirnya mereka akan menguncinya.


Harry sudah ada dibelakang mereka bertiga.


dan sebagaimana mestinya, hawa keberadaan Harry begitu terasa oleh mereka yang refleks melihat kebelakang.


"Pergi atau kalian ada dalam masalah, selagi aku belum berubah pikiran" jawab Harry pelan namun terdengar seperti amarah yang sedang ditahan, agar tak membangunkan Lia.


Yona dan Maya menarik tangan Thalia agar mereka meninggalkan UKS, Tapi terlihat jelas ada raut wajah yang tak senang akibat gagalnya rencananya untuk menjahili Lia.


Harry melihat mereka dengan tatapan penuh amarah sampai akhirnya mereka bertiga menutup pintu UKS.


Harry kemudian mencari dan menemukan sepatu Lia, menghidupkan kipas kembali dan merapikan selimut yang sudah terlihat terbuka akibat ulah ketiga teman sekelasnya tadi.


Harry melihat wajah Lia yang begitu polos dan terlelap tidur, dibantalnya terlihat oleh Harry basah tepat dibawah kupingnya.


"Mengapa mereka ingin menjahili wanita sebaik ini" Ucap Harry pelan, lalu pergi duduk di sofa yang berada tak jauh dari tempat tidur Lia.


Membuka buku yang memang telah diambilnya dari perpustakaan untuk dibaca selagi menunggu Lia terbangun.


hampir mendekati empat jam, Jam sudah menujukkan pukul tiga sore.


Matanya terbuka, Ia tersadar, dilihatnya kipas angin yang memutar diatas sana pelan, tapi udaranya cukup menenangkan.


Seorang pria yang dikenalnya dekat sedang duduk membaca bukunya dengan serius, sedikit terlihat penggalan judul dari buku itu Who Am I.


“Kau siapa ?” tanyanya tersenyum, Pria itu pun balas tersenyum.


“Begitukah caramu mengucapkan terima kasih pada sahabatmu ini ?” tanya Harry, menutup bukunya dan berdiri mendekati Lia.


"Haa ?, Kamu siapa ??" tanya Lia balik, membuat wajah Harry berubah.


"Lu gak ingat akuu ?" Harry mulai panik.


"Seriusan, kamu gak ingat aku ?" tanya Harry dengan wajah cemasnya.


"Aku siapa ?" ucap Lia sambil mulai terdengar menahan tawanya. tak bisa berakting lagi. Harry mulai sadar dia dijahili.


"Siapa Aku ?, Kamu siapaa ?" hahahaha," dia tertawa, Harry pun yang awalnya kesal, menjadi tertawa melihat tawa Lia yang lepas.


Harry membiarkan tawanya Lia usai dan tersenyum melihatnya.


"Apa yang terjadi denganmu ?, mengapa kakak kelas seperti ingin mengusikmu ?" Tanya Harry begitu Lia mulai tenang.


"Jam berapa sekarang ?"Tanya nya sambil melihat kesekeliling seolah lupa letak jam dimana.


"Wow jam 3 lewat ?, " ucapnya terkejut. Harry tersenyum melece.


"Kenapa tidak kamu bangunkan aku ?" tanya Lia pada Harry.


"Kebetulan akupun baru datang, dan melihatmu tertidur pulas seperti tadi, tak tega aku bangunkannya" balas Harry.


"Ada masalah apa kamu dengan Thalia dan kelompoknya ? " tanya Harry kembali


"Tidak adaaa, kami baik baik saja kok" Lia mengalihkan pandangannya sedetik, tak mampu melihat mata Harry.


Harry paham itu, tapi Ia tak mau mengoreknya lebih dalam lagi. Lia pasti akan menceritakannya kalau Ia memang siap untuk menceritakannya pada Harry.


"Baiklah, ceritakanlah disaat kamu siap, jika kamu butuh pendengar, atau bantuan, Aku disini, dan akan tetap menjadi pendengar yang baik untukmu." Ucap Harry kembali duduk di sofa tadi.


"Kamu nginap disini ?" Tanya Lia polos.


"Enggak gitu loh Liaa..." balas Adam menggaruk kepalanya, serasa sulit menjelaskannya lebih detailnya.


"Aku paham kok, Terima kasih selalu jadi mood boosterku, Ri.." Balas Lia pelan.


Harry melirik kearah pintu UKS. Sesuai dugaannya, terlihat ada anak baru tersebut mengintip dari jendela dan melihat mereka berdua.


Harry yang mulai curiga, langsung saja berdiri dan bergegas menuju pintu dan membuka pintu itu. Randy yang menguping pembicaraan mereka berdua tertangkap basah ketika pintu dibuka.


Dengan ekspresi yang mematung dia hanya mampu mengucapkan, “Maaf, aku tidak sengaja mendengar kalian.” Dengan diselingi tawa diakhir ucapannya, layaknya anak kecil yang ketahuan orang tuanya memakan Es krim, tapi sudah termakannya dan habis.


Lia pun bangkit dan berjalan menuju pintu ingin melihat siapa disana.


“Ehh si Buaya” ucap Lia melihat dari sela sela badan Harry yang tepat berada ditengah pintu.


“RANDY” ucapnya sedikit kuat.


“R.A.N.D.Y” Jelasnya sekali lagi.


“Ohhh,” Balas Lia.


“B.U.A.Y.A” sambung Lia yang membuat Randy menjadi sedikit kesal, tapi ketika mau menghampiri Lia ada badan Harry disana seolah menjadi bodyguard yang akan melindungi Lia.


“Ayo kita pulang.” Ucap Harry pada Lia yang diikuti anggukan oleh Lia.


“Ohhh kalian berdua ada di DPR, disitu ada Agung dan Dilla.” Ucap Randy.


“Aku mau ke ruang ekskul sepakbola dulu untuk mendaftarkan diriku, sebentar lagi akan ada Liga Pelajar Indonesia” Ucapnya melirik Harry, sorot matanya seperti berucap ayo main bareng lagi.


“Ayo Lia” ucap Harry. dan hanya membalas dengan senyuman pada Randy.


***


Papan mading (Majalah Dinding) ramai oleh siswa ketika Zaki baru saja menempelkan sesuatu disana.


“Ayo lihat itu ?” tanya Lia sambil menarik sedikit baju Harry, Harry yang saat ini berada tepat didepan Lia berhenti ketika ada tarikan kecil dibaju nya.


“Masih ramai, Besok kita lihat ya” ucap Harry.


“Sekarang,..” Pinta Lia yang mengeluarkan jurus andalannya yang ketika melihat wajah iba Lia seperti ini Ia pasti takkan menolaknya.


“Kamu yakin gak papa ?, disitu ramai, seriusan gak papa ?” tanya Harry lagi memastikan.


“Kan ada kamu” ucap Lia tersenyum lalu menarik tangan Harry. membuat Harry tersentak dan hampir tersungkur. Tapi sungguh dirinya merasa amat senang mendengar ucapan Lia.


“Buset, ni cewek punya tenaga seperti ini” ucap Harry terkejut.


“Tunggu woi” ucap Harry yang mulai tertinggal oleh Lia.


Begitu Lia tiba diantara kerumunan, dalam hitungan tak sampai 5 detik, semua siswa menyebar melanjutkan aktivitasnya dan hanya tinggal Lia sendiri didepan Mading yang kini disusul Harry.


“Baguslah, tak perlu berimpitan” ucapnya berusaha untuk berpikir positif.


Harry bukannya tak mendengar perlakuan semua murid pada Lia, tapi Ia memang tak bisa apa apa dalam kasus ini.


Dia memikirkan bahwa jika Ia menolong Lia dengan cara menjelaskan tentang Lia apa adanya atau memaksa seseorang untuk menjadi temannya, itu sama saja bohong dan hanya menghadirkan teman fake Friend's buat Lia.


“Harry !!” teriaknya menghentikan semua pemikiran Harry tentang apa solusi buat kasus Lia ini.


“Study Tour, Yogyakarta” ucapnya dengan mata antusias.


****