A Story Of LIA

A Story Of LIA
SEPULUH



..."Hanya saja kau tak bisa membohongi dirimu sendiri, bahwa terkadang walau ditengah keramaian atau kebahagiaan yang ditawarkan seseorang lain, selama dirinya tak bersamamu, alam bawah sadarmu akan terus menanyakan tentangnya."...


24 Agustus 1989


Tertulis, 'Hari ini Pekan Kreatifitas siswa dimulai namun hingga hari ini, Harry masih belum datang, bagaimana kabarnya sekarang ?'


Air keringat yang menjalar dileher para siswa-siswi kelas sepuluh pagi ini, memang sudah menjadi rutinitas yang tak bisa dihindarkan disetiap senin pagi, kecuali bagi mereka yang kedapatan berbaris di dekat pohon berukuran sedang yang ada dipinggir lapangan utama.


Terdengar aba-aba hormat kepada bendera Merah Putih oleh komandan upacara yang membuat seluruh peserta upacara memberikan hormat kepada bendera, kecuali tiga orang petugas bendera.


Dengan tangan yang sedikit terbuka di ujung topinya, Retno melirik jam tangan miliknya yang menunjukkan sudah 20 menit upacara berlangsung.


Ada tulisan Casio didalam jam tangan itu yang menandakan brand klasik masa itu, namun bukan hal itu yang istimewa, jam tangan ini adalah jam tangan pemberian ibunya ketika Ia lulus dari Sekolah Menengah Pertama.


Disampingnya seperti biasa berdiri sahabatnya yang sedang melakukan hormat kepada pembina upacara, begitu juga seluruh siswa SMA Angkasa kala itu.


Ia tak bisa berbicara soal kejadian tiga hari yang lalu. Ada sesuatu yang menganjal dan tidak enak dihatinya, namun tak bisa Ia ungkapkan kepada sahabatnya itu dan hanya menganggap seolah tidak terjadi apa apa.


“Kamu ada lihat, atau mendapatkan kabar dari Harry Re, ?” tanya Lia,


“Belum Li.” Balas Retno.


“Agung, ada kabar ?” Tanyanya kembali.


“Belum juga”. Balasnya.


"Mereka berdua kemana ya, sejak upacara Hari Pramuka mereka tidak pernah datang, dan tanpa kabar jugaa." Ucap Lia.


Seminggu telah berlalu, dan sejak upacara tersebut, Harry dan Agung memang tidak datang kesekolah, dan tanpa kabar sama sekali, bagaikan hilang ditelan bumi. Namun bukan itu yang membuat retno belakangan ini tampak murung dan sepi.


Namun yang membuat Retno sedikit menjadi sepi adalah kehadiran Andy di hidup Lia yang membuat mereka terasa sedikit merenggang karena semakin hari mereka berdua semakin dekat. Bahkan Andy dan Lia, dua hari ini sudah pergi dan pulang bareng dengan motor milik Andy.


Bukan Retno cemburu, atau ada rasa dengan Kak Andy, tapi yaaaa dia merasa yang biasanya Lia sering menghabiskan waktu bersamanya, kini terbagi dengan Andy, ditambah lagi Agung dan Harry yang ditelan bumi, yang membuat perasaan kian terasaa sepi.


Upacara selesai dan seluruh murid kembali ke kelasnya untuk memulai kegiatan belajar dan mengajar di dalam kelas. Lorong jalan antar kelas ramai dengan siswa yang sedang berjalan menuju kelasnya.


Sebagaimana biasanya kebanyakan dari mereka mengobrol dengan temannya, namun sedikit berbeda hari ini antara Lia dan Retno.


Ada kebingungan hebat dari Retno untuk memulai pembicaraan dengan Lia, tak bisa dipungkiri memang ada tenggang rasa yang terjadi antara Retno dan Lia akibat kejadian di upacara waktu itu.


“Reeeeeee” terdengar suara seorang lelaki dari belakang, terdengar tidak asing sehingga membuat mereka berdua refleks untuk menoleh kebelakang mereka.


“Akhirnyaaaaaaa, merekaa datang juga” ucap Retno dalam hati, karena biasanya dimana ada Agung, disitu ada Harry. Namun sungguh, melihat sahabat yang dirindukannya akhirnya muncul tak bisa dibohongi memang, Ia tersenyum begitu lepas pagi itu.


“Apa kabar kalian ?” tanya Agung setelah sebelumnya sedikit berlari dan menghentikan langkahnya tepat diantara mereka berdua.


“baikk donnggg” jawab Lia.


“Lu kemana ajaa Gung ?” tanya Retno.


“Elu ?, hahahahahha, ada urusan dengan Harry dan ya baru bisa datang sekarang” jawab Agung sedikit terkejut, karena biasanya Retno tak pernah memanggil Elu kepadanya.


“ayo kembali kekelas, ntar dimarahi pulak gara gara tersendat disini. Ayooooo !!!” sambungnya sambil mendorong kedua sahabatnya untuk berjalan kembali.


“Kemana Harry, Gung ?” tanya Retno.


“urusannya belum selesai, tapi mungkin besok sudah bisa sekolah, tadi kakekku juga sudah bicara ke dewan guru dan kepala sekolah terkait ketidakhadiran kami berdua.” Balas Agung.


“hmmm okelaah” balas Retno.


“Eh, aku sempat lupa, gimana acara lomba 17an ? seru ?” tanya Agung setelah mereka bertiga duduk dikursinya masing masing.


“Tapi seperti nya nanti di jam bu Liza kita bakal tentuin siapa siapa saja yang akan mewakili kelas kita” sambung Retno.


“hhhhmm......, Ok.” Balasnya singkat,


“Jadi tan, ada urusan apa harry dan Agung sampai gak masuk sekolah selama seminggu, bahkan hari seminggu lebih ?” tanya Intan menghentikan cerita tantenya.


“iyaa jugaa mba, kenapa ya mba ?” tanya Adam kembali.


“Ok, mba dapat tahunya urusan mereka itu saat Pekan Kreatifitas Siswa itu, Agung yang cerita.” Jawab mba Retno.


“ Kalian mau mba ceritakan sekarang ?, atau pas kami masuk di Pekan Kreatifitas Siswa ?” tanyannya kembali sambil memberi pilihan kepada mereka berdua.


“Oke sesuai aplikasi aja mba” balas Adam membuat Intan dan mba Retno terheran.


“Maksudnya, sesuai alur cerita aja mbaaa....” lanjut Adam berusaha menghilangkan kebingungan dua wanita ini.


Jam istirahat, seperti biasa mereka bertiga berjalan menuju kantor mereka di DPR (Dibawah Pohon Rindang) tak banyak percakapan yang mereka lakukan, simple saja beli membeli minuman lalu duduk di DPR.


“Setelah ini bu Liza yang masuk kan ?” tanya Agung.


“iyaaa, Lu dah siapin PR kan ?” tanya Lia


“udah mah, tadi aku ngerjainya pas pertama masuk tadi, liat punya Retno.” Jawab Agung.


“Lia, aku dengar, Do you have a boyfriend ?” cetus Agung.


“lu denger dari siapaa Gung ?,” tanya Lia terkejut, namun Agung hanya menunjukkan ekspresi seperti tidak tahu.


“Enggak, kami CUMA teman deket”jawab Lia


“Deket, seperti kami ?” tanya Retno,


“ohhh, enggak juga, tak ada yang bisa menyamai kalian, tiada duanya pokoknya “ jawab Lia,


“Hhmmmmm okee”, jawab Agung.


*****


“Udara pagi dibandung 1989 tiada duanya, udaranya yang sejuk, dan masih segar tanpa polusi udara yang berarti di era seperti sekarang ini selalu aku rindukan.” Ucap mba Retno. memulai kembali cerita ini.


Pagi itu seperti biasa, Retno berjalan setelah turun dari Angkutan umum menuju sekolah. Tampak olehnya sahabatnya Lia, kini berhenti didepan tak pala jauh darinya, dia turun dari motornya Andy dan menghampiri Retno sambil tersenyum.


“Ayoo,,,,” ucapnya dibalas dengan senyuman oleh Retno sebagai bentuk setuju.


Suasana sekolah saat ini sedang ramai ramainya, masing masing siswa sibuk mendekorasi kelasnya, ada yang sudah dari semalam sore bahkan. Hal ini tak lain dan tak bukan menyambut salah satu event Pekan Kreativitas Siswa dimana lomba dekorasi kelas menjadi salah satu lomba yang cukup bergengsi.


Atas instruksi ketua kelas Bayu, Ruang kelas Sepuluh Enam disulap menjadi seperti Ruang kelas gaya KONFERENSI berbentuk U rapi dengan ketebalan satu baris di masing-masing sisi dan dua baris ditengah serta guru tepat di depan dan tak jauh dari papan tulis.


Untuk memudahkan siswa masuk, dibentuk gang seukuran 50 cm setelah dua meja. Selain itu jenis lomba dibagi atas individu dan kelompok yang dimana semuanya memiliki point di tiap mata lomba, yang nantinya berguna untuk penghitungan juara umum.


Berdasarkan hal tersebut, atas dasar pemikiran dan diskusi dengan beberapa perangkat kelas, dan walikelas, terpilihlah siswa dan siswi yang akan mewakili Sepuluh Enam. Retno akan berpartisipasi di lomba puisi dan cerpen, Lia mewakili di pidato dan cerdas cermat, Agung dan Harry di sepak bola. Khusus Agung, dia mendapatkan peran Chef utama di lomba masak.


“Dengan ini saya nyatakan Pekan Kreativitas Siswa dibuka” Ucap pak Sufrizal selaku kepala sekolah sekalian pemukulan gong yang disambut meriah oleh siswa dan guru SMA Angkasa. Kecuali satu Orang, Bayu.


Dia masih berpikir siapa yang bisa menggantikan Sarah di posisi cerdas cermat dan debat antar kelas. Sarah tidak bisa hadir dikarenakan demam tinggi yang dideritanya. Hal ini membuat Bayu harus memutar otak memilih siapa yang bisa menggantikannya.


“Re, Harry masih belum datang ya ?” Tanya Lia pelan setelah seluruh ke riuhan tepuk tangan siswa.


“Entahlah Li, tadi kutanya Agung, Agung pun bilang tak tahu” jawab Retno.