A Story Of LIA

A Story Of LIA
ENAM BELAS



..."Hanya saja kau berhak mencintai siapapun, namun tak berhak memaksa orang untuk mencintaimu"...


Hari kedua Pekan Kreatifitas Siswa, hampir sama seperti jadwal sebelumnya. Hari kedua ini masih banyak perlombaan cabang olahraga maupun seni. Namun lomba olahraga beregu rata-rata sudah mencapai babak semifinal dan lomba seni hanya tinggal lomba melukis, menyanyi dan kaligrafi.


Untuk pagi ini ada lomba bulu tangkis tunggal putra, catur, menyanyi, pidato bahasa Inggris, dan kaligrafi. Kelas X-6 mengirim Lia di pidato, bayu di bulutangkis, Anwar di kaligrafi, catur akan diwaliki oleh Gita, dan menyanyi akan dibawakan oleh Ratna.


Retno, Agung dan Harry kini berada di tempat biasa mereka berkumpul, di DPR. Lia melarang mereka bertiga untuk melihatnya karena malu dan mungkin akan membuatnya tidak fokus di lomba.


Sebenarnya mereka bisa melihat Ratna ataupun teman yang lain tapi, dari DPR ini kita bisa mendengar suara nyanyian peserta, untuk lomba yang lain butuh konsentrasi tinggi.


Praktis tinggal badminton, yang jika dibayangkan melihat bayu, muncul rasanya malas saja. Dan lebih nyaman duduk kumpul di DPR ini. Selain itu, mereka bertiga bisa bercerita lebih banyak hal, termasuk cerita Agung selama di Quebec matanya begitu antusias menceritakan pengalamannya diluar negeri saat itu.


“Gung, Ayo kita lihat Lia. “ Ucap Harry.


“Haa ?, Bukannya Lia melarang ?” balas Retno.


“Iya Ri ? bukannya dilarang ?” tanya Agung balik.


“Ya, jangan keliatan, tidak papa, kita lihat dari jauh dan sembunyi sembunyi saja “ balas Harry.


“Disini kita cuma dengar suara lagu yang kurang mengenakan ini “ sambungnya.


“Udah ayokkk” paksa Harry sambil menarik Agung, yang membuat Retno mau tak mau mengikuti mereka.


Ruangan yang digunakan untuk lomba pidato adalah ruangan rapat dewan guru yang berada dilantai 2 dengan tiga meja utama berisi dewan juri dan satu mic didepan menghadap dewan juri. Terdapat sebanyak 18 kursi dimana bangku itu terbagi dua sisi. Dimana masing masing sisi terdapat 3 shaf dan 3 baris.


Beruntungnya mereka karena belum giliran Lia.


“Aprillia Navilia, Kelas Sepuluh Enam, dengan pidato yang berjudul How to be a Great Leader” panggil panitia pertanda bahwa sudah masuk gilirannya.


Didepannya sudah ada 3 juri yang siap menerkamnya, terlihat juga ada bu Rita disisi kiri yang artinya Ia adalah juri lomba ini.


“Seingatku, judul Lia bukanlah itulah ??” ucap Retno sambil mengingat-ingat.


“aku pernah dengar, bukannya waktu itu ia bicara soal Teknologi ?” Jawab Agung.


“Haaaa, Iyaaa” balas Retno, melihat Harry yang kini hanya tersenyum melihat Lia.


“Kenapa lu tersenyum Ri ?” tanya Retno.


“Kalian benar, Lia mengganti topiknya berarti, hahahahha” balas Harry.


“Lah ??, jadi kapan dia menggantinya Ri ?” Tanya Retno balik


“Feelingku bilang, saat dilihatnya bu Rita ternyata juri” jawabnya.


“Bukannya makin sulit Ri ?”tanya Agung.


“mengganti topik pidato dihari H lomba itu memang sangat fatal, tapi kalian tahu yang dibicarakan Lia saat ini ?” tanya Harry yang dibalas gelengan dari kedua sahabatnya itu.


“Itu, topik pembahasan yang sering kami debatkan ketika menerjemahkan buku yang ditugaskan bu Rita,” Jawab Harry tersenyum.


“Aku yakin dia mau menunjukkan ke bu Rita bahwa dia telah menyelesaikan terjemahan itu lebih cepat dan sudah menguasai isi buku itu” sambungnya.


“Tapi, pidato gak semudah itu loh, ya kan ?” Tanya Agung balik.


“Benar, kita cukup percaya saja ke Lia, ya kan Re ? “ tanya Harry ke Retno.


“ssssttttttt, aku lagi fokus, sulit mendengar dari sini, dan dia pakai bahasa Inggris” balas Retno.


“Tenang Reee...” balas Agung.


“Ni, bocah yang akan menerjemahkan untuk kita.” Sambungnya sambil merangkul Harry.


Tujuh menit waktu yang dibutuhkan Lia untuk mendeskripsikan isi kepalanya kepada para juri.


Tujuh menit itu dibagi atas 2 menit untuk pembukaan dan penutup dan Lima menit isi.


Berdasarkan isi yang diterjemahkan oleh Harry, Agung dan Retno jadi paham bahwa ada 7 pilar penting yang bagi seorang pemimpin yang inspiratif yaitu Mampu mengekspresikan hal hal positif, Memberikan apresiasi terhadap tim, Mempunyai visi yang jelas, Selalu mendengarkan dan memberikan respon yang tepat, Mampu berkomunikasi dengan baik, Jujur dan sangat dipercaya, Dan yang terakhir memiliki passion yang kuat.


Mereka bertiga kini sudah sampai di homebase mereka di DPR. Mereka segera meninggalkan ruangan agar tidak kelihatan Lia. Namun Harry terlihat sedikit murung, seperti ada yang dipikirkannya.


“Lu kenapa murung Ri, apa yang lu pikirkan ?” tanya Retno yang melihat ekspresi tidak sedang dari Harry padahal dia baru saja melihat Lia dan dia juga yang memaksa mereka untuk melihatnya.


“ooohh iya, kita bakalan jumpa kelas 12 ya ?” tanyanya.


“Iya, salah satu lawan yang cukup kuat juga” balas Harry.


Sebenarnya, bukan hal itu yang membuatnya menjadi murung, saat lomba tadi, Ia tidak sengaja melihat Lia dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan melihat Andy yang kebetulan juga berada didalam, tersenyum manis kepada lelaki itu.


Hal itulah yang membuatnya bertanya-tanya mengapa Ia melarangnya untuk melihat sedangkan Andy, Ia malah tersenyum seperti it. Pemikiran seperti ini yang membuatnya terlihat berekspresi seperti saat ini.


“Aku ketoilet dulu ya” ucap Retno yang dibalas anggukan oleh mereka berdua.


****


Retno yang baru saja keluar dari toilet tidak sengaja melihat Lia dan Andy sedang berjalan bersama tertawa dan begitu dekat.


“Reeee” teriak Lia, kemudian melihat Andy dan berbicara sedikit dengannya, terlihat sebuah anggukan dari Andy yang kemudian Lia sedikit berlari kearah Retno meninggalkan Andy.


“Mau kemana Re ?“ tanyanya begitu tiba.


“biasa, markas, yokk, ada Agung dan Harry disitu” ajak Retno, yang dibalas senyuman dan mereka kembali berjalan.


“Bahagia sekali Yakk ?” tanya Retno.


“Tadi, bu Rita memujiku, karena pidato yang kubawakan” jawab Lia.


“Ohhhh, gituu” Balas Retno.


“iyaaaaa,, jarang jarang loh bu Rita muji seperti itu” sambung Lia kembali.


“Iyaa Liaaa iyaaa, hahahaha” balas Retno ikut bahagia melihat sahabatnya itu.


Namun tak bisa dipungkiri ada yang tak enak dihatinya, ada yang menganjal melihat sahabatnya dengan kakak kelas itu. Dan berfirasat bahwa mereka berdua sudah bukan sekedar teman, atau kakak adek kelas, mungkin Lia sudah punya pacar dan Harry, bagaimana perasaannya setelah ini.


“Eh kok diam aja sih, melamunin apa ?” tanya Lia yang membuat lamunan Retno buyar.


“Entahlah yakk, tiba tiba terpikir sesuatu gitu, tapi yaa it’s ok,” balasnya.


Dibawah pohon sana sudah terlihat Agung dan Harry seperti berdiskusi dengan mencoret coret kertas yang berada diantara mereka.


“Ohh sudahh balik ?” tanya Agung.


“Pantes lama, oohh bawa tuan putri ternyata" sambung Agung sambil tersenyum


“Apaan sih Gung” balas Lia.


“Eh, kayak kenal bukunya” ucap Lia. Terlihat ekspresi Harry yang mulai bergerak menjauh.


Melihat ekspresi Harry yang mulai menjauh dan Agung yang kebingungan, Lia langsung mengambil buku itu dan melihat sampulnya.


“Tuuuhhh kannnn bukuuu kuuuu” Ucap Lia, terdengar Harry yang mulai tertawa, dan Agung yang berekspresi seperti tidak tahu apa-apa.


“Harryy sini kamu” ucap Lia kesal melihat Harry mencoret coret bukunya, Harry yang tertawa membuat Lia mengejarnya.


“Satu dua tiga dicoba” Terdengar suara mic dihidupkan dan suara orang mengetes mic tak lama setelah itu. Namun Lia dan Harry masih belum berhenti bermain kejar kejaran.


“Retno bantu aku” pinta Lia ke Retno yang saat ini duduk melihat mereka berdua berlari mengelilinginya. dan hanya tersenyum membalas Lia.


“Pengumuman, pengumuman” mendengar ini Lia berhenti begitu pula Harry padahal tangan Lia sudah menggenggam baju Harry, tepatnya dibahunya.


“Berikut ini tim cerdas cermat yang berhasil masuk final” ucap mic tersebut.


“kelas Dua belas Ipa tiga, posisi kedua Dua belas IPS Satu dan yang terakhir lolos ke final Sepuluh Enam”


“yeeeehhhhhhhhhh” teriak Lia bahagia sambil melompat lompat dan langsung memeluk Harry.


“Harry kita ke finaallllll,, yeeeeee” ucapnya. Namun Harry hanya diam mematung, tidak menyangka bahwa Lia akan memeluknya.


Beberapa detik kemudian, Lia tersadar tindakannya dan melepas pelukan itu. Dan melihat Harry yang mematung yang ekspresinya tak bisa dijelaskan. Lia adalah wanita pertama yang memeluknya setelah ibunya.


“yeee kita berhasil” ucap Lia mulai mengontrol dirinya, lalu mengambil bukunya yang terjatuh dan menarik Retno meninggalkan Harry.


Retno hanya tersenyum melihat wajah sahabatnya ini memerah.