A Story Of LIA

A Story Of LIA
EMPAT TIGA



..."Kita akan menuju ke tempat wisata terakhir hari ini. yang lainnya jangan lupa nanti untuk menyiapkan laporan perjalanan studi tournya masing-masing"...


Patung atau arca yang di depan Lia dan Randy ini bernama Bhumisparca Mudra. Arca ini menghadap timur dan menjadi tanda khusus bagi Dhyani Buddha Aksobhya sebagai penguasa timur.


Dengan santai Lia menjelaskan itu pada Randy seolah memang dia mengetahui betul maksud mengapa patung ini dibuat seperti ini.


"Lihat sikap patung ini," ucap Lia


Sikap tangan sedang yang menghadap kebawah dengan tangan kiri terbuka dan mengadah dipangkuan, sedangkan tangan kanan menempel pada lutut kanan dengan jari-jari menunjuk kebawah.


"Sikap patung ini melambangkan saat sang Buddha memanggil Dewi Bumi sebagai saksi ketika dia menangkis serangan iblis Mara." ucapnya.


"Ohhh gitu" Balas Randy.


"Ehh, tunggu, mengapa aku seterbuka ini dengannya ?" tanya Lia dalam hati.


"RANDY, AYO KITA HARUS BALIK SOALNYA AKAN KETEMPAT SELANJUTNYA" Teriak kakak kelas padanya.


"BAIKLAH" balasnya.


"Ayo Lia" ucap Randy.


dan Lia membalasnya dengan sebuah anggukan.


Setelah mengambil beberapa foto yang sebagai kenang kenangan. Mereka berdua pun naik ke dalam bus yang memang perlahan mulai terisi oleh para siswa lainnya.


"Kita akan menuju ke tempat wisata terakhir hari ini. yang lainnya jangan lupa nanti untuk menyiapkan laporan perjalanan studi tournya masing-masing" ucap kakak alumni yang memang menjadi tour guide bus ini. terlihat juga ibu guru pendamping tersenyum kagum padanya.


Kembali ke masa sekarang, di ruang tamu tempat Adam mendengarkan cerita dari mba Retno.


Sudah terdengar kokok ayam dan jam pun sudah menunjukkan pukul empat pagi. menandai bahwa hari telah pagi. Intan pun mulai terbangun dari tidurnya masih melihat Adam dan mba Retno masih bercerita tentang masa lalunya.


“Sepertinya cukup sampai disini saja aku bisa menceritakannya kepadamu Dam. Tapi terlepas dari itu semua, aku juga sudah menyiapkan beberapa orang yang mungkin bisa engkau temui untuk mendapatkan informasi yang lebih tentang Lia ini.” Ucap mba Retno diikuti helaan nafasnya.


“Terima kasih mba telah mau menjelaskan hingga selarut ini, maaf juga telah “merepotkan mba terkait hal ini.” Balas Adam.


Intan yang sudah bangun, mengucek mukanya seraya merapikan hijabnya dan kemudian berjalan menuju kamar mandi.


“Tan mau ngapain ?” tanya Adam.


“Ya mandilah, siap-siap, mau subuh ini.” Jawab Intan.


“Ooh oke, yang bersih biar agak wangi dikit” canda Adam.


“ Ya pasti dong, tentu saja ” balas Intan dan langsung meninggalkan mba Retno dan Adam.


“Kamu juga cepat beres-beres Dam, kebetulan orang yang akan kamu temui ini tidak jauh dari kediaman Intan.” Ucap mba Retno.


“Seriusan mba ?” tanya Adam kembali.


“Hahahaha, Iyaaa” jawab mba Retno.


“Tapi mba, sebelum itu, ceritakan dong akhir dari study tour tadi, pasti Lia cerita kan sama mba, makanya tahu detail kejadian di prambanan dan borobudur” ucap Adam yang membuat mba Retno tersenyum.


“Ini bukan cerita yang bagus sih, tapi baiklah akan kuceritakan” jawab mba Retno.


Kembali kemasa lalu, Lia dan Randy yang kini sedang tertidur saling bersender menopang tubuh mereka berdua. Hentakkan akibat polisi tidur membuat mereka terbangun dan kembali merapikan posisi duduk mereka.


Di luar jendela bus sudah terlihat lautan biru yang menandakan bahwa pantai sudah dekat. Lia tersenyum melihatnya.


“Liyaak, lebih suka laut atau gunung ?” tanya Randy dengan panggilan seperti sahabat sahabat nya memanggilnya. Lia tanpa menoleh dengan tenang mengatakan tentu saja laut.


“Mengapa ?” tanya Randy kembali. Tapi Lia tidak menjawab sama sekali, seolah tak mendengar apa yang Randy tanyakan.


Maksud hati ingin mengulang pertanyaannya lebih dekat ke kuping Lia agar terdengar, Lia malah menoleh kearahnya, langsung saja wajah mereka begitu dekat, Lia melihat bola mata biru yang dimiliki Randy langsung teriak dan refleks menampar pria di depannya.


Tentu saja bus saat itu langsung heboh dan terkejut atas teriakan Lia, termasuk supir bus yang hampir saja kehilangan konsentrasinya dalam mengemudi.


“Ada apa Lia ?” tanya bu guru pendamping dari kursinya didepan.


“Tidak ada apa-apa bu, maaf,” ucap Lia dengan raut wajah yang menyesal. Randy pun langsung berdiri dan ikut meminta maaf atas keributan yang terjadi. Lalu duduk kembali pada kursinya.


“Apa yang kau lakukan?” Tanya Lia dengan nada kesal. namun berbisik.


“Aku tadi sudah menanyakan, mengapa ?, tapi malah diam saja yaudah aku bermaksud untuk menannyakannya didekat kupngmu biar terdengar.” Randy berusaha menjelaskan.


Kembali kemasa sekarang.


“Seriusan mba ?, Randy ditampar begitu saja ?” tanya Adam.


“Hahahah Iya, mba pun ketika mendengarnya ikut tertawa” balas mba Retno.


“Tapi yaa, bagian setelah ini mungkin yang membuat study tour ini menjadi hal yang tak bisa di lupakan oleh Harry.” Jelas mba Retno, disertai dengan dirinya yang kembali mengehela nafasnya.


Adam yang melihat itu serasa paham kalau ini bagian yang mungkin berat diceritakan.


“Kalau berat yaudah mba, ndak papa ndak usah diceritain” ucap Adam.


“Bukan,baiklah akan coba kuceritakan” ucap mba Retno.


Kembali ke masa lalu,


Wisata pantai Parangtritis ini, berada tepat di selatan Kota Yogyakarta. Wisata ini mempunyai jarak sekitar 27 Km dari pusat Kota Yogyakarta. Berdasarkan informasi yang Lia terima dari Majalah tour wisata, waktu terbaik untuk mengunjungi tempat ini memang pada saat sore hari, yaitu pada saat terbenamnya matahari.


Pemandangan sunset atau yang dikenal dengan matahari terbenam ini, memang cukup memikat dan panorama bibir pantai yang sangat mempesona menjadikan lokasi wisata ini sangat sayang sekali untuk dilewatkan.


Disinilah Lia, Randy, Harry dan Retno berdiri tepat diatas tebing, jika dilihat kesana, terlihat dengan jelas pemandangan pantai dari atas tebing yang letaknya persis berada di belakang pantai ini.


"Lia, apa nama tempat ini ?" Randy kembali bertanya mengikuti langkah Lia yang sedang mencari tempat duduk yang nyaman untuknya.


""Hmm,Tebing Gembirawati." ucap Lia kemudian duduk. Harry dan Retno saling tatapan, seolah mengatakan sejak kapan Randy jadi selengket ini dengan Lia. kemudian Retno dengan ekspresi dan tangan yang bergerak membuat subuah gestur yang mengatakan 'entahlah'.


"Disana !" Tunjuk Lia yang membuat mereka bertiga melihat ke arah yang ditunjuk Lia.


"Kenapa dimanakan tebing Gembirawati, jika kita kesana, kita akan menemukan sebuah reruntuhan Candi yang diberi nama oleh masyarakat sekitar dengan Candi Gembirawati. Letak itu candi berada di sebelah timur tebing Gembirawati dan jarak dari bibir pantai hanya beberapa meter saja."Jelas Lia,


"Liaaaa, darimana kau tahu semua ini ?" tanya Retno.


"Membaca Dong"Balas Lia bangga.


"Ehh, maksudku sampai sedetail ini ?" tanya Retno kembali.


"Seriusan, aku baca, di majalah tertulis seperti itu," Balas Lia kembali.


"Tapi, Kenapa nama pantai ini Parangtritis ya ?" Tanya Randy,


"Wait, sabar yakk," tahan Harry melihat Lia akan menjelaskannya.


"Ini terdapat di buku sejarah, biar aku yang menjelaskan."Jawab Harry, diikuti dengan anggukan ketiga temannya yang lain.


"Nama Parangtritis sendiri mempunyai kisah tersendiri," ucap Harry mengahayati.


"Dimana kisah ini bermula pada masa kerajaan Majapahit. Konon katanya pada jaman itu ada seorang pangeran yang melarikan diri dari kerajaan dan datang ke tempat ini berniat untuk bersemedi." Ucap Harry bangkit dan berdiri mantap menatap matahari yang perlahan mulai men jingga.


"Nama pangeran tersebut adalah Pangeran Dipokusumo. setelah dia melakukan semedi dia melihat tetesan air yang berasal dari cela-cela karang, karena kejadian tersebut dia menamai kawasan itu menjadi Parangtritis."


"Waahhh, tumben Ry ? kamu suka sejarah ?" tanya Lia,


"Tentu saja, otakku kan cerdas" Balasnya.


"Tapi Lia, Aku punya sahabat, dan sangat dekat dengannya,"


"Lebih dekat dari kami ?"Tanya Lia balik pada Harry yang kini menatap Lia tanpa menghiraukan kedua temannya yang lain.


"Iya". balas Harry singkat.


"Lalu ?"Tanya Retno.


"Aku mencintainya" Sambung Harry. yang membuat teman lainnya pun terkejut mendengar pengakuan Harry.


"Terus masalahhya dimana ?"Tanya Lia setelah menenangkan diri nya.


"Aku bingung apakah harus menyatakannya atau tetap menyimpannya, karena kurasa kalian pun paham, persahabatan yang kemudian salah seorang jatuh cinta, hanya ada kecanggungan dan akhirnya menjadi asing dan jauh" balas Harry sambil tertunduk.


"Bagaimana menurutmu ?"tanya Harry kembali.


"Entahlah, tapi kalau aku, dominan untuk terus menyimpannya, karena dalam kasusmu hanya sepihak saja yang mencintai, sedangkan yang lainnya tidak."


"Bukankah lebih bagus kalian tetap seperti ini saja ?" sambung Lia kembali diikuti dengan anggukan teman-teman yang lain.