
..."Dalam melakukan sesuatu, nomor Satu, kamu hanya perlu mengerahkan segalanya. Soal hasil itu urutan kesekian"...
Lia kini terduduk di pinggir lapangan. Dengan keringat yang masih bercucuran di tubuhnya, dan nafasnya yang masih terengah-engah. Ia melihat botol minum yang ada disampingnya, meminum, lalu mengatur nafasnya kembali. Terdengar juga sorak bahagia tim kelas XII yang telah berhasil menang dramatis.
Sebuah handuk biru kini mendarat tepat dikepala hingga menutupi pandangannya. Dia terdiam sejenak menahan emosi didalam dirinya.
Dengan sedikit kesal karena risih Ia tarik handuk itu dan akhirnya lepaslah handuk itu dari kepalanya dan kini berada tepat dikakinya.
Ia melihat seorang pria yang sudah di kenalnya, perasaan campur aduk seperti apa ini, dia tak mengerti.
Pria itu menurunkan tubuhnya terlihat seperti jongkok, namun tangan kanannya bertumpu pada lutut dan wajahnya kini sejajar dengan pandangan Lia.
Pria itu tersenyum lebar, menenangkan hati Lia yang memang sulit dipahami olehnya.
"Permainan yang bagus Lia" Ucapnya.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik" sambungnya.
"Mendengar hal itu, tak kuasa Airmatanya jatuh." Sudah lama memang Ia tak merasa seperti ini, walau hanya bermain sebagai pemain pengganti, namun Ia melihat dan mendukung tim sejak awal penyisihan.
"Harry, Lia " Teriak Retno. mendengar teriakan itu refleks harry mengambil handuk itu dan meletakkannya kembali ke kepala Lia hingga menutupi wajahnya. Dan Harry memberikan isyarat tunggu dan dipahami dengan baik oleh Retno.
Retno melihat kearah bangku penonton, Wajah Andy terlihat tidak menyenangkan, namun Ia tidak bisa apa apa hanya berusaha senyum ketika teman kelasnyaa merayakan kemenangan tim mereka.
*****
Retno kini sedang berada di Aula utama tempat berlangsungnya lomba masak. Setiap kelompok unjuk kebolehan akan kemampuan memasaknya termasuk Agung. Agung yang memang terkenal masakannya enak di perkemahan menjadi kepala koki dari tim kelas X-6.
Bahan utama dari masakan kali ini adalah beras, jagung dan ubi. Sehingga kalau sudah ada beras maka kebanyakan dari tim akan menjadikan nasi sebagai bahan utamanya.
"Bagaimana lomba disini ?" tanya Harry yang datang bersama dengan Lia.
"Itu Agung sedang meracik makanan Ala pramuka katanya." balas Retno.
"hahahaha, itu tandanya Dia akan menang " ucap Harry.
"kenapaa gitu ?" Tanya Lia.
"Kalian sudah pernah belum merasakan masakannya ?" tanya Harry balik.
"Belum" jawab mereka serempak.
"Oke nanti aku akan minta dia buat masakin kalian." jawab Harry.
"Masakannya dijamin Top, apalagi setelah dia bilang Ala Pramuka, Nasi, Garam, dan beberapa cabai saja jadi muantep banget dibuatnya" sambung Harry.
Tangannya begitu lincah menggunakan pisau, layaknya seorang tentara bayaran yang sedang menggunakan pisau menakhlukan lawan.
Namun, raut wajahnya kini terlihat bingung, Riska dan Wina sebagai asisten Agung terlihat mencari sesuatu. Akhirnya memberitahu Agung. Sekilas Agung terlihat makin panik yang membuat kami sebagai penonton bertanya-tanya apa yang terjadi.
Masih dengan kebingungan yang sama, sudah hampir 5 menit mereka berhenti, dan terlihat Wina seperti mengalami sesuatu. Yang membuat Agung dan kedua temannya makin berpikir keras, lalu tiba tiba Agung tertawa.
Dia lihat Harry, Lia dan Retno sudah datang menontonnya, Ia lambaikan tangannya ke sahabatnya itu. Agung lalu keluar dari area masaknya, berjalan menemui juri kepala, sedikit berbicara lalu ada anggukan dari juri tersebut, lalu iya bergerak menemui Penanggung Jawab lomba, lalu berbicara dengannya. Lalu menghampiri Lia dan kawan-kawan.
“Wina tak bisa melanjutkan lomba, ada masalah dengan dirinya. Tapi aku sudah bicara dengan juri dan panitian, aku bisa menggantinya. Re, mau gak bantu ikut masak ?” Ucapnya.
“Tapi aku tak pandai masak Gung, yang lain aja gimana?” jawab Retno.
“Kita tak punya banyak waktu lagi nih, Mau ya, Ayoo” Agung langsung menarik Retno diikuti dengan sedikit terkejutnya Retno. Ia jumpai juri dan panitia, dan menuju meja lomba kembali.
“Sepertinya diperbolehkan” ucap Lia
“Iyaa, Lihat saja mereka sudah memulai” balas Harry.
*****
“Gung, apa yang harus kukerjakan ?” tanya Retno.
“Bisa motong bawang gak ?” tanyanya sambil mulai membuat bumbu khas miliknya.
“Bisa, kalo itu aku sering bantui mamaku” balas Retno.
“Yaudah kupas dan potong bawang putih dan bawang merah ini, lalu tumbuk hingga halus” perintah Agung.
“Riska, Kamu fokus ke es Jagungnya ya”ucap Agung.
Kurang lebih sudah 15 menit berlalu sejak Lia tiba disini. Nasi yang adam masakpun sudah matang dan Ia pun mulai memindahkannya terlebih dahulu ke sebuah piring yang cukup besar.
Ia uraikan nasi tersebut dan terlihat ada Asap tanda nasi masih panas. Ia ambil seperti mangkok berjaring, dan dia tutup nasi tersebut agar tak dihinggapi lalat.
Ia masukkan minyak ke dalam wajan, dia tunggu sebentar, lalu mengambil telur dan menuangkan telur tersebut kedalam wajan dengan hati hati agar telur memiliki bentuk yang rapi.
Retno kini mulai memisahkan jagung dengan bijinya yang telah direbus terlebih dahulu.
“Re, agak lebih cepat sedikit.” Ucap Agung yang kini mulai memasukkan seperempat bumbu kedalam wajan yang telah berasap.
Tercium aroma bumbu masakan yang enak ketika Agung coba mengadukknya dan beberapa menit kemudian Agung memasukkan nasi tersebut sebanyak seperempat dari jumlah yang disiapkan lalu mengaduknya.
Terlihat kedua tangannya begitu lihat menggunakan wajan ini, dengan tangan kiri yang memegang wajan menggunakan sarung tangan dan tangan kanan yang terus mengaduk, membuat suara khas yang sangat menggoda mata untuk melihatnya dari dekat.
“ Re, Gimana jagungnya udah siap ?” tanyanya sambil terus mengaduk.
“Belom masih tinggal beberapa lagi” balasnya
“Mana yang sudah ?” tanya Agung.
“Itu” tunjuk Retno menggunakan isyrat pandangan matanya.
“Oke sudah bisa itu, terus pisahkan ya” ucap Agung yang kemudian mengambil jagung tersebut dan memindahkan didekatnya.
Tak lama berselang, Ia mulai memasukkan sepenuhnya nasi tertinggal mengaduknya dan memasukkan kembali bumbu bumbu yang tersisa dan jagung yang sudah diselesaikan oleh Retno tadi. Dengan tangan yang lincah Ia aduk nasi dan bumbu tersebut hingga merata.
“Re, Coba kupas ubi yang sudah aku rebus itu, lalu potong kecil sebesar penghapusmu.”perintah Agung. Yang langsung dilaksanakan oleh Retno.
“Riska gimana minumannya ?” tanya Agung.
“Sudah siap ni” balas Riska
“Oke, ada meja didepan kita, coba untuk ditata dan diapainlah, lupa aku” Perintah Agung yang sedikit tidak jelas namun dipahami oleh Riska.
Dengan kecap yang ada ditangannya dan cabai giling yang telah iya siapkan dari awal dari. Iya padukan keduanya hingga didalam satu wajan. Dengan suara dentingan wajan dan sutilnya terdengar hingga kearah penonton.
“Segini udah pas ukurannya ?” tanya Retno.
“ Lebih kecil lagi Re, seperti dadu kalo bisa” perintah Agung yang langsung dikerjakan Retno tanpa mengeluh.
“oke ini udah” balas Retno beberapa menit kemudian. Agung langsung menerimanya dan memasukkan ubi tersebut kedalam nasi itu. Dan mengaduknya.
“Apa enak Gung ?” tanya Retno melihat hal gila yang dilakukan Agung. Namun Ia membalas dengan senyuman.
“Nanti kamu rasain ya” ucapnya.
Terlihat Agung menyiram nasi tersebut dengan sebuah minyak kemudian mengaduknya dengan teknik yang belum dilihat orang orang yang membuat nasi itu terbakar.
“Waawww” ucap Lia
“Apa gak gosong tuh nasinya ?”tanyanya
“Enggak, Agung ahli begituan lihat saja” balas Harry.
Nasinya telah selesai, Ia memindahkan nasi tersebut dan membaginya kedalam 3 piring. Dan Retno refleks membawa piring tersebut ke meja hidangan yang telah disiapkan Riska dari tadi.
Terlihat Agung merasa puas dan mulai membersihkan area masaknya tadi dan tak lama dibantu oleh Retno. setelah bersih, Terdengar aba aba dari panitia bahwa waktu tersisa 5 menit lagi.
Agung dengan tenang menghampiri meja hidangan kelas X-6.
“Apa lagi yang kurang Gung “ tanya Riska sambil tersenyum puas dengan hidangannya.
“Cuma sedikit kok, sendoknya harus seperti ini, dan minumannya letak seperti ini. piring yang satu lagi bawa kebelakang untuk kalian berdua” ucap Agung.
Dimeja hidangan terletak dua piring dengan nasi goreng buatan Agung yang keduanya tidak terlihat terlalu banyak, dan juga tidak terlihat sedikit. Ditemani mata sapi, tomat dan daun seledri hidangan lebih terkesan mewah. Dengan dua lilin yang disediakan dan dihidupkan memberikan kesan ROMANTISME pada hidangan kali ini.
Terlihat dari jauh, mereka bertiga yang sedang menjawab dan melihat juri merasakan minuman dan masakan mereka.
"Gimana bro, aman ?" tanya Harry
"Sejauh ini aman, cuma paling kelas XII IPA 3 dan IPS 1 yang mungkin bisa menandingi kita." jawab Agung.
******