A Story Of LIA

A Story Of LIA
TUJUH



..."Bukan hanya karena kamu dimaafkan, bukan berarti kesalahan yang kamu buat menjadi benar, kamu harus menerima konsekuensi terhadap apa yang terjadi. "...


Bunyi suara bel sirine yang terdengar dua kali, menandakan waktu istirahat tiba. Masih terasa pegal menyelimuti kedua kaki Retno namun berusaha untuk tidak terlalu terlihat oleh Lia.


Lia sendiripun kini berusaha menebus rasa salahnya dengan mengajak Retno ke kantin dengan maksud membelikan minuman atau cemilan yang dijual di kedai mbok Darmi.


Ketika mau mengajak dua orang lelaki yang dibelakangnya, ternyata mereka sudah tidak ada dan ikut dengan rombongan teman teman lainnya.


“Mbok, ini lima dan minuman ini empat mbok” Tanya Lia sekalian langsung memberi minuman itu ke Retno.


“Banyak amat Li ?” tanya Retno sedikit heran dengan minuman yang cemilan yang cukup banyak dan Lia hanya merespon dengan senyuman khasnya.


“Ohh, iya neng dua ribu” ucap mbok Darmi, yang kemudian Lia mengeluarkan uang dari sakunya.


“mbok, tadi ada lihat Harry dan Agung kesini ndak...?” tanya Lia kembali,


“hhmmmm, yang mana ya...?” tanyanya


“yang siswa berkelahi di hari pertama sekolah” jawab Lia,


“ohhhh diaa, belum ada mbok liat dia dari tadi neng,” jawab si mbok yang kemudian Lia dan Retno pamit.


****


“Mungkin langit sedang bersedih hari ini” ucap Harry kesahabatnya yang saat ini menyandarkan tubuhnya ke batang pohon yang besar itu.


“Kenapa gitu ri, ?”tanyanya.


"Itu, lihat awannya bergerak ke arah kemari, awan yang sedikit hitam, mungkin disana sudah hujan.“ jawabnya.


“Iya juga” balas Agung.


"Kenapa kau harus keluar juga tadi ?,padahal kan tdi udah ngeluarin catatan..” tanya Agung memecah keheningan yang terjadi beberapa menit yang lalu.


“Kau lihat gadis itu gung,”sambil mengarahkan wajahnya ke wanita dua wanita yang sedang berjalan di lorong sekolah. Dan Agungpun melihatnya.


“Aku penasaran dengannya, terlihat kuat namun terlihat begitu lemah pula” jawab Harry


“kau ingatkan betapa garangnya dia menantang Zaki waktu mos ?, Matanya penuh keberanian.


Tapi lihat pagi tadi, tangannya gemetar. Padahal hanya karena tidak membawa buku catatan.” Sambung Harry yang diikuti dengan anggukan dari Agung.


“Rii lihat mereka kemari,”ucap Agung.


“santai saja.”ucapnya.


Lia yang sudah tahu bahwa akan menemukan Harry disini, segera duduk dibawah rindangan pohon besar di halaman sekolah dan diikuti dengan Retno dan meletakkan semua bawaannya.


“ini cemilan dan minuman buat kita” ucap Lia.


“seriusan ini ?,”tanya Agung yang kemudian sudah tidak bersandar lagi.


“iyaaaa” balas Retno.


“nih, minumanmu” ucap Lia sambil menyodorkan minuman tepat diatas wajah Harry. Yang memaksa harry jadi bangkit dan menerima minuman itu.


“Terima kasih ya, dan maaffff......., kalian jadi ikut dihukum karenaku” ucap Lia,


“gak papa kok, santai saja, toh hukumannya belum tahu, kita masih harus menjumpainya setelah pulang sekolah nanti, santai saja”balas Agung yang kemudian diikuti anggukan oleh Retno juga.


Angin sepoi yang kadang datang, dan diikuti dengan suasana langit yang sedikit adem, menjadikan suasana begitu damai di bawah pohon itu.


Tak banyak hal penting yang mereka obrolkan di bawah pohon itu, namun yang jelas, Harry, Agung, Lia, dan Retno semakin mengenal satu sama lain.


“Wahhhhh, serasa piknik keluarga kalau berada dibawah pohon itu ya ?” tanya Adam memotong cerita nostalgia mba Retno.


“ya begitulah Dam,”jawabnya. Tak terasa memang sudah hampir dua jam Adam berada dirumah ini. dan hujan pun sudah turun beberapa detik yang lalu, kemudian semakin lebat turunnya.


Sebelumnya Retno melanjutkan ceritanya, terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah mba Retno dan membunyikan klaksonnya.


“ Siapa itu mba ?”tanya Adam Refleks.


“ Mungkin saudara, soalnya anak saya masih di Australi melanjutkan S2 nya, dan suami saya sedang dinas di cirebon.”


“ Sebentar ya,” ucapnya bangkit dan menuju keluar menerima tamu tersebut. Terdengar suara wanita yang suaranya tak asing bagi Adam.


“ Ada tamu ya tan ?” ucap wanita itu. Yang membuat adam refleks melihat ke arah pintu.


“Jangan bilang Intan, please jangan bilang Intan.” bisik Adam pelan.


******


"Ada sedikit urusan disini, dan seharusnya aku yang nanyak, lu ngapain disini ?" tanya Adam balik.


"Lah, ini rumah tanteku kok" balasnya.


"Jadi mba Retno tantemu ??"


"Iyaaa, lu taukan sebelum pisah di gedung Danadyaksa ada yang nelpon aku, nahh, tante ini yang nelpon, mumpung lagi di jawa, singgah dahulu dan nginep disini dulu."


"Dan papa pun yang malah menyuruh nginep" sambungnya.


"Ooohhh gituuu" balas Adam.


"Iyaaaaaaa, tapi wait, lu manggil tante ku Mba ?"


tanya Intan balik.


"yaaaa iyaaaa, mba Retno yang nyuruh mah, karena kami satu sekolahan dulu"


"Seriusan ?, mba gak pernah cerita soal sekolahnya dulu ke aku." ucap Intan.


"Yaaa, mana ku tahu,hahahaha" balas Adam.


"Ternyata kalian berdua saling kenal toh.."ucap mba Retno sambil membawa ceret berisi Teh hangat.


"Teman sejak SMA mba" Balas Adam.


"Oooohhh gitu" balasnya


"Mba, lanjutin cerita tadi mba" pinta Adam.


"Cerita apaan dam ?" sambung Intan


"Cerita masa muda mba Retno lah" sambung Adam.


"hahahahah, baik-baik, sampai dimana tadi ?"tanyanya.


"Duduk dibawah pohon besar" ucap Adam sedikit antusias.


"Oohhh iyaa.. oke"


******


Mereka berempat kini sudah berada diruang kelas, sedang melaksanakan ulangan dadakan pertama yang dilaksanakan oleh pak Marwan, Guru Sejarah saat itu.


Praktis ujian berlangsung dengan tertib dan lancar. terdengar bel sirine dua kali yang menandakan saatnya pulang, dan seluruh siswa mengumpulkan dengan rapi kertas ulangan mereka kedepan.


Harry dan Agung akan berlatih ekskul sepakbola Lia dan Retno karena tidak ada kegiatan disekolah, mereka berencana belajar bareng di perpustakaan daerah.


Tapi sebelum itu mereka berempat harus bertemu dengan bu Rita karena kelalaian yang mereka perbuat tadi pagi.


Kini, mereka berempat sudah berada diruang guru sembari mengucap salam lalu masuk dan berdiri bersaf rapi di depan buk Rita.


Dengan ceramah panjang kali lebar, cerita dari sabang sampai merauke, pada akhirnya setelah berceramah hampir satu jam bu Rita memperbolehkan mereka untuk pergi.


"Lia, kamu tetap disini." panggil bu Rita kembali. yang sontak mendengar hal itu mereka berempat berhenti dan Lia membalik menghampiri bu Rita kembali.


"Kamu mengapa masih disini Harry ?" mendengar hal itu Lia sedikit terkejut dan melihat pria yang kini telah sampai di sampingnya.


"Tidak papa bu, hukuman Lia, hukuman untuk saya juga, toh saya juga tidak bawa buku catatan kan buk" ucap Harry yang membuat bu Rita tersenyum. namun ekspresi Lia terlihat sedikit kesal.


" Ini ada buku yang ibu minta kalian terjemahkan dengan baik" ucap bu Rita sambil mengeluarkan buku yang berada dilacinya. buku itu terlihat masih baru dan berjudul, On becoming A Leader karya Warren B Bennis.


"Seriusan buk ?" ucap Lia yang wajahnya mulai terlihat antusias


"Iya, ibu minta kamu menerjemahkannya bersama Harry, buku ini tebalnya sebanyak 222 halaman, dan ibu minta sebelum ujian semester ganjil kalian sudah menyelesaikannya." ucap bu Rita dengan wajah meyakinkan.


"Siapp buk" sambut Lia dengan cepat.


"Ni anak kenapa ya, cepat amat berubahnya" ucap Harry dalam hatinya.


Setelah memegang buku tersebut, Lia dan Harry segera meninggalkan ruang guru tersebut.


"Lah mba ?, kenapa gak balik nemenin Lia Waktu itu ?" Tanya adam memotong cerita mba Retno


"Iya tan, kenapa tante malah membiarkan Lia dihukum bersama Harry ?" sambung Intan yang ikut mendengatkan cerita ini.


"Sebenarnya kami berdua diluar ruang guru waktu itu, karena kita tidak membawa tas, mba menyuruh Agung untuk membawa tas kita berempat. Tapi ya sambil menunggu, mba juga menguping mereka sih,,, hehehe..." ucapnya.