
..."Aku akan mendapatkan Hatinya"...
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, masing-masing dari anggota seven pillar menjalankan tugasnya dengan usaha terbaik yang mereka punya.
Dan seperti yang sudah di prediksi oleh Harry, isu bahwa Lia merupakan calon ketua osis menyebar dengan cepat layaknya sebuah wabah yang menjalar menyebar tak terhenti.
Tapi, sepertinya rencana yang dibuat oleh Harry, tercium dengan cepat oleh Zaki. Zaki sendiri mempunyai penerus yang memang sudah ditunjuknya agar kekuasaannya bisa lebih lama dengan maksud menggunakan orang yang ditunjuknya sebagai boneka yang bisa Ia kendalikan dari belakang.
Tapi, bukan Zaki namanya kalau dia bukan cerdas dan licik. Ia memanfaatkan isu yang berkembang dengan cepat ini, untuk menjadi senjata melawan atau bahkan mungkin menjatuhkan Lia dengan mudah.
Cara nya adalah dengan menambahkan sedikit bumbu kejadian masa lalu soal Lia yang merebut pacar Lusi, Andi. Dan soal bagaimana Ia menggoda anak baru Randy saat study tour Yogya.
Disamping itu Zaki juga semakin memberikan posisi pada Erick untuk lebih sering tampil dan memberikan image yang baik agar layak dan memanfaatkan rekomendasi dua ketua osis sebelumnya Andi dan dirinya agar Erick punya suara yang sangat kuat di pemilihan osis nanti.
Harry yang sadar bahwa isu yang coba Ia bangun coba di counter oleh Zaki, mengumpulkan kembali seluruh personil Seven Pilar untuk mengatur strategi berikutnya.'
Dan inilah yang membuat mereka saat ini berkumpul dengan mengorbakan semua kegiatan lain yang harus nya mereka lakukan dengan teman satu eksul nya.
"Ada apa Ri ?" Tanya Lia,
"Kita ganti rencana." ucapnya pelan sambil berpikir rencana melawan isu negatif yang muncul seiring isu mencuatnya Lia sebagai calon ketua osis.
Selain itu teman-teman yang lain juga syok padahal baru dua hari, sudah ada rencana lainnya,
"Kenapa di ganti bro ?" tanya Randy, yang lagi-lagi kali ini duduk disamping Lia.
"Hmmm, rencana kita di ketahui oleh Zaki, aku tak menyangka dia bisa membaca role map yang sudah aku rancang, kita ke plan B" ucapnya sambil membentangan kertas karton panjang agar bisa di lihat oleh yang lainnya.
"Tapi sebelum menulis rencana ini, aku ingin kalian mendengarkan sebentar" Ucap Harry.
"Andy, dan Zaki atau mungkin senior osis lainnya bakal mendukung Erick sebagai penerus ideal dinasti mereka, kita akan melawan ini." ucapnya terhenti, menghela nafas kembali.
"Dan jika kalian tahu, kemungkinan besar 60 persen suara bakal dipegang oleh Erick. Mengingat kelas XII bakal mendukung dan mendengarkan Zaki. Untuk rencana program yang sudah mencuat itu tidak akan membantu sama sekali, atau mungkin hanya bisa memperoleh suara sekitar 3 Persen."
Ucapnya yang membuat yang lainnya semakin heran, bagaimana pria ini membaca pergerakan secepat ini, padahal masa kampanye juga belum, tidaklah masa kampanye, pendaftaran ketua osis pun bahkan belum mulai.
"Harry ini mungkin hanya pikirmu saja" ucap Anggun. yang membuat teman teman yang lain menoleh padanya.
"Hahaha, kamu benar ini anya pikirku saja, tapi buat Lia, Agung dan Randy mungkin sudah tahu akal bulusku seperti apa. kau bisa tanyakan pada mereka ini" balas Harry. Sadar akan salah kata yang di pilihnya untuk menenangkan yang lainnya, membuatnya hanya tertunduk seolah bersalah.
"Terima kasih Ang, aku mengerti maksud dan niatmu, tapi, yakinlah padaku kalau kita teruskan rencana ini, ini malah menjadi boomerang untuk kita, jadi bagus dihentikan saja, yang terpenting isu ini mulai mencuat dan pastinya akan berdampak buat langkah kita berikutnya" ucap Harry, menghibur Anggun yang merasa Ia salah kata.
"Jadi apa yang harusnya kita lakukan ?" tanya Agung.
"Ri, bagaimana kalu kita pending aja dulu kegiatan sampai penutupan pendaftaran ketua osis, lalu kembali kumpul dan atur rencana kembali setelah pendaftaran ini ditutup ?" Lia menawarkan.
"Baiklah Lia, tapi, ada satu hal yang mengangguku" ucap Harry.
"Aku tak menyangka bahwa laki-laki yang pernah mendapatkan tinju ku itu ternyata secerdas dan selicik ini" ucap Harry.
"Riii, maaf" potong Anggun kembali.
"Iyaa kenapa ?" balas Harry
"Tadi di awal kamu bilang ganti rencana, aku pikir kamu sudah menemukan solusinya, terus ada satu pertanyaan yang muncul di kepalaku, boleh aku bertanya ?" tanya Anggun kembali
"Boleh lah" balas Harry singkat
"Yakin, kamu gak akan marah kan ?" tanya Anggun kembali, membuat yang lainnya tersenyum dan beberapa ada yang tertawa termasuk Harry
"Hahahahaa, maaf soal yang tadi Anggun, kamu langsung takut begitu, aku takkan marah kok, tanya kan sajaaa, maaf sekali lagi ya, aku tadi sedikit terbawa emosi" jelas Harry
"Baiklah kalau begitu, darimana kamu dapat informasi semendetail dan serinci ini ?, kamu juga bahkan tahu itu dari Zaki, padahal baru juga Dua hari kita jalankan rencana kita." tanya Anggun, membuat lagi-lagi Harry tersenyum
"Saat itu aku sedang di kamar mandi, biasalah membersihkan kamar mandi, lalu secara tak sengaja karena dari jauh melihat Zaki dan Andy menuju kamar mandi yaudah aku bersembunyi" jelasnya.
"Nah, aku mendengar obrolan mereka berdua dengan jelas, termasuk terkait pencalonan mantan pacarnya Lia yang membuat Andy tidak setuju, marah, dan mengatur siasat dengan Zaki untuk menjelekkan Lia, dengan membongkar semua keburukanmu" ucap Harry kali ini melihat ke Lia
"Kamu tidak ada rahasia besar dengan Andy kan Lia ?" Lia terdiam sebentar, matanya sekilas lari melihat mata Harry lalu tersenyum dan berkata
" Ya enggak lah, urusan kami sudah selesai semenjak Ia tamat" balas Lia. Harry mengerti, ada yang disembunyikan Lia tapi sekarang bukan hal yang tepat membicarakan itu di depan teman teman yang lain. akan Ia tanyakan pada lain waktu.
"Baiklah, dari situ aku tahu rencana kita sudah terbaca, untuk Lia cukup jangan terpancing emosi ketika ada isu buruk yang muncul tentangmu, berusaha untuk tetap tenang, dan aku mohon jangan tampilkan tatapan sinis penuh kebencian itu lagi" Pinta Harry padanya dan Lia mengangguk.
"Baiklah itu saja pertemuan kita kali ini, kalian juga bisa langsung menuju ke tempat ekskul kalian, dan satu lagi jangan sampai apa yang kita bicarakan bocor, " Ucap Lia mengakhiri pertemuan ini.
Langit mulai menggelap ketika mereka menyelesaikan pertemuan mereka. Harry pun yang harusnya pergi ekskul sepakbola malah memilih untuk mengellilingi sekolah, sambil berpikir alternative rencana untuk memenangkan Lia.
Pada akhirnya, langkahnya terhenti di depan Gor, melihat Lia yang berada di pinggir lapangan bersama dengan ekskul voli putri. Dia baru ingat kalau saat ini ada laga persahabatan dengan sekolah lain.
Dia pun berjalan menaiki anak tangga dan melihat langsung pertandingan itu, Ia melihat Rambut Lia yang dikucir dan style volinya yang cukup terlihat padu dengan warna kulitnya.
"Cantik sekali" ucap seseorang yang tiba tiba duduk disebelahnya.
"Cantik sekali kan bro ?" ucap Randy. Harry hanya nyengir membalasnya.
"Aku akan mendapatkan Hatinya" ucap Randy yang membuat Harry melotot kearahnya.
"Heee kawan, santai, kau ada perasaan untuknya ?, eh atau memang kau suka padanya ya ?" ucap Randy yang membuat Harry merasa risih dan malu
"Ehh apaan, kami cuma sahabatan, cuma itu" balasnya.
"Yakinn" tanya Randy kembali
"Yakinlah, cuma sahabatan saja, tidak lebih" ucapnya pelan lalu menundukkan kepalanya menyesal akan ketidakberanian dia menerima kenyataan atas perasaannya.